Oleh Muhammad Subhan

TSUNAMI informasi bukan lagi sebuah metafora usang, tapi justru telah menjadi realitas keseharian yang mengepung kesadaran kognitif kita setiap detik. Di era konvergensi media saat ini, ruang publik tidak lagi disarati oleh kelangkaan berita, melainkan oleh banjir bandang teks, audio, dan visual yang mengalir tanpa henti selama dua puluh empat jam penuh.

Media konvensional yang dahulu melewati kurasi ketat meja redaksi, kini melebur ke dalam genggaman gawai yang digerakkan oleh satu hukum besi baru: ekonomi perhatian (attention economy). Di bawah kendali hukum ini, komoditas paling berharga bukan lagi kebenaran substantif, tapi justru durasi bola mata pengguna menatap layar aplikasi.

Pergeseran ini melahirkan ekosistem digital yang tidak sepenuhnya sehat.

Gawai kita tidak sekadar memantulkan dunia apa adanya, melainkan bertindak sebagai lensa selektif yang memilih sudut pandang, memotong konteks, dan membingkai peristiwa demi kepentingan komersial ataupun pengaruh elektoral. Ketika realitas objektif digantikan oleh realitas bentukan media (mediated reality), publik kerap kali kehilangan jangkar kebenaran. Kondisi tersebut diperparah oleh kerja mesin kecerdasan buatan yang merancang gelembung gema (echo chamber) di media sosial. Algoritma sengaja menyuapi pengguna dengan konten yang selaras dengan kecenderungan, amarah, atau prasangka mereka sendiri, sekaligus mengubur pandangan alternatif yang berbeda.

Akibatnya, masyarakat perlahan-lahan terperosok ke dalam polarisasi digital yang akut. Komunikasi yang sedianya menjadi jembatan dialektika antarmasyarakat, berubah menjadi arena caci maki dan ujaran kebencian. Ketika seseorang terbiasa dikelilingi oleh pemikiran yang seragam di ruang digitalnya, ia akan kehilangan kapasitas mental untuk menerima perbedaan di dunia nyata.

BACA JUGA :  Kasi Intel Kajari Sinjai Jhadi Wijaya Dimutasi - Fakta Atau Hoaks?

Setiap informasi baru yang melintas di beranda tidak lagi ditelaah secara rasional, melainkan direspons secara reaktif. Dalam pusaran inilah gangguan informasi menemukan ladang suburnya, mewujud dalam tiga wajah yang merusak: misinformasi yang lahir dari ketidaktahuan, disinformasi yang sengaja direkayasa untuk mengelabui, serta malinformasi yang menyebarkan fakta nyata dengan niat murni untuk menjatuhkan harkat sesama.

Menghadapi situasi yang kian kompleks ini, pendekatan literasi media konvensional yang hanya menekankan pada kemampuan teknis mengoperasikan perangkat digital terasa tidak lagi memadai. Kita membutuhkan kerangka analisis yang lebih mendalam dan taktis.

Lembaga kajian dunia seperti Center for Media Literacy (CML) sebenarnya telah merumuskan instrumen dekonstruksi pesan yang sangat operasional. Melalui lima pertanyaan kunci, yaitu tentang siapa pembuat pesan, teknik kreatif apa yang digunakan, bagaimana khalayak lain menginterpretasikannya, nilai apa yang disembunyikan, serta apa motif di baliknya, kita diajak untuk menelanjangi setiap teks media hingga ke akar ideologis dan komersialnya.

Kemampuan menguliti motif ini merupakan langkah awal yang krusial agar kita tidak sekadar menjadi konsumen pasif yang dikonsumsi oleh industri.

BACA JUGA :  Jusuf Kalla Negarawan Cerdik Merawat Perdamaian

Namun, bagi kita yang hidup dalam bentang kultural dan spiritual religius, pisau analisis kritis CML tersebut akan menemukan kesempurnaan dayanya jika diintegrasikan dengan konsep epistemologis Islam, yaitu “tabayyun”. Sikap ini sekaligus menjadi otokritik mendalam, mengingat dalam realitasnya, sentimen keagamaan pun kerap kali dieksploitasi oleh sebagian oknum untuk menggerakkan polarisasi digital.

Menjalankan tabayyun di era digital bukan sekadar melakukan verifikasi teknis atau mencocokkan berita dengan situs cek fakta. Lebih dari itu, ia adalah sebuah laku spiritual untuk menahan diri dari ketergesa-gesahan (al-’ajalah). Di ruang siber yang menghamba pada kecepatan, menunda jempol untuk membagikan sebuah unggahan sebelum memeriksa kebenarannya secara menyeluruh adalah bentuk luhur dari pengendalian diri.

Anatomi tabayyun modern menuntut kita melakukan tiga hal secara simultan: memverifikasi kredibilitas serta rekam jejak sumber informasi, mengklarifikasi isi guna memisahkan data faktual dari opini subjektif, serta mengonstruksi ulang konteks peristiwa agar tidak terjebak dalam perangkap video atau kutipan yang sengaja dipotong.

Tanpa adanya disiplin ini, masyarakat akan dengan mudah memindahkan dosa lisan konvensional ke dalam bentuk yang lebih masif dan permanen: dosa jempol digital. Kebohongan, ghibah, maupun fitnah yang dilepas ke belantara internet akan terus mereproduksi kerusakan secara eksponensial, menciptakan jejak digital buruk yang sulit dihapus.

Oleh karena itu, tantangan mendesak kita hari ini adalah menumbuhkan jalan tengah literasi. Kita tidak boleh terjebak pada kutub penolakan teknologi yang ekstrem, namun kita juga tidak boleh larut dalam arus digitalisasi yang mendangkalkan nalar kritis.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Kecepatan yang ditawarkan oleh media baru harus diimbangi oleh kedalaman berpikir yang ditempa melalui disiplin membaca secara mendalam (deep reading) serta ruang-ruang diskusi yang berbasis argumen ilmiah terstruktur—baik melalui media konvensional maupun pemanfaatan konten digital yang berbasis data. Dalam konteks ini, kolaborasi erat antara institusi pendidikan tinggi dan simpul-simpul gerakan literasi akar rumput memegang peran sentral sebagai agen perubahan yang merestorasi ruang publik siber ini.

Melek media di abad digital bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, lebih jauh dari itu sebuah pertanggungjawaban moral dan peradaban. Mengenangkan kembali semangat analisis kritis yang bersanding dengan keluhuran etika komunikasi, seperti kejujuran dalam menyampaikan kebenaran (qaulan sadida) dan kesantunan yang menjaga martabat manusia (qaulan karima), adalah kunci untuk menjinakkan keliaran lidah algoritma.

Tentu, laku spiritual individu ini juga harus berjalan paralel dengan ketegasan regulasi negara dalam mengontrol tata kelola platform digital. Hanya dengan cara demikian, kita dapat mentransformasi diri dari target pasar yang rentan dipecah belah, menjadi warga digital yang berdaulat, cerdas, dan mencerahkan.

(MUHAMMAD SUBHAN, Founder Sekolah Menulis Elipsis).

Buku-buku karya Muhammad Subhan juga dapat dipesan melalui LINI BUKU Padang. Untuk informasi dan pemesanan, silakan menghubungi admin LINI BUKU di nomor kontak: 0813-6303-840 .

Terima kasih kepada para pembaca yang telah memiliki dan mendukung hadirnya buku-buku ini.