JAKARTA, INSERTRAKYAT.com – Direktur Eksekutif Indonesian Initiative for Strategic and Policy Studies (INISIATOR), Yakub F. Ismail, menyoroti polemik keterlibatan Didit Hediprasetyo alias Didit Prabowo dalam penyelenggaraan ARTJOG melalui Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai sponsor acara. Menurutnya, perdebatan tersebut perlu disikapi secara bijak dengan membedakan antara dukungan pendanaan dan intervensi terhadap karya seni.

Yakub menilai argumentasi yang mengaitkan kehadiran DHF dengan posisi Didit sebagai putra Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tidak dapat serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya intervensi kekuasaan dalam ruang seni.

“Menurut saya, kita perlu membedakan secara tegas antara dukungan dari sebuah yayasan dengan upaya untuk mengintervensi karya seni. Memang, cukup dipahami bahwa mereka yang menolak dengan tegas keterlibatan Yayasan tersebut mempunyai argumentasi tersendiri dalam menyikapi hal tersebut. Tapi bagi saya, menarik kesimpulan adanya upaya intervensi kekuasaan melalui kehadiran DHF adalah sesuatu yang terburu-buru,” kata Yakub di Jakarta, Senin (6/7).

Ia berpandangan, keterlibatan DHF dalam mendukung ARTJOG seharusnya dimaknai sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan seni, bukan sebagai representasi kekuasaan.

“Apalagi sampai melihat hal tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap kebebasan berekspresi di ruang seni. Apalagi, publik juga telah mengetahui bahwa Didit bukanlah sosok baru dalam dunia seni. Ia telah lama bergelut dan dikenal sebagai desainer dan pelaku industri kreatif dengan sederet karya maupun rekam jejak di dunia seni dan desain yang membanggakan, jauh sebelum ayahnya menjabat sebagai Presiden RI,” terang Yakub.

Menurut Yakub, dukungan terhadap penyelenggaraan festival seni di berbagai negara lazim diberikan oleh berbagai pihak, mulai dari yayasan, lembaga filantropi, hingga sektor swasta.

Karena itu, ia menegaskan setiap bentuk dukungan seharusnya dipandang sebagai mekanisme yang wajar untuk menjaga keberlanjutan ekosistem seni, selama tidak disertai intervensi maupun pengekangan terhadap kebebasan berkesenian.

“Jadi, menurut saya, kehadiran sponsor tidak otomatis melenyapkan independensi seni. Justru sebaliknya, hal yang perlu dilakukan adalah menjaga batas yang tegas antara dukungan pendanaan dan intervensi kemerdekaan berkarya/berkekspresi,” ujar Yakub.

Lebih lanjut, Yakub mengatakan komitmen menjaga ruang seni tetap netral dan merdeka merupakan syarat mutlak agar ruang seni tidak menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik maupun simbolik.

“Benar bahwa ekosistem seni memerlukan dukungan yang luas tidak hanya soal pendanaan, namun dukungan tersebut harus bisa membatasi diri dari ruang netral dan bebas dari seni itu sendiri. Inilah hakikat kesenian yang harus kita sama-sama jaga, ketimbang mempersoalkan dari mana dukungan tersebut datang,” tandasnya.

(Mift). Follow Tiktok INSERT RAKYAT