Oleh Muhammad Subhan
TAHUN 2011 saya sudah menyiapkan naskah novel berjudul Cinta Regu Badak, tapi novel itu hingga kini belum rampung juga. Setelah novel Rinai Kabut Singgalang terbit pada tahun yang sama, saya justru lebih dulu menyelesaikan novel Rumah di Tengah Sawah yang pada 2017 terpilih di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Bali dan kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka (2022).
Kelemahan saya adalah tidak bisa terburu-buru dalam menulis novel. Cinta Regu Badak—yang berkisah tentang petualangan anak-anak Pramuka pada masa SMP saya di Aceh di pertengahan era 1990-an—memberikan kesan mendalam yang membekas hingga kini. Banyak kenangan suka, duka, kisah dan kasih, serta segala keluh kesah mewarnai rancangan novel itu. Setiap kali peringatan Hari Pramuka tiba, saya kerap teringat dan hanya mampu menuntaskan beberapa halaman saja.
Banyak hal yang ingin dijemput ke belakang, banyak hal yang ingin dituliskan. Novel itu barangkali akan tebal melebihi Rumah di Tengah Sawah atau Rinai Kabut Singgalang. Itu pun jika kelak tuntas.
Seorang kawan yang ahli desain grafis pada tahun itu menawarkan diri untuk membuatkan sampulnya. Ia memberi beberapa alternatif rancangan. Sebagai pendorong semangat, saya terima tawaran kawan itu—meski tentu saja, sebelumnya telah saya sampaikan bahwa desain tersebut belum final. Suatu hari nanti, ketika naskahnya siap diserahkan ke penerbit, nasib novel itu beserta sampulnya biarlah menemukan takdirnya sendiri. Namun, atas inisiatif kawan yang baik itu, saya mengucapkan terima kasih.
Pramuka berjasa besar dalam perjalanan hidup saya. Jika bukan karena Pramuka, saya mungkin tetap menjadi sosok yang introver, pendiam, penakut, pemalu, kurang percaya diri, dan tidak pernah berani tampil di muka umum. Melalui kegiatan Pramuka, perlahan seluruh rasa takut itu saya enyahkan. Apalagi saat itu saya tumbuh dalam keluarga bertaraf ekonomi terbatas dan bersekolah dengan segala keterbatasan, hingga sering kali merasa minder ketika berhadapan dengan teman-teman sebaya dari keluarga yang lebih mampu.
Pramuka mendobrak dan menggembleng mental saya untuk menjadi sosok yang berani, kritis, dan berjiwa pemimpin. Berkat penggemblengan itu, di masa sekolah saya dipercaya menjadi wakil ketua regu, pemimpin regu, pengurus OSIS, wakil ketua kelas, ketua kelas, hingga pemimpin redaksi majalah dinding (mading) dan pengelola majalah sekolah cetakan stensil.
Saya berterima kasih kepada kakak-kakak senior Pramuka di sekolah kami, baik kakak kelas maupun para alumni. Mereka melatih kedisiplinan, menanamkan pentingnya menghargai waktu, dan mengajarkan agar tidak mudah menyerah pada keadaan. Satu hal yang paling mendasar, para senior itu tak jemu mengingatkan agar kami pandai mengutarakan rasa terima kasih. Jangan berat lidah mengucapkannya sebagai bentuk penghargaan atas apa pun yang diterima atau diberikan oleh orang lain.
Selain para senior, saya sangat dekat dengan seorang pembina Pramuka yang juga staf Tata Usaha (TU) di sekolah kami, Pak Agus namanya. Saat itu beliau belum menikah meski usianya tidak muda lagi. Saya sering diberi tugas membuatkan daftar nama guru pada papan besar yang dipajang di ruang guru. Beliau sangat baik kepada saya. Bahkan, ketika tamat SMP, beliaulah yang memberikan sedikit bantuan biaya agar saya dapat mendaftar ke SMA, di tengah situasi sulit saat keluarga saya tidak memiliki biaya dan wilayah Aceh sedang dilanda konflik.
Pada hari pertama bergabung dengan Pramuka di sesi perkenalan anggota baru, saya digembleng oleh senior bernama Kak Rudi. Ia alumni SMP kami yang berasal dari Medan. Suaranya lantang ketika berteriak, badannya tegap berisi, dan tatapannya tajam sehingga kami semua segan kepadanya. Dialah yang menyebut bahwa regu Pramuka laki-laki dinamai Regu Badak dan perempuan Regu Padi. Nomor Gugus Depan (Gudep) kami adalah B. 073—074.
Dalam barisan, satu regu terdiri atas sepuluh orang dengan urutan tinggi badan teratas di posisi paling depan. Saat itu tubuh saya kurus jangkung. Seorang teman bernama Andi juga sama tingginya, sehingga saya dan dia bergantian berdiri di barisan terdepan. Sementara itu, anggota regu paling belakang bernama Said, bertubuh kecil dan pendek, tapi ia yang paling ceria dan suka tertawa. Regu kami dipimpin oleh Dian Dharma Prayudha, dan sesekali saya menggantikannya sebagai wakil pimpinan regu (pinru).
