Oleh Muhammad Subhan

SEORANG kawan saya memberi tamsil menarik. Ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di jurusan sastra. Secara logika, jalan hidupnya semestinya tidak jauh dari dunia akademik atau kepenulisan.

Namun, kenyataan berkata lain. Sekarang ia malah membuka usaha bengkel las ketok dan reparasi peralatan rumah tangga.

“Kenapa tidak menulis atau menjadi guru saja?” tanya saya suatu hari.

“Peluang kerja terbatas, sementara dapur harus tetap mengepul,” ujarnya, tanpa beban.

Jawabannya membuat saya terpekur dan merenung.

Begitulah, pilihan hidup sering kali didikte oleh kebutuhan mendesak. Idealisme dipaksa bernegosiasi dengan realitas, dan dalam proses itu, tidak semua orang mampu bertahan pada jalur awalnya.

Kontras antara latar pendidikan dan pekerjaan ini bukan sekadar anomali. Sebaliknya, ini adalah cermin bahwa hidup tidak selalu linear. Apa yang dipelajari tidak selalu menjadi apa yang dijalani.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan terus memelihara ilusi bahwa pendidikan tinggi adalah jaminan pekerjaan? Ataukah kita mulai berani menggeser paradigma bahwa pendidikan adalah bekal untuk bertahan, beradaptasi, dan menciptakan kemungkinan?

Di tengah dunia yang volatil, jawaban terbaik bukanlah kepastian, namun kesiapan menghadapi ketidakpastian itu sendiri.

Persoalannya, di tengah membeludaknya lulusan perguruan tinggi, sebagian justru terjebak dalam kategori ironis: “penganggur intelektual”. Mereka cenderung menunggu peluang alih-alih menciptakannya.

Ketika ditanya mengapa tidak merintis usaha mandiri, jawabannya hampir seragam: “kendala modal”.

Di titik ini, logika kita diuji. Jika ukuran segalanya adalah modal finansial, lalu untuk apa investasi besar yang dihabiskan bertahun-tahun di bangku kuliah? Bukankah dana tersebut, jika hanya dijadikan ukuran utama, bisa langsung dialihkan menjadi modal usaha sejak awal?

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Argumen ini tentu tidak bermaksud merendahkan marwah pendidikan tinggi. Sebaliknya ingin menempatkan kembali hakikat pendidikan pada posisi semestinya, sebagai jalan membangun kapasitas berpikir, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko, bukan sekadar tiket memasuki dunia kerja formal yang pintunya kian menyempit.

Realitas hari ini menunjukkan kompetisi yang kian sengit. Bukan mustahil di masa depan, sejumlah profesi akan “turun ke jalan” menawarkan keahlian secara langsung. Bukan mustahil pula, karena lulusan terus bertambah, sejumlah profesi masuk kampung keluar kampung demi menawarkan keahlian mereka.

Saat ini, calon guru ratusan ribu masih menunggu kesempatan. Dokter, profesi paling bergengsi, pun bisa menghadapi cerita serupa ketika daya tampung rumah sakit tak lagi sebanding. Bayangkan, suatu hari, akan terdengar teriakan di tepi jalan, “Dokter… dokter… Jasa dokter, Pak, jasa dokter, Bu…. Ada yang sakit, Pak? Ada yang sakit, Bu?”

Imaji satir sekaligus getir itu mungkin terdengar menggelitik, namun sekaligus menyimpan kecemasan tentang ketimpangan antara jumlah tenaga profesional dan daya tampung lapangan kerja.

Yang paling dekat, kita bahkan sudah melihat para pesohor turun gunung ke ruang-ruang digital yang lebih cair demi menjaga eksistensi. Seorang penyanyi papan atas pun mau-maunya live di pinggir jalan sambil menunggu saweran maupun taburan gift di TikTok.

Fenomena ini menegaskan bahwa sekat kaku antara “pekerjaan bergengsi” dan “pekerjaan biasa” telah terkikis. Semua kembali pada kemampuan adaptasi.

