Dewis Pramanas. Lahir di Subang, 1 Maret 1987. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes, Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Malam Minggu

malam ini
jarum jam terus berdetak
lampu-lampu kota redup
coba bertahan dari angkuh realita

bising kendaraan hilir mudik
menjadi pelik paling tuli
deretan gedung menyesakkan paru-paru dunia
sampai kapan?

tak ada lagi perempuan sederhana
mencuci pakaian di sungai
tak melihat lagi anak-anak bermain petak umpat
berlarian tertawa lepas

justru sekawanan lelaki berpeci sembunyi dari ruang-ruang obral mulut
bebas menerobos jalan tidur
senyap

ada apa?
isi bumi makin porak
sementara aku masih mencari arah
malam ini!

Subang, 15 Agustus 2025

Kertas Robek

riuh suara
menjejak akumulasi luka
berulang-ulang selalu sama
di podium koar-koar merias diri
mereka berbicara atas nama

menyusun rancangan paling membela
keutamaan seluruh rakyat
namun, isi perut lebih utama
dibanding isi hati dan kepala
rancangan sekadar wacana

sedang carut -marut hidup
semakin melebar
porak poranda amuk semesta di timur
di ujung barat negeri
rakyat ingin berpisah dari naungan pertiwi
para pencetak sumber daya
menggugat bobroknya aturan

tanah dan rerumputan di halaman
kini kering tak bersahabat lagi
mata ini menatap tajam
jalan kemakmuran gelap
keadilan sudah terusir
dari tempat yang semestinya

Subang, 16 Agustus 2025

Melawan Kenyataan

di depan dinding yang pudar
pohon mangga berdiri tegak
menghadap deretan bendera
berkibar tertuip semilir
seperti memberi isyarat
bangkit melawan kenyataan

di sepanjang jalan
biasa ramai burung bernyanyi
tetiba hening pagi ini
saat semua orang suka cita
rayakan hari bersejarah
satu sisi di ujung pulau
meratapi kisruh berpisah

tampak keramik mengelupas
sebab terus dihantam waktu
sesekali hujan menggenangi
di atas genting yang bocor
kumpulan peristiwa jadi penyebab
langit rumah berhamburan jatuh

semua telah menjadi dokumentasi
usah menunggu datang asa
seakan tak percaya lagi proses
meniti masa depan
cukup di mulut saja
menunggu habis
masa yang tersisa

Subang, 17 Agustus 2026

Penulis: Dewis Pramanas
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.