Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

SASTRA sejatinya harus dekat dengan masyarakat. Sebab, yang ditulis sastrawan adalah realitas kehidupan masyarakat dengan segala dinamikanya. Sastra bukan untuk dibaca dan dinikmati kalangan sastrawan saja.

Pun begitu, pertemuan-pertemuan sastra sejatinya tidak semata dari dan oleh sastrawan untuk sastrawan. Pertemuan-pertemuan sastra harus dari dan oleh sastrawan untuk masyarakat. Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu indikator suksesnya sebuah pertemuan sastra.

Mendekatkan sastra(wan) ke masyarakat dapat dimulai dengan menempatkan sastrawan yang diundang di permukiman-permukiman warga. Tidak harus selalu di hotel. Hotel memang nyaman dan terkesan mewah. Namun, menempatkan penginapan sastrawan dalam sebuah pertemuan sastra di rumah-rumah penduduk akan menciptakan ruang tanpa jarak antara sastra(wan) dan masyarakat yang bisa jadi adalah pembaca karya-karya sastra. Tentu saja, model live-in ini harus dirancang secara matang dan bermartabat melalui sistem homestay berbasis komunitas, sehingga kehadiran sastrawan justru memberi dampak insentif ekonomi bagi warga, bukan sebaliknya menjadi beban sosial atau finansial yang merepotkan tuan rumah.

Di rumah-rumah masyarakat, sastrawan dapat bercengkerama dan memungut banyak cerita, termasuk dari lingkungan sekitar permukiman itu. Mereka juga dapat menikmati makanan tradisional di rumah-rumah warga, dan dari makanan itu pun banyak cerita lahir. Sastra bukan hanya tumbuh dari meja tulis, tapi juga dari percakapan, dari dapur, dari halaman rumah, dari jalan setapak, dari pasar, dari langgar, dan dari denyut hidup sehari-hari.

Membawa sastra(wan) masuk ke sekolah juga menjadi sesuatu yang penting dalam pertemuan sastra. Siswa dapat berinteraksi dengan sastrawan idola mereka, terjadi ruang dialog, motivasi, dan tumbuh minat siswa untuk menyukai sastra. Oh, ternyata masih ada yang berprofesi sebagai sastrawan. Menjadi sastrawan itu asyik rupanya, tidak sekadar mampu menulis teks sastra. Suasana seperti ini penting diciptakan dalam pertemuan-pertemuan sastra sehingga ada upaya membangun siar dan syiar bahwa sastra itu asyik.

BACA JUGA :  MH370 Tanpa Jejak

Pembicaraan-pembicaraan tentang sastra (puisi, cerpen, novel) hingga memperdebatkan apa itu musikalisasi puisi di lingkungan sastrawan sejatinya sudah selesai dalam banyak tulisan maupun lokakarya. Namun, yang perlu didekatkan kepada masyarakat adalah mengapa di era digital hari ini menulis sastra itu krusial. Iklim yang diciptakan bukan saja melahirkan penulis, tapi juga melahirkan pembaca. Apa artinya banyak penulis karya sastra, tapi sepi pembaca, atau hanya dibaca oleh segelintir sastrawan saja?

Pertemuan-pertemuan sastra di sebuah kota sepatutnya terus digelorakan. Ada ruang temu gagasan. Ruang silaturahmi. Ruang belajar. Ruang berbagi pengalaman kreatif. Ruang menghubungkan sastra dengan denyut sosial. Ruang yang mempertemukan teks dengan konteks, penulis dengan pembaca, gagasan dengan kenyataan hidup masyarakat.

Di titik inilah pertemuan sastra semestinya tidak lagi dipahami sebagai agenda seremonial yang sibuk pada panggung, spanduk, sambutan, dan dokumentasi belaka. Pertemuan sastra mesti bergerak menjadi peristiwa kebudayaan yang sungguh-sungguh hadir di tengah masyarakat. Ia tidak cukup berhenti pada pembacaan puisi di aula hotel, diskusi terbatas di ruang berpendingin udara, atau peluncuran buku yang hanya dihadiri wajah-wajah yang itu-itu juga. Sastra harus dibawa keluar. Menyapa warga. Duduk di warung kopi. Menyeberang ke sekolah. Masuk ke pasar. Menyusup ke ruang-ruang yang selama ini mungkin dianggap jauh dari dunia sastra.

Kita sering terlalu cepat menganggap pembicaraan sastra adalah urusan mereka yang akrab dengan teori, istilah, dan sejarah kesusastraan. Padahal, pembaca sastra tidak lahir dari ruang kuliah semata. Pembaca sastra juga lahir dari kehidupan yang keras, dari pengalaman sehari-hari, dari pergulatan batin, dari kehilangan, dari kerja, dari cinta, dari kecemasan menghadapi masa depan. Masyarakat sesungguhnya memiliki bekal yang cukup untuk berjumpa dengan sastra, bahkan menafsirkan sastra dengan cara yang mungkin tak terpikirkan oleh para sastrawan sendiri.

