BARITO SELATAN, INSERTRAKYAT.COM — Indonesia seperti tubuh besar yang dibangun dari banyak bagian. Ada suku, adat, budaya, sungai, hutan dan bentang alam yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Semuanya hidup berdampingan dan membentuk wajah Indonesia.

Salah satu bagian itu berada di Muara Malungai, Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Namanya Sungai Ayuh.

Umumnya, untuk masyarakat Dayak Lawangan, sungai ini bukan sekadar aliran air. Di sana ada kehidupan, tradisi, ruang berkumpul dan jejak pengetahuan leluhur yang masih dipertahankan.

Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Foto Populer 2026).

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, suasana Sungai Ayuh berubah ramai. Warga Malungai Raya dan Muara Malungai berbondong-bondong turun ke sungai untuk melaksanakan Tuba Adat Dayak Lawangan.

Anak-anak, orang dewasa hingga tetua adat berkumpul. Suasana berlangsung meriah dan penuh kegembiraan.

Tuba Adat dipimpin Sabtu, Penghulu Adat Hindu Kaharingan Dusun Muara Malungai, Desa Bintang Ara.

Usupriyadi, pewarta InsertRakyat.com, bersama dengan tim yang melakukan liputan, kemudian melaporkan kegiatan di kawasan Muara Malungai.

Aku Pinjam Kacamata Tito Karnavian, Melihat Sungai Ayuh
Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Foto populer).

Tuba Adat diawali dengan doa dan mantra kepada Sang Pencipta. Akar tuba ditumbuk, kemudian disebarkan ke sungai.

Warga lalu menggunakan alat tradisional untuk menangkap ikan yang terdampak getah alami dari akar tersebut.

Jika hanya dilihat sekilas, kegiatan itu seperti aktivitas menangkap ikan bersama.

Namun, maknanya lebih dalam.

Masyarakat sedang menjaga sebuah warisan.

Adat menjadi ingatan yang terus dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia mengajarkan hubungan manusia dengan alam sekaligus menjaga kebersamaan masyarakat.

Karena itu, adat tidak cukup hanya disimpan dalam cerita.

Adat harus dijalankan agar tetap hidup.

Dan di Sungai Ayuh, kehidupan itu masih terlihat.

Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Sungai Ayuh layak dibayangkan seperti darah yang mengalir dalam tubuh bumi.

Air membawa kehidupan. Ikan hidup di dalamnya. Masyarakat beraktivitas di sekitarnya. Satwa liar juga menjadikan kawasan sungai sebagai bagian dari habitatnya.

Jika darah manusia berhenti mengalir, tubuh kehilangan kehidupan.

Begitu pula alam.

Ketika sungai rusak, tercemar atau ekosistemnya terganggu, yang terdampak bukan hanya air. Masyarakat dan lingkungan di sekitarnya ikut merasakan akibatnya.

Karena itu, menjaga Sungai Ayuh bukan semata menjaga objek wisata.

Yang dijaga adalah sumber kehidupan.

Di kawasan ini terdapat tebing dan formasi batuan yang menjadi daya tarik alam. Salah satunya Tulungan Amis, kawasan dengan formasi batuan dan aliran air yang dapat dijelajahi menggunakan kelotok.

Di sinilah alam dan budaya bertemu.

Sungai menjadi ruang.

Adat menjadi ingatan.

Masyarakat menjadi penjaga.

Dan budaya menjadi identitas.

Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Foto Populer 2026).

Keramaian Tuba Adat memperlihatkan bahwa tradisi tersebut masih mempunyai tempat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Namun Sungai Ayuh juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan.

Kawasan sungai dihuni satwa liar, termasuk buaya. Masyarakat setempat memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam beraktivitas di lingkungan tersebut.

Pengetahuan lokal penting, tetapi pengembangan wisata membutuhkan pengelolaan keselamatan yang lebih jelas.

Wisatawan perlu mengetahui kondisi sungai, keberadaan satwa liar, titik yang aman dan batas aktivitas yang harus dihormati.

Jangan sampai keindahan membuat orang lupa bahwa alam mempunyai aturan sendiri.

Sungai bukan kolam renang.

Dan alam bukan panggung yang selalu bisa dikendalikan manusia.

Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Warga mengikuti pelaksanaan Tuba Adat Dayak Lawangan di Sungai Ayuh, Muara Malungai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Sungai Ayuh memiliki modal wisata yang sudah tersedia.

