Oleh Muhammad Subhan
BERJALAN sebagai musafir itu asyik. Apalagi beramai-ramai. Ada kawan bercakap-cakap. Kalau lelah, rehat. Tak harus di hotel, banyak tempat gratis, salah satunya masjid.
Ya, masjid sering kali menjadi tempat paling aman dan nyaman merebahkan tubuh, di sela-sela beribadah, di sepertiga malam, dan di saat Subuh, dan di waktu-waktu salat lainnya.
Perjalanan ke Aceh dua pekan lalu, saya melakoni diri sebagai seorang musafir. Pun kelima sahabat saya: Rian Juskal, Ramayani, Budi Saputra, Yusnal Didi, dan Dedy Bachta. Kami ke Aceh memenuhi undangan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di empat kota di provinsi Serambi Mekah itu.
Kami bertolak dari Padang Panjang, Jumat pagi, 19 Juni. Jalan nonstop. Rehat hanya untuk salat dan makan. Selebihnya menempuh perjalanan lagi, dan di sela-sela itu membeli minuman di minimarket serta mengisi BBM di SPBU.
Kami masuk ke Aceh lewat Medan. Di Medan rehat sejenak di beberapa masjid. Ada beberapa masjid jami’ yang membuka layanan untuk musafir. Kami masuki masjid itu. Beristirahat menghabiskan malam, dan pagi menjelang berjalan lagi setelah mandi di tempat yang layak di masjid itu.
Salah satu masjid yang kami singgahi adalah sebuah masjid di Siborongborong, Tapanuli Utara. Hari sudah pukul tiga dini hari. Sopir, Bang Rian Juskal, sudah tak kuat menyetir. Saya katakan, kita harus mencari masjid. Rehat sejenak. Tibalah kami di sebuah masjid besar yang ternyata di sana sudah ramai pula musafir lainnya. Mobil diparkirkan. Kami turun. Berwudu. Salat sunah. Kemudian satu-dua jam mencoba tidur di sudut masjid, meski sejatinya tak dapat memejamkan mata.
Masjid musafir ini juga menyediakan kopi dan teh gratis. Kalau mau lebih, ada kantin di samping. Sesudah Subuh dan sesudah mandi, saya pesan sepiring nasi goreng telur. Tak lama, kami berjalan lagi dari satu masjid ke masjid lainnya hingga tiba di Aceh.
Di Aceh, masjidnya di sepanjang kiri-kanan jalan raya besar-besar. Yang lebih luar biasa, masjid-masjid itu dinding-dindingnya terbuka lebar. Tidak tertutup seperti masjid umumnya. Masjid yang terbuka itu dengan banyak tiang memberi keleluasaan angin masuk. Meski tanpa pendingin ruangan, di dalam masjid sudah terasa sejuk.
Masjid-masjid yang terbuka ini memudahkan musafir untuk singgah, beribadah, dan melepas lelah. Apalagi jika tersedia ruang istirahat di luar ruang salat. Ada kamar mandi pula dengan ketersediaan air yang cukup. Masjid-masjid seperti ini memudahkan para jemaah berstatus musafir.
Pun di saat pulang, masjid juga menjadi tujuan kami. Ia seperti penanda di jalan raya: tempat berhenti, tempat menenangkan diri, tempat mengembalikan tenaga yang susut oleh perjalanan berjam-jam.
Saya membayangkan, betapa banyak orang yang tertolong oleh masjid-masjid yang terbuka itu. Sopir-sopir antarkota, keluarga yang mudik, mahasiswa yang bepergian, pedagang kecil, para perantau, hingga orang-orang yang mungkin sedang menempuh perjalanan dengan hati gundah. Masjid memberi mereka jeda. Dan jeda dalam perjalanan panjang kadang bukan sekadar berhenti. Jeda juga kesempatan menyusun ulang napas, pikiran, bahkan niat.
Sejatinya, masjid bukan hanya rumah ibadah dalam pengertian yang sempit. Masjid juga rumah singgah bagi umat. Rumah tempat orang yang kelelahan menemukan rehat. Rumah tempat orang yang mengantuk bisa terlelap sejenak tanpa rasa takut. Rumah tempat orang yang kehausan bisa meneguk air, lalu menunaikan salat dengan tenang. Ada semacam rasa aman yang tumbuh ketika singgah di masjid, rasa bahwa kita tidak benar-benar sendirian di tengah jalan yang panjang.
