BARANGKALI yang paling sering membuat manusia tersesat bukanlah kekurangan, melainkan kelimpahan. Ketika rezeki mengalir tanpa hambatan, jabatan datang bersama penghormatan, dan kehidupan terasa berpihak, manusia perlahan terbuai oleh ilusi bahwa semua itu adalah miliknya. Pada saat itulah ingatan tentang Sang Pemberi mulai memudar, digantikan keyakinan bahwa keberhasilan lahir semata-mata dari kemampuan diri.
Renungan itulah yang dihadirkan Syamsul Bahri melalui tulisan Intermezo “Melawan Lupa” Renungan Titipan Sang Ilahi. Sebuah refleksi yang tidak sekadar mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, tetapi juga mengembalikan kesadaran pada hakikat keberadaan manusia sebagai penerima amanah, bukan pemilik kehidupan.
Menurut Syamsul Bahri, hampir seluruh kegelisahan manusia berawal dari satu kekeliruan yang sama, yakni merasa memiliki sesuatu yang sesungguhnya hanya dipinjamkan. Harta yang dibanggakan, jabatan yang dipertahankan, nama baik yang dijaga, bahkan kesehatan dan usia yang dinikmati, semuanya adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat kembali kepada Sang Pemilik.
Kesadaran itulah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati. Sebab, semakin tinggi seseorang melangkah, semakin besar pula amanah yang dipikulnya. Keberhasilan bukanlah panggung untuk meninggikan diri, melainkan kesempatan untuk memperluas manfaat. Kekayaan bukan sekadar angka yang bertambah, melainkan ruang untuk berbagi. Jabatan bukan lambang kemuliaan, melainkan jalan pengabdian yang menuntut kejujuran dan keberanian menjaga kepercayaan.
Syamsul Bahri menegaskan bahwa memahami hidup sebagai titipan bukan berarti mengecilkan arti ikhtiar. Justru sebaliknya, kesadaran itu menjadikan setiap usaha memiliki makna yang lebih luhur. Manusia bekerja bukan sekadar mengejar pencapaian, melainkan menghadirkan nilai. Manusia berkarya bukan hanya untuk dikenang, melainkan agar keberadaannya membawa cahaya bagi kehidupan orang lain.
Dalam pandangannya, hidup akan terasa lebih damai ketika seseorang berhenti menggenggam dunia terlalu erat. Tidak ada kecemasan berlebihan saat kehilangan, karena ia memahami bahwa yang pergi memang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Tidak ada kesombongan saat memperoleh keberlimpahan, sebab ia sadar bahwa dirinya hanya sedang dipercaya menjaga titipan.
Di sanalah manusia menemukan makna terdalam dari keberadaan. Bahwa setiap rezeki adalah amanah yang harus disyukuri, setiap kesempatan adalah ruang untuk berbuat baik, dan setiap kepercayaan adalah panggilan untuk menghadirkan kemaslahatan. Manusia tidak sedang berlomba menjadi pemilik dunia, melainkan berlomba meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus hidup bahkan ketika dirinya telah tiada.
Sebab kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa tulus yang mampu dibagikan. Sebab, ketika seluruh titipan kembali kepada Sang Ilahi, yang tetap tinggal bukanlah harta, jabatan, atau kemasyhuran, melainkan doa-doa yang lahir dari kebaikan, manfaat yang pernah dihadirkan, dan jejak kebajikan yang terus mengalir melintasi waktu. (S).




