BACA JUGA :  Perguruan Tinggi, Potret Lulusan, dan Ilusi Lapangan Kerja

Namun, kemampuan adaptasi ini berbenturan dengan persoalan mentalitas generasional. Sebagian Generasi Z, misalnya, kerap dianggap rentan dalam menghadapi tekanan dunia kerja. Teguran dari atasan terkait keteledoran atau sedikit kesalahan sering kali berujung pada surat pengunduran diri keesokan hari. Tanpa perlu berpikir panjang.

Kondisi ini sangat kontras dengan generasi pendahulu yang harus melewati birokrasi administratif yang rumit dan pergulatan batin yang hebat hanya untuk memutuskan keluar dari sebuah pekerjaan.

Perbedaan ini bukan semata mentalitas, sebaliknya cermin perubahan ekosistem sosial-ekonomi.

Kecepatan informasi dan banyaknya pilihan membentuk cara pandang berbeda terhadap pekerjaan. Namun, tanpa fondasi ketahanan (resiliensi) dan daya juang, kemudahan tersebut justru menjadi jebakan.

Masalah ketahanan ini pun berakar dari budaya pendidikan kita yang belum mandiri. Banyak program baik, seperti gerakan literasi, hanya bergerak jika ada instruksi dari atas. Sebagai contoh, ketika kebijakan wajib membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai didengungkan, sekolah tampak bergairah. Namun, saat instruksi melemah, aktivitas itu meredup. Pojok baca tinggal nama, raknya masih ada, namun bukunya entah ke mana. Belum lagi soal program literasi lainnya yang sering hilang timbul. Minim upaya mempertahankan keberlanjutan.

Di sinilah benang merahnya, budaya, baik itu membaca maupun berwirausaha, tidak bisa tumbuh hanya melalui perintah. Dibutuhkan kesadaran, keteladanan, dan konsistensi.

Kemandirian yang kita cita-citakan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi terutama dengan cara berpikir. Mampu menciptakan lapangan kerja bukan semata soal ketersediaan uang di bank, melainkan keberanian untuk memutus ketergantungan pada sistem yang kaku dan mulai percaya pada kapasitas diri sendiri.

BACA JUGA :  Sebuah Profesi yang Bernama Penulis

Gelar sarjana bukanlah garis finis, tetapi garis start dengan bekal mental yang lebih terasah. Jika dunia tidak lagi menyediakan kursi untuk kita duduk dengan nyaman, maka kita harus berani membuat kursi itu sendiri atau bahkan merubuhkan dinding-dinding pembatasnya. Kalau tak mendapat panggung, ciptakan panggung itu.

Menjadi sarjana yang berdaya saing berarti berhenti memuja ijazah sebagai jimat sakti, dan mulai memperlakukannya sebagai bukti bahwa kita pernah dilatih untuk berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah.

Ketidakpastian masa depan tidak seharusnya dihadapi dengan kecemasan yang melumpuhkan, sebaliknya dengan kelincahan untuk banting setir. Kawan saya yang menjadi tukang las meskipun memegang ijazah magister sastra adalah pahlawan bagi dirinya sendiri, karena tidak membiarkan kehormatan semu sebuah gelar membuatnya mati kelaparan. Ia membuktikan bahwa intelektualitas sejati justru diuji saat seseorang mampu tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri, apa pun profesi yang harus ia jalani demi kelangsungan hidup.

Masa depan hanya milik mereka yang punya daya lenting dan daya saing tinggi. Pendidikan memang memberikan kita pengetahuan, namun kehidupanlah yang menuntut kebijaksanaan dan keberanian.

Di era yang serba tidak menentu ini, menjadi pintar saja tidak lagi cukup. Kita harus menjadi tangguh, kreatif, dan yang paling penting, berani melepaskan gengsi demi sebuah martabat hidup yang mandiri.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Follow (whatsapp channel)