Jadwal latihan Pramuka kami berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu. Selain latihan baris-berbaris, kami juga mendalami sandi Morse dan Semaphore. Keterampilan ini wajib dikuasai karena sering diperlombakan dalam kegiatan perkemahan, baik Perjusami (Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu) maupun Jambore. Kegiatan yang paling kami sukai adalah penjelajahan (hiking) melintasi rimba dan perbukitan. Saat hiking, kemahiran membaca peta dan kompas menjadi hal mutlak agar tidak tersesat di perjalanan.
Saat berkemah pada malam hari di lingkungan sekolah, fisik dan mental kami kerap diuji melalui kegiatan Jurit Malam. Di tengah lelapnya tidur di dalam tenda, kami dibangunkan untuk berbaris di tengah lapangan dengan mata tertutup, lalu diminta berjalan secara mandiri ke luar area sekolah dan harus kembali pada waktu yang telah ditentukan. Di tengah kegelapan malam, kami disebar ke beberapa titik lokasi. Meski dibayangi cerita rekaan yang menakutkan, kami dilatih untuk tidak berbalik arah atau menyerah.
Semua ujian fisik dan mental tersebut berhasil kami lalui dengan baik. Keberhasilan gemblengan ini terbukti dari jajaran piala yang diraih: dalam berbagai perlombaan Pramuka tingkat kota, kabupaten, provinsi, hingga nasional, Regu Badak dan Regu Padi sekolah kami langganan membawa pulang gelar juara. Kami merayakannya dengan melempar baret dan topi Pramuka ke udara bersama-sama. Saat itu belum ada media sosial, yang ada hanya kamera manual berklise. Namun, kegembiraan yang terpancar sungguh murni dan mendalam.
Pantai Perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Lari pagi tiap hari
Jalan jongkok setengah mati
Yang gendut jadi kurus lagi…
Itulah salah satu yel-yel yang kami nyanyikan dengan riang gembira untuk membakar semangat saat latihan maupun sebelum maju ke panggung perlombaan. Masa-masa itu terasa begitu berharga dan berkesan.
Ketika terjadi perubahan kebijakan—seperti terbitnya Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 yang menempatkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler pilihan (tidak lagi wajib sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 63 Tahun 2014)—banyak pihak yang merasa prihatin. Kendati regulasi tersebut tidak menghapus keberadaan Pramuka dan bertujuan memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih kegiatan sesuai minat, kebijakan ini berpotensi menurunkan daya tarik serta partisipasi siswa terhadap Pramuka.
Padahal, secara historis dan kelembagaan, Pramuka merupakan gerakan kepanduan yang diakui negara sebagai pilar pembentukan karakter bangsa. Gerakan ini hadir tidak hanya di sekolah, tapi juga di lingkapan kementerian dan lembaga pemerintah.
Sebagian pihak mungkin berargumen bahwa model kedisiplinan Pramuka terkesan ketat atau bahwa kegiatan ekstrakurikuler harus sepenuhnya berlandaskan kesukarelaan. Argumen tersebut tentu relevan dalam konteks kebebasan memilih. Namun, perlu disadari bahwa nilai-nilai utama Pramuka—seperti kemandirian, ketahanan mental, dan kerja sama tim—justru paling efektif ditanamkan melalui pengalaman kolektif yang terstruktur.
Salah satu intisari Pramuka terletak pada kegiatan perkemahan. Melalui perkemahan, siswa belajar mengurus diri sendiri, memasak, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyelesaikan persoalan secara mandiri tanpa bergantung pada orang tua. Pengalaman lapangan semacam ini sulit digantikan oleh pembelajaran di dalam kelas atau ekstrakurikuler lain yang menitikberatkan pada aspek akademis semata.
Pramuka adalah wadah yang menempa kepribadian siswa melalui pendekatan yang mengombinasikan kedisiplinan, ketangguhan, empati, dan kebersamaan. Pembentukan karakter ini bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan praktik nyata yang membentuk akhlak dan kesiapan mental anak dalam menghadapi tantangan zaman.
Kita perlu mengapresiasi keberadaan Pramuka karena peranannya sangat membantu tugas orang tua dan pendidik dalam menempa generasi muda. Gemblengan Pramuka melahirkan pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan siap menjadi generasi “pilih tanding”.
Semoga Pramuka terus mendapatkan dukungan regulasi yang kuat dan tetap menjadi pilihan utama penanaman karakter anak bangsa di sekolah. Salam Pramuka! []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

























