Di Aceh, kesan itu terasa kuat. Mungkin karena daerah itu memiliki tradisi keislaman yang lekat, sehingga masjid benar-benar dihadirkan sebagai bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Ia bukan bangunan yang hanya ramai di waktu-waktu salat, lalu tertutup rapat setelah itu. Ia hidup. Ia berfungsi. Ia menjadi tempat orang datang dan pergi, beribadah dan beristirahat, bertemu dan melanjutkan perjalanan.
Di luar Aceh, kami juga menjumpai sejumlah masjid yang tertutup, terkunci, tak hanya ruang salatnya, tapi juga toiletnya. Tentu saya paham, ada banyak alasan mengapa pengurus masjid melakukan itu. Kasus pencurian kotak infak, kehilangan sandal, kerusakan fasilitas, atau kekhawatiran akan kebersihan sering menjadi pertimbangan. Kekhawatiran itu masuk akal. Ditambah lagi dengan dinamika sosiologis di kota-kota besar atau daerah rawan yang penuh risiko kriminalitas non-teknis. Pengurus masjid tentu bertugas menjaga kesucian tempat salat dari najis, sekaligus tak ingin rumah ibadah disalahgunakan atau dirusak oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Kita pun mafhum, tidak semua masjid mandiri secara finansial untuk mengupah petugas jaga malam atau menyediakan operasional ekstra 24 jam.
Namun, tetap saja ada yang terasa mengganjal ketika masjid yang semestinya terbuka justru menjelma seperti ruang yang asing dan sulit diakses. Apalagi bagi musafir darurat yang datang pada malam hari, yang hanya butuh menumpang salat, berwudu, atau ke toilet. Memang benar, saat ini sudah banyak SPBU atau rest area yang menyediakan fasilitas penunjang. Namun, dalam kondisi tertentu di rute-rute sepi, masjid yang terkunci rapat bisa membuat orang yang kelelahan atau kepepet terpaksa mencari tempat lain yang belum tentu layak, belum tentu aman, bahkan belum tentu bersih.
Maka menurut saya, persoalan ini patut dipertimbangkan kembali di masa mendatang. Jalan tengah harus dirumuskan agar kesucian dan keamanan masjid tetap terjaga, tanpa perlu membebani kas operasional takmir secara berlebihan. Solusinya tidak harus ekstrem dengan membuka seluruh akses bangunan. Pengurus bisa menyiasatinya dengan membiarkan ruang salat utama tetap terkunci demi keamanan fisik, namun menyediakan area emperan, teras, atau serambi luar yang ramah bagi musafir untuk sekadar meluruskan punggung. Akses toilet pun dapat diatur—bukan dibuka total tanpa pengawasan—melainkan cukup menyediakan satu bilik khusus luar yang tetap dialiri air. Syiar ini bisa diperkuat dengan melibatkan komunitas remaja masjid atau warga sekitar sebagai bagian dari khidmah kepedulian sosial, sehingga beban tidak melulu bertumpu pada pundak marbot sendirian.
Masjid sejatinya memang harus terbuka agar siapa pun dapat makin dekat untuk beribadah. Mulanya barangkali orang datang hanya untuk singgah, ke toilet, atau tidur karena penat yang tak tertahankan. Namun, lambat laun, dari pelayanan sederhana yang tulus dari masjid musafir semacam itu, akan lahir sentuhan yang lebih dalam, bahwa masjid memang milik umat. Bahwa ia bukan bangunan asing yang dingin, eksklusif, dan tertutup, sebaliknya sebuah ruang bersama yang hangat dan ramah.
Kita tak pernah tahu, seseorang yang mula-mula datang ke masjid hanya karena kepepet ingin buang air, atau karena terlalu lelah menyetir lalu memilih tidur di serambinya, justru pulang membawa kesan yang tak terlupakan. Bisa jadi dari keramahan pengurus dan keteduhan serambi itulah tumbuh rasa dekat dengan masjid. Bisa jadi dari situlah ia kelak tergerak untuk rajin datang menunaikan salat berjemaah. Bisa jadi dari sebuah persinggahan darurat di kegelapan malam, hidup seseorang disentuh oleh hidayah dengan cara yang tak disangka-sangka.
Saya kira, di situlah letak pentingnya menghadirkan masjid yang ramah bagi musafir. Yang tentu, bukan semata soal kemewahan fasilitas, bukan pula semata soal arsitektur yang terbuka lebar. Lebih dari itu, ini adalah soal cara kita memandang dan memosisikan masjid sebagai pusat pelayanan umat. Tempat orang felt diterima dalam kondisi apa pun. Tempat orang tidak merasa sungkan atau takut untuk mengetuk pintu, bahkan ketika malam sudah larut dan tubuh sudah teramat penat.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.













