Oleh Atthoriq Chairul Hakim
Prolog
KONON, setiap bahasa memiliki umur tidak terukur oleh tahun, melainkan dapat hidup oleh ingatan manusia. Selama masih terucap oleh bibir, terdengar oleh telinga, dan hati memahami maknanya, bahasa itu akan tetap hidup. Jika kata-kata terakhir tidak lagi diwariskan, ia perlahan senyap. Yang hilang bukan hanya bunyinya, melainkan kisah-kisah membentuk kehidupan masyarakat.
Masyarakat tua di Kampung Pondok menyimpan sebuah cerita yang jarang diperdengarkan kepada anak cucunya. Mereka percaya apabila sebuah bahasa berada di ujung tanduk, maka akan datang seorang Pemburu Cerita. Ia bukan lah pemburu hewan atau harta, melainkan pengembara demi mengumpulkan serpihan kata hampir terlupakan. Orang-orang menganggapnya pengelana atau pengembara, sisi lain ia dipercayai sebagai orang yang pernah hidup di masa lampau untuk mengusut kembali suatu catatan sejarah.
Tepatnya di sudut Kota Padang kawasan Pondok, bahasa tersebut masih sesekali terdengar di warung kopi, lorong sempit, rumah-rumah berusia puluhan tahun hingga percakapan sesepuh enggan melupakan ingatan masa lalu. Bahasa Pondok lahir dari perjumpaan etnis Tinghoa dengan Minangkabau, ia bukan hanya kumpulan kosakata, melainkan rekam sejarah tentang perdagangan, kekerabatan serta perantauan yang seharusnya diwariskan ke generasi berikutnya.
Zaman pun lebih cepat bergerak dari ingatan, anak-anak muda mulai beralih menggunakan bahasa umum, arsitektur tradisonal berganti bangunan baru, paling mirisnya para penutur fasih mulai meninggalkan dunia satu-persatu. Beriringan dengan itu, kata-kata dahulunya begitu akrab perlahan kehilangan tempat dalam keseharian. Dengan perubahan itulah, dibuka lagi buku catatan tua untuk melanjutkan kemungkinan terhentinya kisah tersebut.
Tidak ada yang menyadari kala waktu pemuda itu kembali lagi untuk menyusuri Kampung Pondok. Dengan wajah seorang pemuda biasa, ia berjalan dari satu rumah ke rumah lain, sungguh-sungguh mendengarkan kisah nyaris terlupakan, mencatat setiap sapaan, dan mengumpulkan setiap kata masih bertahan. Baginya, kosakata bukan sekadar suara, melainkan jejak kehidupan, perihal ini lenyap bukan hanya kata-kata, tetapi cara masyarakat menutur demi mengenang dirinya sendiri.
BAB I
Buku Catatan yang Tak Pernah Ditutup
Catatan Lapangan
Kampung Pondok, Padang
28 Juli 2026
Hari ini aku mendengarkan sebuah sapaan yang tak pernah didengar dalam kamus bagian manapun. Irama katanya begitu lembut seolah membawa gaya Hokkien, begitu hidup di lidah Minangkabau. Mereka pernah mengucapkannya, namun tidak menyadari bawa kata itu adalah saksi bisu dari perjalanan sebuah masyarakat.
Aku percaya bahasa tidak lahir begitu saja, ia dapat lahir dari perdagangan, pernikahan, pertemanan bahkan konflik. Setiap kata tersusun rapih lebih tua dari para penuturnya.
Perjalanan ini belum selesai
Masih banyak cerita belum kutuliskan
A.M
Suara pendingin ruangan berdengung lambat di sela-sela ruang koleksi khusus Perpustakaan Daerah Sumatera Barat. Terdapat rak-rak kayu tua berjajar rapi terisi oleh buku, karya tulis disertai berbagai arsip jarang disentuh oleh pembaca. Kertas menguning dicampuri aroma kayu lapuk memenuhi ruangan, menghadirkan suasana senyap sesekali dipecahkan oleh langkah kaki pustakawan.
Joshua menelusuri deretan katalog dengan saksama. Sudah hampir dua minggu ia mencari bahan untuk penelitian mengenai bahasa lokal mulai ditinggalkan generasi muda. Dosen pembimbingnya mengingatkan jika melakukan penelitian bukan hanya sekadar menggunakan buku, tetapi “Carilah manusianya” itulah pesan paling melekat di kepalanya.
Catatannya sebelum bertemu manusia, ia harus menemukan jejaknya terlebih dahulu.
“Kalau mencari arsip tentang Kampung Pondok”, ujar pustakawan tua itu sambil menunjuk lemari kaca di sudut ruangan, “Coba lihat saja koleksi belum dikatalogkan. Tidak banyak yang membukanya.”
