Oleh Muhammad Subhan
SETIAP kali seorang kawan yang juga penulis buku terbarunya terbit, saya selalu mengatakan, “Buku ini saya beli.” Tidak saya minta gratis. Sebab, saya tahu betapa susahnya menulis, menerbitkan buku, apalagi bertahan di dunia kepenulisan yang tidak selalu baik-baik saja.
“Ah, jangan, saya sudah meniatkan buku ini buat Anda,” ujar beberapa kawan yang sejak awal memang tak berniat menjual karyanya. Kendati saya bersikeras membayar, mereka tetap meminta saya menerima buku itu secara cuma-cuma. Penghargaan itu tentu saya terima, walau terhadap beberapa kawan lain, saya tetap memaksa mereka menerima uang untuk buku tersebut.
Semua itu pilihan. Memang, ketika sebuah buku terbit, sebagian penulis tidak berorientasi bisnis. Saya pun tak jarang menghadiahkan buku-buku saya, meski setiap kali ada pemesan yang membelinya tetap saya jual, baik melalui tangan saya atau penerbit.
Pilihan untuk membeli atau menghadiahkan buku pada dasarnya bukan sekadar transaksi ekonomi, tapi bentuk pengakuan atas sebuah proses kreatif yang panjang. Sebab, di balik lembaran kertas yang dijilid itu, ada kerja keras yang tidak ringan. Buku adalah muara tempat potongan-potongan tulisan yang semula berserakan menemukan bentuk utuhnya. Gagasan, pengalaman, dan kegelisahan yang tadinya tercerai-berai di berbagai ruang akhirnya memiliki rumah untuk pulang.
Jadi, memang tidak mudah menulis dan menerbitkan buku.
Dalam konteks kebudayaan, buku hadir sebagai cara merawat ingatan. Apa yang kita tulis hari ini mungkin terasa biasa saja atau dianggap sebagai dinamika keseharian semata. Namun, ketika dibukukan, ia membeku menjadi catatan sejarah yang merekam sebuah zaman. Di dalam buku, suara seseorang tidak mendadak senyap ketika ia selesai berbicara. Kata-katanya terus diulang baca, didiskusikan, dan diwariskan kepada generasi yang bahkan belum pernah bertatap muka dengannya.
Lantas, di tengah gempuran era serbadigital hari ini, mengapa harus tetap berbentuk buku?
Jawabannya terletak pada daya tahan. Buku memberi kesempatan kepada sebuah ide untuk hidup lebih panjang. Kita menyaksikan bagaimana tulisan di media sosial begitu cepat tenggelam oleh gelombang informasi baru. Berita berganti hitungan jam, dan linimasa bergerak tanpa henti menggerus perhatian.
Sebaliknya, buku menawarkan jeda. Buku mengajak pembaca untuk duduk tenang, membalik halaman demi halaman, lalu masuk ke dalam ruang kontemplasi bersama pikiran penulisnya. Ini bukan bentuk penolakan terhadap kecepatan teknologi modern, sebaliknya upaya menjaga kedalaman berpikir agar tidak tergerus oleh pemikiran dangkal yang serba instan.
Lebih dari itu, buku merupakan bentuk pertanggungjawaban intelektual seorang penulis. Ketika kumpulan tulisan disatukan dalam sebuah buku, penulis secara sadar menyatakan kedewasaan bersikap: inilah gagasan yang pernah saya olah, inilah realitas yang pernah saya rekam, dan inilah warisan pemikiran yang saya pertanggungjawabkan kepada publik.
Penulis boleh saja selesai menulis atau bahkan wafat, tapi buku memastikan pemikirannya memiliki daya hidup untuk terus menemukan pembacanya di masa depan.
Tentu ada yang berargumen bahwa buku secara fisik hanyalah sebuah produk komoditas yang bisa diproduksi massal dan dengan mudah ditiru. Pandangan mekanis semacam ini mengabaikan satu hal penting: energi dan konsistensi penulis adalah ruh yang menghidupinya. Karya sebagai barang cetak memang dapat diduplikasi, namun ketekunan dan ikhtiar batin yang melahirkannya tidak akan pernah bisa disalin.
Ruh itulah yang menjadi garis pembeda apakah sebuah karya akan berumur panjang dan relevan, atau justru lenyap tak berbekas sesaat setelah dicetak.
Bagi seorang pengarang, buku bukan sekadar barang cetakan pabrik, melainkan anak batin. Sebuah buku dilahirkan dari proses panjang mengandung imajinasi, mengendapkan ide, lalu dikeluarkan melalui “persalinan kreatif” yang kerap menguras energi.
Oleh karena itu, ketika sebuah buku lahir, ia patut dirayakan sebagaimana masyarakat menyambut kehadiran seorang bayi. Perayaan tersebut tidak harus selalu megah, bisa berwujud peluncuran sederhana, diskusi ilmiah, bincang buku, hingga syukuran kecil dengan mengajak pembaca pertama menerima buku tersebut sembari berdiskusi santai.
Tradisi merayakan buku ini penting untuk membangun ekosistem apresiasi, agar karya tidak langsung terlempar ke dalam ruang hampa.
Begitulah, setiap buku memang akan menemukan nasibnya sendiri. Namun, bagaimana nasib itu berjalan sangat bergantung pada bagaimana pengarang dan masyarakat merawatnya. Tak sedikit anak batin yang gugur di awal kelahiran—dibiarkan menumpuk di gudang, tak di(ter)sapa, hingga akhirnya dilupakan tanpa pernah sempat menyumbang pemikiran bagi zamannya.
Merawat buku berarti merawat peradaban—dimulai dari kemauan membaca, mendiskusikan, dan menghargainya secara wajar. Di era yang serbabising ini, buku mungkin makin tampak asing dan terasing. Akan tetapi, bagi pengarang dan pembaca yang terus bertungkus-lumus di jalan kata, buku tetaplah rumah tempat pulang yang paling asyik dan menghidupkan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah






























































