Oleh Najwa Atthahira

LAMPU layar ponsel menyatu dalam gelap. Jempolnya bergerak pelan, lalu berhenti pada satu video. Sekejap terpingkal, lalu diam. Sekejap tertegun, lalu menangis. Di balik layar kecil itu, ada dunia yang tidak hanya sekedar hiburan, tapi tempat ia mengatur emosi, mengatur ulang perasaan, dan mengekspresikan diri yang tak selalu bisa diucapkan.

Bagi sebagian orang, TikTok hanyalah deretan video singkat yang lewat begitu saja. Namun bagi Abiy (18), seorang siswa SMAN 9 Banda Aceh, setiap scroll adalah cara untuk mendalami hal-hal yang menarik untuk menambah banyak wawasan. Pengetahuan yang ia dapatkan adalah suatu cara untuk memahami dirinya sendiri: antara tawa, sunyi, dan potongan-potongan perasaan yang ia rangkai menjadi ekspresi digital.

Di ruang serba cepat itu, Abiy tak hanya menjadi penonton, ia juga pelaku. Mengelola emosi, memilih apa yang ingin ditunjukkan, dan diam-diam membentuk identitas antara algoritma dan layar yang terus bergerak.

Tidak semua yang terlihat di layar benar-benar sederhana. Di balik video singkat yang terus berganti, ada proses panjang yang tak selalu disadari. Setiap konten yang muncul bukan kebetulan, melainkan sebuah kebiasaan yang terus terekam.

Abiy mulai menyadari itu ketika video yang muncul terasa semakin dekat dengan apa yang ia rasakan. Tanpa ia cari, konten yang hadir seolah mengerti pikirannya. “Tapi kadang waktu lagi pusing trus buka TikTok malah jadi tambah pusing,” ungkapnya sambil tertawa.

Saat tekanan datang, ia tak selalu mencari jawaban di luar. Ia membiarkan dirinya
menemukan bentuk lain untuk menggambarkan perasaan yang sulit diungkapkan. “Kalau buka TikTok seringnya menonton tentang politik, balap-balap mobil, bahkan jarang juga buka TikTok,” ungkap Abiy.

Menurut Abiy, cara menenangkan diri tentu berbeda-beda. TikTok bukanlah satu-satunya pelarian saat diri berada dalam tekanan, tetapi melalui tulisan seseorang juga bisa meluapkan apa yang sedang dirasakan. “Abiy juga baru-baru ini pakai TikTok, biasanya pakai TikTok untuk tambah wawasan aja’.

Abiy benar-benar memanfaatkan penggunaan alat digital dengan baik. Dalam diam, ia belajar memilih mana yang ingin ia simpan, mana yang ingin ia lewati. Bahkan dengan TikTok maupun Instagram, Abiy dapat membuat video-video yang menjadi motivasi bagi generasi muda.

Tidak berdasarkan tekanan, tapi seperti itulah cara ia meluapkan perasaannya. “Kalau waktu kosong, Abiy lebih pilih menulis atau membuat poster digital, bahkan mengedit foto/ video,” ungkapnya. “Abiy juga suka mengedit video cinematic alam, karena Abiy suka travel, naik gunung, dan mengunjungi tempat-tempat terbuka lainnya,” sambungnya.

Tidak semua hal bisa diselesaikan oleh layar. Ada saat di mana Abiy harus berhenti, memberi jarak dan kembali pada dirinya sendiri tanpa perantara. Di titik itu, ia mulai memahami bahwa apa yang ia rasakan tidak selalu harus ditemukan di luar.

Meski begitu, ia tidak sepenuhnya meninggalkan jejak digital tersebut. Baginya, layar tetap menjadi salah satu cara untuk menata emosi, selama ia mampu mengendalikannya.

Perlahan, ia belajar bahwa bukan hanya konten yang membentuk dirinya, tetapi juga cara ia merespon “cek sebelum percaya,” ucapnya. Dari situlah karakter mulai terbentuk dari kebiasaan kecil yang terus berulang. Di tengah arus yang cepat, ia berusaha tetap memberi ruang untuk memahami perasaan secara utuh. Tidak hanya menerima, tetapi juga menyaring.

Abiy juga memiliki sebuah kebiasaan di sela rutinitas yang padat dan banyaknya tumpukan tugas. Ketenangan dan kesunyian membuatnya menjadi lebih fokus dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. “Kalau nugas biasanya Abiy sambil dengar musik, tapi kaya instrumen aja, biar ada vibes tenang gitu,” serunya.

Apa yang terlihat sebagai kebiasaan sederhana, justru menyimpan banyak proses yang lebih dalam. Tentang bagaimana seseorang menghadapi tekanan, dan memilih cara untuk bertahan. Berbeda dengan generasi saat ini yang terbiasa mengekspresikan diri melalui layar. Generasi sebelumnya memiliki cara yang lebih sederhana dalam menghadapi tekanan.

Nurisyanti S.Pd, guru seni budaya pembimbing Abiy. Baginya media sosial tidak bisa
dijadikan satu-satunya pelarian. Saat perasaan tak menentu, mereka cenderung menenangkan diri melalui aktivitas positif. “kalau saya, jujur tidak terlalu suka bermain media sosial, tapi saya pakai juga, dan saya biasanya menenangkan diri cukup dengan mengaji, berserah diri kepada Tuhan, bahkan berbicara dengan orang terdekat, atau sekedar memberi waktu bagi diri sendiri. “

Kini, kehadiran platform seperti TikTok membuat proses tersebut terasa lebih cepat dan instan. Perasaan dapat langsung tersalurkan melalui konten yang ditonton maupun dibagikan. “Bagi generasi muda, bijaklah dalam mencari konten, kalau bisa cari konten yang bisa menambah wawasan aja, boleh tapi harus dibatasi, dan jangan terima informasi mentah-mentah,” ucap Bu Nuris.

Namun, perubahan ini juga membawa dampak tersendiri, di satu sisi membuat seseorang lebih terbuka, tetapi di sisi lain berpotensi mengurangi kesabaran dalam menghadapi proses.

Abiy tidak selalu sadar kapan sebuah karakter positif itu terbentuk pada dirinya. “kadang gak sadar juga ya, cara Abiy interaksi dengan orang lain, tapi itu mungkin sangat mempengaruhi Abiy. Dan itu semua kembali gimana orang lain yang melihatnya.

Seni digital tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh kemampuan. Kreativitas, dan cara seseorang mengekspresikan diri melalui teknologi. Baik bagi laki-laki dan perempuan sama-sama bisa membuat desain grafis, video editing, sinematic, maupun animasi, dan karya visual lainnya.

Justru dalam praktiknya, banyak laki-laki yang juga aktif di bidang seni digital. Misalnya, sebagai editor video, animator, atau konten kreator lainnya. Seni digital adalah ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berkarya. Karena yang terpenting bukan siapa orangnya, tapi apa yang ingin disampaikan.

TikTok tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi jika digunakan dengan sadar dan positif, TikTok dapat menjadi ruang seni digital, media baru di zaman kini yang membentuk cara anak muda mengelola emosi, memahami diri sendiri, menambah wawasan, dan memperkuat karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Di ruang digital, emosi tidak hilang. Ia hanya menemukan bentuknya.[]

Najwa Atthahira. Murid SMKN 2 Banda Aceh, jurusan Desain Pemodelan Informasi Bangunan. Memiliki minat di bidang jurnalistik dan ingin menambah banyak wawasan. Kreativitas adalah cara kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Penulis: Najwa Atthahira
Editor: Suria Tresna

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.