Lemari tersebut berbeda dari rak lainnya, terlihat pada warna cat yang mulai mengelupas, gagang kuningannya kusam dimakan usia. Setelah mendapat izin, Joshua membuka pintu perlahan dan debu tipis beterbangan ketika beberapa map tua dipindahkan. Lalu ia menemukan sebuah buku bersampul warna cokelat tanpa judul.
Ia mengangkatnya dengan hati-hati.
Terlihat tidak layak, sampulnya telah retak di beberapa sisi. Tidak tercantum nama penulis, nomor inventaris, bahkan cap stempel perpustakaan. Hanya ada seutas tali merah sebagai simbol, yang menyiratkan bahwa ada seseorang berniat membuka buku tersebut, tetapi mengurungkan niat di detik akhir.
Rafi membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua juga sama.
Barulah pada halaman ketiga, ia menemukan tulisan mulai memudar dimakan waktu.
“Bahasa jika tidak dicatat akan hilang bersama orang terakhir yang mengingatnya”
Tidak ada tanda tangan.
Hanya dua huruf kecil di sudut kanan bawah.
A.M.
Joshua menekuk dahinya, sambil mengingat nama-nama antropolog atau ahli bahasa yang pernah meneliti kawasan Pondok pada masa kolonial. Nyatatnya tidak ada satupun menggunakan inisial itu.
Ia membalik halaman berikutnya. Berisi peta sederhana Kampung Pondok. Beserta daftar nama keluarga. Sketsa bangunan. Percakapan-percakapan pendek. Beberapa kosakata asing di telinganya.
Ia termangu, di sela-sela halaman terdapat coretan membuatnya berhenti bernapas sejenak.
“Jangan mencari makna katanya dulu. Carilah orang yang masih mengingat mengapa kata itu lahir”.
Joshua merenungi kalimat itu cukup lama.
Ia menyadari dengan rumpun keilmuan antropologi, bahwa bahasa tidak berdiri sendiri, namun di balik itu terdapat hubungan manusia dan sejarah membentuknya. Namun entah mengapa kalimat dalam buku itu bukan sekadar nasihat penelitian baginya. Melainkan ada orang berbicara langsung padanya, mengulang kembali puluhan tahun memisahkan mereka
Halaman terakhir hanya ada satu kalimat.
“Aku akan kembali ketika bahasa ini mulai senyap ditelan waktu”.
Tidak ada halaman setelahnya. Buku itu berakhir begitu saja. Atau mungkin… belum selesai ditulis.
BAB II
Tersimpannya Suara di Kota
Catatan Lapangan
Kampung Pondok, Padang
30 Juli 2026
Sebuah Kota pun dapat kehilangan bangunannya tanpa kehilangan jiwanya. Risikonya, apabila kota tersebut kehilangan bahasa, maka ia akan melupakan jati dirinya sendiri. Hari ini aku belajar bahwa setiap gang memiliki bunyi berbeda. Bukan karena bentuk jalannya, melainkan peran orang yang hidup di dalamnya.
A.M
Langit Padang menyisakan mendung, ketika Joshua menginjakkan kaki di Kampung Pondok. Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa pedagang baru saja membuka toko nya sambil menyapu halaman, serta menyusun kursi kayu yang akan digunakan pelanggan. Aroma kopi harum disertai wangi roti panggang juga rempah-rempah menyertai suasana pagi hari.
Ia memandang, Kampung Pondok merupakan tempat pertemuan dua zaman. Bangunan modern berdampingan dengan arsitektur tradisional yang masih mempertahankan jendela kayu serta lipat peninggalan masa lampau. Beberapa sudut terdapat papan nama bertuliskan huruf latin berdampingan dengan aksara Tionghoa mulai pudar dimakan waktu. Peradaban belum benar-benar pergi dari tempat ini; ia hanya berjalan lebih lambat.
Joshua mengeluarkan buku lapangannya. Halaman pertama ia beri judul:
Observasi Awal Kampung Pondok
Ia menulis.
Field Note 01
Pukul 08.17 WIB. Aktivitas perdagangan mulai berlangsung. Ditemukan bahasa Minangkabau mendominasi percakapan di ruang publik. Ragam tutur lain sering muncul dalam interaksi masyarakat Tionghoa. Perlu ditelusuri lebih lanjut mengenai situasi penggunannya.
Menutup sejenak catatannya, lalu membiarkan dirinya larut dalam ritme kampung tersebut. Seorang pedagang sayur berjual beli menggunakan bahasa Minangkabau. Anak kecil berteriak di lorong sambil bermain. Dari kejauhanpun suara lonceng klenteng berpadu dengan suara azan dari masjid. Tidak yang saling bertentangan, semuanya mengalir harmonis.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, dua perempuan tua duduk di bangku kayu di depan sebuah tokoh obat tua. Terdapat rak-rak kaca di belakang mereka dipenuhi botol obat tradisional warnanya mulai dimakan waktu.
“Cikde, lah lamo ndak nampak. Apo kaba?” sapa perempuan berkebaya hijau.