Bayangkan sebuah bedah buku sastra yang narasumbernya bukan sastrawan, bukan dosen sastra, bukan kritikus, tapi menghadirkan bidan, tukang ojek, guru mengaji, pendeta, pedagang pasar, buruh, petani, atau perawat. Mereka mungkin tidak mengenal teori strukturalisme, pascakolonialisme, atau intertekstualitas. Namun, mereka punya pengalaman hidup, punya cara pandang, punya luka, punya keyakinan, punya bahasa batin sendiri untuk membaca sebuah karya. Dari merekalah sastra bisa diuji: sejauh mana sebuah puisi menyentuh nurani, sejauh mana cerpen memantulkan kenyataan, sejauh mana novel dapat dibaca sebagai pengalaman bersama.

BACA JUGA :  Benarkah Penggerak Literasi Berada di Persimpangan Jalan?

Seorang bidan, misalnya, mungkin akan membaca novel dari sudut pandang kelahiran, tubuh perempuan, kesakitan, dan harapan hidup. Tukang ojek mungkin akan menangkap denyut jalanan, kelas sosial, dan rasa lelah yang sering luput dari pembacaan akademik. Guru mengaji mungkin akan menyigi dimensi akhlak, ketabahan, dan pencarian hakikat. Pendeta bisa melihat sisi spiritual, pergulatan iman, dan kesepian manusia modern. Pedagang akan membaca sastra dari pengalaman tawar-menawar hidup, dari ketahanan ekonomi keluarga, dari insting bertahan di tengah situasi yang serba tidak pasti.

Betapa kayanya tafsir yang bisa lahir jika sastra benar-benar dipertemukan dengan kehidupan.

Cara seperti ini penting bukan untuk merendahkan kritik sastra akademik, sebaliknya untuk memperluas pintu masuk terhadap sastra. Kehadiran pembaca awam ini bukanlah upaya menyingkirkan pisau analisis ilmiah, sebaliknya sebuah ruang kolaborasi untuk memperkaya resepsi sastra dari sisi penikmatnya.

Sastra tidak boleh dijaga terlalu ketat oleh pagar eksklusivitas. Bila pagar itu terlalu tinggi, masyarakat akan merasa sastra bukan wilayah mereka. Padahal, sejak mula, sastra tumbuh dari rahim masyarakat: dari pantun, kaba, hikayat, mantra, petatah-petitih, cerita lisan, kisah pengantar tidur, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjauhkan sastra dari masyarakat sama saja dengan mencabut akarnya sendiri.

Maka, penyelenggara pertemuan sastra perlu memikirkan ulang orientasi acara. Kemewahan fasilitas atau keriuhan unggahan di media sosial tentu tidak haram, sebab di era hari ini digitalisasi adalah alat syiar dan publikasi yang sangat efektif untuk memantik perhatian awal. Namun, ukuran keberhasilan yang jauh lebih penting adalah seberapa banyak masyarakat terlibat, seberapa jauh sastra dibicarakan di luar ruang acara, dan seberapa kuat ia meninggalkan jejak dalam kesadaran publik. Apakah setelah pertemuan sastra usai, ada siswa yang mulai menulis puisi? Adakah ibu rumah tangga yang tertarik membaca cerpen? Adakah warga yang merasa sastra ternyata dekat dengan hidup mereka? Adakah buku yang kemudian berpindah dari tangan penulis ke tangan pembaca baru?

BACA JUGA :  Memungut Iktibar di Lorong Museum Tsunami

Kita membutuhkan model pertemuan sastra yang membumi. Sastrawan menginap di rumah warga, dan diskusi buku digelar di sekolah, surau, taman baca, lapau, balai desa, atau di taman bacaan. Pembacaan puisi tidak hanya di panggung utama, tapi juga bergerak sebagai “gerilya budaya” yang intim di tengah pasar, terminal, halaman sekolah, atau panti sosial tanpa harus mengganggu ketertiban publik. Kelas menulis tidak semata ditujukan kepada mereka yang sudah pandai menulis, tapi juga kepada anak-anak, guru, pedagang, pekerja migran yang sedang pulang kampung, bahkan para orangtua yang selama ini hanya menjadi pendengar.

Begitulah. Sastra bukan sekadar perkara teks, sebaliknya juga cara merawat kepekaan sosial. Di tengah dunia digital yang serba cepat, bising, dan dangkal, sastra menawarkan jeda. Sastra mengajak orang merenung, berempati, membaca hidup lebih pelan, dan memahami manusia secara lebih utuh.

Itulah sebabnya sastra harus terus didekatkan kepada masyarakat, bukan dijauhkan dalam ruang-ruang eksklusif yang hanya bisa dimasuki segelintir orang.

Jika pertemuan sastra berhasil membawa sastrawan (kembali) ke tengah masyarakat, maka sesungguhnya kita tidak semata merayakan sastra. Lebih jauh dari itu merayakan kebudayaan, memperluas pembaca, menumbuhkan generasi yang peka, dan menjaga agar bahasa tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Sastra tidak akan kehilangan rumah jika ia terus pulang kepada masyarakat. Alasannya, masyarakat itulah rumah asalnya. (*).