PADANG PANJANG, InsertRakyat.com — Mengasah imajinasi anak tidak selalu harus dilakukan melalui buku. Di SDN 02 Padang Panjang Timur, siswa belajar menuangkan cerita, pengalaman, dan imajinasi ke dalam bidang gambar melalui pelatihan “Gambar Bercerita” yang didampingi dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung pada 19 Agustus hingga 12 Oktober 2026. Tim pengabdian diketuai Drs. Harisman, M.Si., dengan anggota Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., Elvis, S.Sn., M.Sn., Hamzah, S.Sn., M.Sn., dan Jeki Aprisela, S.Sn., M.Sn.

Ketua Tim Pengabdian, Drs. Harisman, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari permintaan Kepala SDN 02 Padang Panjang Timur untuk memberikan pengetahuan dan pembinaan kesenirupaan serta bercerita secara berkesinambungan kepada siswa.

“Pembinaan ini khususnya diarahkan pada pelatihan gambar bercerita bagi murid SD,” ujar Harisman.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengajarkan keterampilan menggambar. Siswa juga dibina untuk memahami berbagai teknik dan konsep gambar bercerita yang dapat menjadi sarana mengolah rasa, karsa, dan cipta.

“Anak-anak dilatih menyerap nilai-nilai estetika yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pada periode pengabdian kali ini, tema yang dipilih berkaitan dengan suasana Hari Kemerdekaan. Siswa diajak menginventarisasi berbagai objek visual yang dapat dieksplorasi dan dituangkan ke dalam bidang gambar.

Objek tersebut antara lain bendera Merah Putih, suasana perlombaan, permainan, kemeriahan perayaan kemerdekaan, panjat pinang, serta berbagai bentuk keriangan yang mereka temui di lingkungan sekitar.

Harisman menjelaskan, objek visual tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerita sederhana yang mudah dipahami anak. Dengan demikian, gambar yang dihasilkan tidak sekadar menampilkan bentuk dan warna, tetapi juga memiliki alur cerita.

Anggota tim pengabdian, Hamzah, S.Sn., M.Sn., mengatakan tema kemerdekaan dipilih sebagai salah satu media untuk memancing kreativitas siswa. Meski demikian, anak-anak tetap diberi ruang untuk menentukan bentuk dan objek sesuai imajinasi masing-masing.

“Tema ini dapat menyesuaikan dengan keinginan peserta pelatihan untuk mengekspresikan bentuk sesuai imajinasi dan ide masing-masing anak,” ujar Hamzah.

Dalam pelatihan, tim memilih teknik pewarnaan berbasis kering menggunakan pensil warna, pastel, dan krayon. Teknik tersebut dinilai relatif mudah diterapkan oleh siswa sekolah dasar.

“Pewarnaan dengan teknik ini tidak terlalu sulit bagi anak didik tingkat sekolah dasar. Mereka tidak perlu mengaduk cat seperti pada pewarnaan berbasis cat air maupun cat minyak,” katanya.

Harisman berharap pembinaan tersebut dapat menjadi ruang bagi siswa yang memiliki minat dan bakat dalam seni gambar bercerita untuk terus mengasah keterampilan.

Ia juga berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengikuti berbagai perlombaan seni rupa, termasuk Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) dan kompetisi seni lainnya.

Sementara itu, anggota tim pengabdian, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai seni rupa. Siswa juga diperkenalkan dengan kekayaan cerita rakyat yang bersumber dari kearifan lokal Minangkabau.

“Cerita rakyat dan kearifan lokal Minangkabau dapat dijadikan sumber ide untuk menghasilkan karya gambar bercerita,” ujar dosen Seni Teater yang juga sastrawan tersebut.

Guru Kelas SDN 02 Padang Panjang Timur, Rosi Darma, S.Pd., menyambut baik kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen ISI Padang Panjang tersebut.

“Terima kasih kepada Bapak dosen dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang yang telah hadir di tengah kami dalam rangka kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk belajar menggambar bersama siswa kelas IV SD,” kata Rosi.

Menurut Rosi, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi siswa. Antusiasme anak-anak, katanya, sudah terlihat sejak mereka mengetahui akan belajar langsung dari dosen yang memiliki keahlian di bidang seni.

“Kegiatan ini sungguh meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan manfaat yang luar biasa besar bagi kami,” ujarnya.

Ia mengatakan, sejak awal anak-anak terlihat antusias. Ketika diberi tahu bahwa mereka akan belajar bersama dosen seni, rasa ingin tahu siswa semakin besar.

“Mata mereka tampak berbinar penuh rasa ingin tahu dan bersorak gembira. Apalagi menggambar bercerita adalah kegiatan atau pelajaran yang sangat disukai oleh anak-anak,” tutur Rosi.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal seni, mengembangkan imajinasi, serta menemukan potensi kreatif mereka sejak bangku sekolah dasar.

Penulis: Soeryadarma Isman
Editor: Muhammad Subhan