PUISI
Di tenda pengungsian
Si kecil tertawa, ia tampak senang sekali.
Mungkin, ia bahagia mendapatkan suasana baru, sebab ini pertama kalinya ia mengalami hal ini.
Ibu…?
Ia terpaksa ikut tersenyum, bermain dengan buah hatinya.
Baginya, kebahagiaan buah hatinya adalah segalanya di atas beban yang sedang ia pikul.
Lalu ayah?
Ia mengais sisa-sisa reruntuhan gempa.
Berharap masih ada yang tersisa.
Lalu ia kembali ke tenda, menyapa buah hatinya dengan senyum yang paling berat.
Sebab, ia harus tersenyum meski batu yang ia susun, kayu yang ia sambung dengan keringat telah menjadi kenangan yang sebentar lagi akan sirna
Nitapleat, 15 Agustus 2026
Doa untuk ibu
Pada-Mu langit yang maha luas
Pada-Mu samudra yang tak tersebarng
Pada-Mu yang maha kuasa, kulantunkan doa untuk seorang wanita yang sedang berdoa untukku itu.
Syukur karena aku dilahirkannya
Syukur karena aku dirawatnya
Syukur karena ia selalu mendoakan ku
Amin.
Nitapleat , 16 Agustus 2026
Selepas gempa
Sunyi
Barangkali mereka sedang berduka
Bertanya, apa salah kami?
Atau menyadari, bahwa alam begitu besar untuk kita (manusia) yang kadang merasa besar ini.
Nitapleat, 16 Agustus 2026
Puisi ini ditulis di NTT oleh Afri.

Arif/Afri Juang InsertRakyat.com NTT
Editor: Supriadi Buraerah





























































