JAKARTA, InsertRakyat.com – Rumah Puisi Taufiq Ismail & Museum Sastra Indonesia bersama Majalah Sastra Horison dan Universitas YARSI menggelar Lomba Baca Puisi Memperebutkan Piala Taufiq Ismail.
.
Kompetisi tingkat nasional ini terbuka bagi pelajar SMA, SMK, MA, dan pesantren dari seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta. Lomba sedang berlangsung dan pemenang diumumkan pada 31 Oktober 2026 mendatang bertepatan dengan Seabad Ruang Pendidik INS Kayutanam.
.
Berikut lima puisi yang salah satunya dapat dipilih peserta untuk mengikuti lomba dengan hadiah ratusan juta rupiah ini.
.
Taufiq Ismail
CELUPKAN JARIMU KE AIR LAUTAN
.
Bertanya seseorang pada junjungan kita;
Wahai Rasulullah tercinta
Bandingkan dunia kini dengan akhirat nanti
.
Menjawab Rasulullah Sallallahu’alaihiwassalam;
Celupkan jarimu ke air lautan
Air yang menetes dari ujung jarimu
Itulah dunia seisinya
Air yang selebihnya di lautan
Air yang seluruh di samudra
Itulah akhirat nanti
.
Wahai alangkah kecil arti dunia
Wahai alangkah kerdil arti dunia
Wahai alangkah remeh arti dunia
Wahai alangkah wahai
Tak berartinya dunia
.
Yang mengejar akhirat
Akan mendapatkan akhirat dan dunia
Yang mengejar dunia
Cuma mendapat dunia
.
1984
.
KITA MERINDUKAN ANAK-ANAK INDONESIA
.
Kita merindukan anak-anak Indonesia
Berwajah cerah gembira pergi ke sekolah
Kita merindukan berjuta anak Indonesia
Mendapat peluang serupa
Dididik membaca buku, menuliskan fikiran
Merenangi lautan ilmu, mencintai perpustakaan
Kreatif dan sensitif terhadap kehidupan
Mencintai Ayah dan Ibu
Hormat pada Guru penuang ilmu
Solider dan beramal bagi bangsa
Tak canggung dalam pergaulan dunia.
.
Kita merindukan anak-anak Indonesia
Diberi kesempatan mendaki seluruh jenjang pendidikan
Sehingga terpelajarlah wajah bangsa
Mendapat pencerahan pada rohaninya
Menjadi insan yang bekerja keras dalam ketawakkalan
Senantiasa hidup di bawah naungan kejujuran
Sungguh berat ini beban bersama
Ini kerja panjang dan berjangka lama
Karena itu kepada Tuhan kita mohonkan
Semoga kita dianugerahiNya kekuatan.
.
2005
.
KUPU-KUPU DI DALAM BUKU 
.
Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api, di ruang tunggu
praktek dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang
di sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya di negeri
mana gerangan aku sekarang,
.
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang, di perpustakaan
yang mengandung ratusan ribu buku dan cahaya lampunya
terang-benderang, kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan, dan aku bertanya
di negeri mana gerangan aku sekarang,
.
Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk yang dipajang
terbentang, orang-orang memborong itu barang dan mereka
berdiri beraturan di depan tempat pembayaran, dan aku
bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,
.
Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya
tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya tak bisa
menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian katanya,
“tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang
kupu-kupu”, dan aku bertanya di rumah negeri mana
gerangan aku sekarang,
.
Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis dan ruang
tunggu kereta api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan
perguruan, kota dan desa buku dibaca, di tempat penjualan
buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang di ruang
tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.
.
1996
.
KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI
.
Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
.
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”
.
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
.
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus.
.
1966
.
KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU
kepada Kang Ilen
.
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
.
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih
dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
.
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola
yang bentuknya seperti telur angsa,
.
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta
penduduknya,
.
Kembalikan
Indonesia
padaku
.
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
.
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran
berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
.
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di
dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat, sebagian putih dan
sebagian hitam, yang menyala bergantian,
.
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil
main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam dan membawa
seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
.
Kembalikan
Indonesia
padaku
.
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola
yang bentuknya seperti telur angsa,
.
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta
penduduknya,
.
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih
dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
.
Paris, 1971
.
Baca Syarat Lomba Baca Puisi Piala Taufiq Ismail 2026 DI SINI
.
Editor: Muhammad Subhan