PADANG PANJANG, InsertRakyat.com – Komunitas Seni Kuflet membahas dasar-dasar editing film dalam diskusi rutin yang digelar Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Harian Kuflet, Nofal Dwi Saputra, sebagai pemateri, sementara anggota Kuflet, Yasmin, bertindak sebagai moderator.

Nofal menjelaskan, editing dalam film merupakan proses memilih, memotong, dan menyambung shot hasil syuting hingga menjadi sebuah alur cerita.

Menurutnya, file hasil syuting perlu disimpan minimal dalam dua folder sebagai cadangan.

File tersebut juga sebaiknya disusun berdasarkan scene, shot, dan take agar memudahkan editor saat melakukan proses editing.

“Pengelompokan file berdasarkan scene, shot, dan take dapat mempermudah editor dalam melaksanakan tugasnya,” ujar Nofal.

Terkait perangkat editing, Nofal menyebut salah satu aplikasi yang dapat digunakan adalah CapCut.

Sementara untuk perangkat komputer, laptop dengan kisaran harga Rp10 juta ke atas dapat mendukung proses editing agar berjalan lebih lancar.

Namun, penggunaan perangkat tetap bergantung pada kenyamanan editor dan format film yang dikerjakan.

Nofal juga menjelaskan tahapan kerja editor. Editor mengelola shot yang telah diambil saat proses syuting, kemudian memilih dan menyusunnya menjadi sebuah cerita. Hasil penyusunan awal tersebut disebut rough cut.

Setelah itu, sutradara dapat memberikan revisi terhadap rough cut. Proses tersebut dapat berlangsung beberapa kali hingga mencapai picture lock, yakni hasil akhir editing yang tidak lagi mengalami perubahan.

Dalam editing film, terdapat sejumlah jenis cutting, di antaranya continuity cut, jump cut, match cut, cross cut, J cut, dan L cut.

Adapun transisi antar-shot meliputi cut, fade in, fade out, dissolve, dan wipe. Masing-masing memiliki fungsi sesuai kebutuhan cerita.

Anggota Komunitas Seni Kuflet, Ferli, menanyakan fungsi berbagai jenis transisi serta kesesuaian rasio gambar dengan platform distribusi film.

Nofal menjelaskan bahwa setiap transisi memiliki tujuan tertentu yang harus disesuaikan dengan naskah cerita. Pemilihan transisi juga tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan adegan.

“Setiap transisi punya tujuan yang disesuaikan dengan naskah cerita,” ujarnya.

Menurut Nofal, aspek rasio juga perlu dipertimbangkan sejak awal produksi. Sebelum membuat film, pengkarya perlu menentukan platform yang menjadi tujuan distribusi karena setiap platform dapat memiliki kebutuhan format yang berbeda.

Sementara itu, peserta diskusi, Fitri, menanyakan apakah perlu dibuat gambaran sebelum proses pengambilan gambar dilakukan.

Nofal menjelaskan, gambaran tersebut dapat dibuat pada tahap praproduksi melalui storyboard.

Storyboard membantu tim produksi memperoleh gambaran mengenai cerita dan visual yang akan dibuat.

“Editing ibarat sutradara kedua. Dialah yang mengatur alur cerita,” kata Nofal.

Penulis: Fadhil
Editor: Muhammad Subhan

‹
›