Oleh Agusni AH

SEJAK Pluto[1] dikeluarkan dari kumpulan kosmik[2] fana, setelah sebelumnya menduduki takhta tertinggi, ia kini berasimilasi dengan penduduk Bumi.

Membaur dengan makhluk di planet strata tiga mengharuskannya melebur ke dalam tatanan kehidupan yang sama sekali baru. Ia harus meninggalkan kebesaran, menyembunyikan asal-usul, dan menjalani kehidupan sebagaimana makhluk fana lainnya.

Bagi Pluto, itu bukan perkara mudah. Bahkan, mungkin merupakan pengorbanan paling berat yang pernah dijalaninya.

Namun, menjadi bagian dari kehidupan fana adalah sebuah keharusan.

Sebab, untuk mendapatkan kembali takhta, Pluto harus terlebih dahulu menjadi bagian dari mereka yang kelak akan mengangkatnya.

Namanya telah tercatat selama miliaran tahun dalam kitab-kitab langit. Namun, sebuah keputusan Persatuan Astronomi Dunia mendepaknya dari singgasana kosmik. Ia bahkan dihakimi sebagai penduduk katai[3], makhluk yang tak lagi memenuhi syarat untuk menduduki urutan tertinggi dalam tata peredaran semesta.

Sejak saat itu, Pluto menyimpan luka yang tak terlihat. Bukan karena kehilangan tempatnya di langit, melainkan karena sebuah keputusan manusia di Bumi telah mengubah derajatnya di hadapan semesta.

Maka ia turun.

Bukan untuk menjadi manusia, tetapi untuk membuktikan bahwa yang pernah kehilangan takhta masih mungkin merebut takhta yang lain.

Pemilihan raya pun digelar. Pluto, yang telah mendiami Bumi selama beberapa tahun terakhir, mulai ikut mewarnai denyut kehidupan penduduk planet strata tiga itu. Dengan segala cara, ia memengaruhi pikiran, pilihan, dan arah kehidupan mereka.

Ia sadar, pemilihan raya bukan sekadar pertarungan untuk mendapatkan suara. Itulah pintu pertama menuju takhta yang pernah direnggut darinya.

Kampanye pun digelar. Pluto hadir, tampil di atas panggung—di hadapan mimbar yang dipenuhi sorot mata dan telinga penduduk Bumi. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, ia mengumbar pidato berapi-api, membakar kerumunan dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa.

Ia bagai singa podium. Raungannya menjelma slogan, gerak tangannya menjadi komando, dan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seolah-olah mampu mengguncang planet strata tiga. Penduduk bersorak, sebagian terpukau, sebagian lagi hanyut oleh janji-janji tentang masa depan. Pluto tersenyum. Ia tahu, untuk kembali menjadi raja, ia tak perlu lagi menaklukkan langit. Cukup menaklukkan suara-suara di Bumi.

“Tak sejengkal pun tanah Bumi boleh dijajah oleh kekuasaan kapital! Kita wajib bersatu menumpas kezaliman di Bumi!” seru Pluto lantang. Suara itu menggelegar dari podium, menjalar ke tengah kerumunan, lalu pecah menjadi sorak-sorai. Penduduk Bumi bersuka ria, girang tak kepalang. Bagi mereka, Pluto bukan lagi sekadar pendatang dari ruang kosmik yang kehilangan takhta. Ia menjelma sosok pembaharu, pembawa harapan menuju kegemilangan masa depan planet strata tiga. Pluto mengacung tangan tinggi-tinggi. Kerumunan kembali bergemuruh. Penduduk Bumi terkesima.

Kampanye usai. Pemilihan raya pun berlangsung. Para kandidat tak lagi berseteru di atas panggung, tak lagi saling melempar pidato dan janji. Kini pertarungan berpindah ke ruang-ruang sunyi—bilik-bilik suara.

Satu demi satu suara jatuh. Nama-nama kandidat dipanggil, dihitung, dan disandingkan. Ketegangan menggantung di udara Bumi.

Di antara sekian banyak nama, Pluto memiliki kans paling besar. Sejak awal, ia telah menguasai hati para pemilih. Janjinya tentang pembaruan, keadilan, dan pembebasan dari cengkeraman kapital telah membius penduduk planet strata tiga.