Alamnya ada.

Tradisinya ada.

Masyarakatnya ada.

Budayanya hidup.

Tantangannya adalah bagaimana semua itu dikembangkan tanpa kehilangan jati diri.

Pariwisata seharusnya menjadi jantung ekonomi, bukan mesin yang perlahan menghabiskan tubuh tempat wisata itu hidup.

Jika wisatawan datang, masyarakat harus mendapatkan manfaat.

Jika fasilitas dibangun, lingkungan harus tetap terlindungi.

Jika budaya diperkenalkan, masyarakat adat harus tetap menjadi pemilik cerita.

Dan jika Tuba Adat menjadi daya tarik, jangan sampai makna tradisinya kalah oleh kepentingan tontonan.

Wisata yang baik bukan yang paling ramai, tetapi yang mampu membuat alam tetap hidup dan masyarakat tetap berdaya.

Aku Pinjam Kacamata Tito Karnavian

Prabowo Tinjau Karhutla Kubu Raya, Tito Tak Ketinggalan
Presiden Prabowo meninjau penanganan karhutla di Desa Limbung, Kubu Raya, Kalimantan Barat, setelah memimpin rapat terbatas di Supadio. Ia didampingi oleh Mendagri Tito Karnavian. (22/8/2026).

Dari Muara Malungai, ada satu cara untuk melihat Sungai Ayuh lebih luas: aku pinjam kacamata Tito Karnavian.

Bukan untuk melihat Sungai Ayuh sekadar sebagai destinasi.

Tetapi untuk melihat apa yang berada di balik sungai itu.

Ada masyarakat yang masih menjaga adat.

Ada budaya yang belum kehilangan ruang.

Ada alam yang masih menjadi bagian dari kehidupan.

Ada potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

Dan ada pekerjaan rumah pemerintah agar semua bagian itu tidak berjalan sendiri-sendiri.

Masyarakat adat Muara Malungai sangat berharap Tito Karnavian kembali berkunjung ke Kalimantan Tengah pada kesempatan mendatang.

Harapan tersebut bukan sekadar soal kedatangan seorang tokoh.

Masyarakat ingin kekayaan adat, budaya dan alam yang mereka jaga dapat dilihat lebih dekat dan mendapat perhatian yang layak.

Sungai Ayuh tidak membutuhkan kata-kata besar.

Yang dibutuhkan adalah perhatian pemilik kaca mata.

.

Baca JugaMendagri Tito Dampingi Prabowo Bahas Penanganan Karhutla Kalteng

.

Potensi Sungai Ayuh sebenarnya sudah terlihat.

Tuba Adat masih dilaksanakan.

Masyarakat masih berkumpul.

Alam masih menjadi bagian dari kehidupan.

Tulungan Amis masih menyimpan pesona.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kawasan ini memiliki potensi.

Pertanyaannya, apakah potensi itu akan dikelola dengan serius tanpa merusak apa yang membuatnya berharga?

Mendagri Tito Dampingi Prabowo Bahas Penanganan Karhutla Kalteng
Mendagri Tito Karnavian mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan karhutla di Palangka Raya, Sabtu (22/8/2026).

Pemerintah Kabupaten Barito Selatan dapat memberi perhatian melalui pembinaan masyarakat, fasilitas penunjang, akses, informasi keselamatan, promosi wisata dan perlindungan lingkungan.

Tetapi pembangunan harus mengikuti karakter kawasan.

Jangan membangun pariwisata dengan cara yang justru menghancurkan alasan wisatawan datang.

Satu Tubuh, Banyak Kehidupan

Adat adalah ingatan.

Budaya adalah jiwa.

Alam adalah tubuh.

Sungai adalah darahnya.

Masyarakat adalah denyutnya.

Pariwisata dapat menjadi jantung ekonominya.

Semua bagian itu harus bergerak bersama.

Jika adat hilang, identitas ikut terkikis.

Jika alam rusak, kehidupan ikut terganggu.

Jika masyarakat tidak memperoleh manfaat, pariwisata kehilangan kepercayaan.

Karena itu, Sungai Ayuh seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tempat yang indah untuk dikunjungi.

.

Editor : Mas Abu
Pewarta: Usupriyadi
Penulis: Ami Riyadi dan Usupriyadi