Oleh Muhammad Subhan
MINGGU, 26 Desember 2004, hari itu, saya berada di sebuah gedung di GOR Haji Agus Salim, Padang. Saya mendapat tugas meliput kampanye sebuah partai politik. Ramai yang hadir.
Untuk tugas liputan kampanye, saya sering diminta oleh redaktur koran tempat saya bekerja untuk meliput. Dan, saya jarang menolak tugas.
Sekira pukul 12 siang, di saat pimpinan partai memberikan pidato, sejenak dia terdiam. Wajahnya agak muram. Kerumunan massa menatap ke arahnya. Saya juga. Sepertinya ada kabar yang hendak ia sampaikan.
Benarlah. Ia baru mendapat kabar bahwa di Aceh terjadi musibah gempa dahsyat disusul tsunami. Banyak bangunan hancur. Banyak korban jiwa.
Selepas menyampaikan kabar itu, ketua parpol tadi mengajak massa berdoa untuk Aceh. Ruangan hening. Semua menundukkan kepala. Tak terasa air mata jatuh.
Ingatan saya seketika terlempar ke kampung masa kecil, di Aceh. Makam ayah saya di sana. Saya coba kontak famili dan kawan, tak tersambung. Saat itu belum marak ponsel. Media sosial juga belum begitu populer seperti sekarang. Pun istilah “tsunami”, belum akrab di telinga orang. Apa itu?
Saya baru empat tahun berada di Padang setelah memilih merantau setamat SMA di Aceh. Saya bekerja sebagai wartawan di sejumlah koran mingguan, dan terakhir terdampar di koran Haluan, sebuah koran tertua di Padang.
Di saat peristiwa tsunami di Aceh, saya masih bekerja di harian Mimbar Minang, meski hanya bertahan dua tahun. Dan sekira tiga bulan pascatsunami, saya putuskan berangkat sebagai relawan ke Aceh, tepatnya di Bumi Pasie Karam, Meulaboh.
Sebenarnya, keinginan ke Aceh sudah muncul pada pekan-pekan pertama pascabencana, selain untuk melakukan liputan langsung di lapangan. Tapi lagi-lagi jalur ke Aceh tidak mudah ditempuh. Barulah kemudian, ada sebuah partai yang menurunkan tim relawannya beberapa gelombang, dan saya mendapat gelombang ketiga belas.
Berangkatlah saya melalui jalur darat ke Aceh Barat. Meski saat itu Aceh sedang konflik, namun bencana tsunami membuat semua orang bersatu padu menyelamatkan korban. Pemerintah SBY memilih membuka pintu kepada dunia agar turut membantu Aceh.
Tak mudah masuk ke Aceh saat itu, sebab jembatan dan jalan putus. Bantuan dari luar juga banyak terhambat. Syukurlah rombongan kami dapat menembus Meulaboh dari beberapa jalan alternatif dengan kondisi yang juga sangat memprihatinkan.
Hampir sebulan saya di Meulaboh bersama relawan lainnya. Saya juga bergabung dengan rekan-rekan jurnalis dari berbagai kota yang telah berada di sana.
Sejauh mata memandang, dari bibir pantai Meulaboh ke tengah kota, kerusakan pascatsunami sangat parah. Pohon-pohon tercerabut dari akarnya. Rumah-rumah penduduk rata dengan tanah.
Dua belas tahun kemudian, pada 2016, saya datang lagi ke Meulaboh, memenuhi undangan panitia Temu Penyair Pasie Karam dalam rangkaian Pekan Budaya Aceh. Namun, Meulaboh telah bangkit dari keterpurukannya. Kota tertata lagi. Rumah-rumah penduduk mulai berdiri lagi. Nyaris tak ditemukan sisa-sisa bencana. Tapi sempat saya ziarahi makam korban tsunami di kawasan Ujong Kareng, tak jauh dari bibir pantai. Pantai berbatu karang dengan debur ombaknya saya tapaki, dan siapa sangka mulut laut itu pernah menumpahkan air bah yang mahadahsyat.
Juni 2025, bersama Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, melalui perjalanan darat, saya singgahi kembali Meulaboh dan bersua kawan-kawan penulis di sana. Meulaboh semakin tercelak wajahnya. Semakin tumbuh sebagai kota yang rancak.
Dua pekan lalu, memenuhi undangan panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia di empat kota, salah satunya Banda Aceh, saya kunjungi Museum Tsunami. Museum megah di tengah jantung “Kuta Radja” Banda Aceh itu menjadi saksi sejarah yang menyimpan dokumentasi betapa dahsyatnya tsunami Aceh. Ribuan orang kehilangan nyawa. Ribuan bangunan hancur binasa. Potret dan video dokumenter mengajak pengunjung yang datang dari berbagai kota memasuki ruang masa lalu bahwa Aceh pernah diguncang lindu dan air bah yang tumpah dari laut.
Bagi generasi muda dan generasi mendatang, peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh menjadi iktibar dan hikmah yang tak boleh pupus oleh pergantian zaman. Di sinilah Museum Tsunami Aceh mengambil peran krusial. Museum ini bukan sekadar bangunan megah berpilar beton, melainkan sebuah monumen ingatan kolektif yang menjaga memori kita dari kelupaan. Melalui ruang-ruang temaramnya, pantulan rintik airnya, dan dinding-dinding yang memuat ribuan nama korban, museum ini mentransfer duka masa lalu menjadi pengetahuan hidup bagi generasi hari ini.
Belajar dari sejarah adalah fondasi utama dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
Lebih dari itu, tragedi kemanusiaan ini kini telah menjelma menjadi bagian erat dari narasi kota. Meulaboh dan Banda Aceh tidak hanya berkisah tentang keindahan lanskapnya yang baru, tapi juga tentang ketangguhan warganya yang bangkit dari puing-puing kehancuran. Narasi kota yang merawat memori bencana ini sangat penting agar nilai-nilai solidaritas, gotong royong, dan spiritualitas yang sempat menyatukan dunia saat itu tetap hidup. Kota yang bijak adalah kota yang tidak mengubur sejarah kelamnya, tapi menjadikannya pijakan untuk melangkah lebih kuat dan tangguh.
Di sinilah letak peran penting karya sastra dan dokumen sejarah. Melalui bait puisi, cerita pendek, novel, maupun catatan jurnalistik, peristiwa memilukan itu diabadikan dalam bentuk yang lebih menyentuh jiwa. Jika dokumen sejarah mencatat angka, tanggal, dan fakta-fakta geografis secara presisi, maka karya sastra mencatat getaran emosi, jeritan batin, dan harapan manusia yang bertahan hidup. Sastra menjadi jembatan empati yang menghubungkan perasaan pembaca lintas generasi dengan derita para korban.
Catatan-catatan ini, baik yang tersimpan rapi di lemari museum maupun yang tertuang dalam lembaran-lembaran buku, adalah warisan berharga, menjadi pengingat abadi bahwa di hadapan kuasa alam, manusia teramat kecil. Setitik debu saja. Namun, dengan merawat ingatan dan dokumen sejarah tersebut, kita dapat terus memetik pelajaran, memperkuat mitigasi, dan menjaga peradaban agar tidak karam digulung gelombang ketidaktahuan.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.



