Hingga akhirnya, keputusan itu diumumkan. Pluto terpilih sebagai raja baru Bumi. Sorak-sorai kembali mengguncang planet itu. Pluto menundukkan kepala sejenak. Kemudian tersenyum. Takhta yang pernah hilang dari langit, kini berhasil ia temukan di Bumi. Oposan bermunculan, penuh heran menyaksikan sebuah kemustahilan. Mereka tak percaya Pluto, pendatang dari langit yang pernah terusir dari singgasana kosmik, kini justru dinobatkan sebagai raja di Bumi.

“Sungguh, ini sebuah kemustahilan! Jika pemilihan raya bukan sandiwara, pasti ada permainan di baliknya. Ada tangan-tangan penyelenggara yang bekerja dalam gelap!” seru seorang oposisi lantang.

Anehnya, seruan itu disampaikan dalam sebuah demonstrasi sunyi. Tak ada teriakan. Tak ada kericuhan. Hanya lembaran-lembaran kertas yang diangkat tinggi, sementara mulut-mulut mereka terkunci.

Bumi mendadak terasa senyap.

Namun, dalam kesunyian itu, kecurigaan justru berteriak lebih keras daripada suara apa pun.

“Jika ini tak bisa kita hentikan, maka pada pemilihan mendatang wajib kita bungkam!”

Seruan itu mengalir dari barisan oposisi. Mereka saling berpandangan. Kalimat itu kemudian menjalar dari satu mulut ke mulut lainnya, berubah menjadi tekad yang kian mengeras.

Namun, Pluto tetap tenang di singgasananya. Ia hanya tersenyum, seolah-olah telah mengetahui sejak awal bahwa kekuasaan tak pernah benar-benar lahir dari kemenangan semata; ia tumbuh dari kemampuan membungkam mereka yang mempertanyakannya.

Di tengah tuduhan yang membabi buta, di planet strata tiga, demokrasi perlahan kehilangan suara. Suara-suara yang dahulu riuh di panggung kampanye mulai diredam. Kritik dianggap ancaman, perbedaan dipandang sebagai pembangkangan, sementara pertanyaan-pertanyaan tentang pemilihan raya perlahan dipaksa tenggelam. Pluto tetap duduk di singgasananya.

Lewat kaki tangan panjangnya, Pluto mulai menyosialisasikan gagasan baru: demokrasi lanjutan tanpa pemilihan.

Di berbagai penjuru planet strata tiga, gagasan itu digaungkan sebagai jalan keluar dari kegaduhan politik. Pemilihan raya dianggap telah terlalu banyak melahirkan perpecahan, sementara suara rakyat dinilai cukup diwakili oleh mereka yang telah berada di lingkaran kekuasaan.

“Bukankah demokrasi akan lebih tenang tanpa pertarungan suara?” demikian narasi yang disebarkan.

Pelan-pelan, sesuatu yang semula terdengar mustahil mulai dibuat terdengar masuk akal.

Dan tanpa disadari penduduk Bumi, hak memilih sedang dipindahkan menjadi hak untuk dipilihkan.

Di atas sana, langit masih beredar sebagaimana mestinya. Planet-planet tetap mengitari Matahari. Hanya satu yang berubah: di Bumi, suara rakyat mulai kehilangan orbitnya.*.

Jakarta, Medio 2026.

1. Pluto: nama planet tertinggi utama urutan sembilan, sejak 2006 oleh International Asronomical Union mengeluarkannya karena dianggap tidak lagi memenuhi syarat sebagai planet.

2. Katai: benda langit yang mengorbit matahari, dan berbentuk hampir bulat, tetapi belum memenuhi semua syarat untuk disebut planet.

3. Kosmik: alam semesta beserta seluruh isinya.

Agusni AH. Ia aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, dan Merengkuh Asa yang ditulis bersama Putra Zulfirman. Karya terbaru buku kumpulan cerpen Tikai (sudah terbit). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di Harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilihan dan pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.

Penulis: Agusni AH
Editor: Muhammad Subhan

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.