“Alhamdulillah, sehat. Ang masih rancak datang ka siko?”
“Kalau ndak ka siko, di rumah sepi bana.”
Joshua menyimak percakapan tersebut dengan saksama. Sekilas terdengar seperti bahasa Minangkabau, tetapi ada irama khas. Beberapa kata diucapkan tidak pernah ia temukan dalam buku-buku linguistik yang pernah dibacanya. Ia tidak segera mengahmpirinya. Menurutnya, dalam antropologi pengamatan lebih penting, dari pertanyaan tergesa-gesa.
Beberapa waktu kemudian, seorang pemuda memasuki toko.
“Ci, ada obat batuk?”
Perempuan tersebut merespon menggunakan Bahasa Indonesia.
“Ada. Sebentar ya, saya ambilkan.”
Setelah pemuda pergi, ia kembali mengguna bahasa yang digunakan sebelumnya.
Joshua segera mencatat.
Field Note 02
Penutur menyesuaikan bahasanya mengikuti lawan bicara. Bahasa Pondok digunakan dalam komunitas, sedangkan Bahasa Indonesia digunakan sesama pelanggan atau bersifat umum. Pergantian berlangsung spontan tanpa mengurangi kelancaran komunikasi.
Peristiwa lapangan itu, mengingatkannya akan sejumlah penelitian yang telah ia baca. Bahasa Minangkabau telah menjadi alat komunikasi termasuk menjadi bagian dari adaptasi bahasa komunitas Tionghoa. Perjalanan sejarahnya bahasa ini mengalami penyesuaian ragam tutur, lalu dikenal dengan Bahasa Pondok. Kampung Pondok jadi saksi bisu, dimana bahasa lahir tidak hanya dari perbedaan ragam tutur, tetapi kemampuan komunitas untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Menjelang siang, Joshua memasuki kedai kopi tua, dan bertemu lelaki sepuh yang kelak mengubah cara pandangnya terhadap bahasa.
“Kalau belajar,” ujar lelaki itu sambil menikmati kopi, “jangan hafal katanya”.
“Lalu apa yang harus dipelajari, Pak?”
Lelaki sepuh pun tersenyum.
“Pelajari orang-orang yang memperjuangkan kata itu agar tetap hidup.”
Kalimat sederhana itu terngiang bahkan setelah meninggalkan kedai kopi. Ia menyadari penelitian ini bukan hanya tentang kosakata, namun berkaitan dengan manusia juga sejarah di dalamnya.
Saat berjalan menuju ke ujung gang, perhatiannya tertuju pada seorang pemuda berkemeja putih di bawah papan bertuliskan “Pondok”. Di tangannya mengenggam sebuah buku bersampul cokelat.
Bentuknya…
Sangat mirip dengan buku di perpustakaan kala itu. Pemuda itu tersenyum tipis.
“Akhirnya,” katanya pelan.
“Kamu datang juga.”
Belum sempat Joshua menjawab, pandangannya teralihkan oleh motor yang melintas di antara mereka. Beberapa saat setelah itu, ia melihat pemuda itu sudah tidak berada di tempat lagi.
Yang tertinggal hanya hembusan angin… disertai rasa ingin tahu semakin mengebu-gebu.
BAB III
Pemburu Cerita
Catatan Lapangan
Kampung Pondok, Padang
01 Agustus 2026
Ada yang datang ke kampung untuk mencari jawaban. Disusul juga dengan manusianya. Aku lebih memilih keduanya, ketika manusia berhenti menutur, data kehilangan suara, naasnya sejarah perlahan menjadi kesunyian.
A.M.
Semalam Joshua tidak dapat memejamkan mata.
Pikirannya terus berulang pada sosok pemuda berkemeja putih ia temui di ujung gang Kampung Pondok. Senyumannya begitu akrab, namun mustahil mereka saling kenal. Lebih membuatnya penasaran adalah buku dengan sampul cokelat seperti ia temui di perpustakaan.
Pagi itu, matahari benar-benar tinggi, Joshua kembali menyusuri kawasan Kampung Pondok.
Ia berharap berharap dapat menemukan pemuda itu.
Namun gang kemarin ramai, kini menjadi sepi. Para pedagang baru saja membuka toko, sementara sapu lidi merupakan bunyi pertama menyambut pagi.
Tidak ada siapapun. Hanya sebuah bangku tua menghadap persimpangan jalan. Pada bangku itu terletak selembar kertas terlipat rapi.
“Kalau ingin mengenal bahasa jangan mulai dari kamusnya, mulailah dari orang-orang yang masih mengingatnya”.
Tanpa nama. Tanpa tanggal. Tulis tangannya masih sama persis seperti di buku A.M.
“Sedang mencari seseorang?”
Suara itu datang dari belakang. Joshua menoleh dengan cepat. Pemuda berkemeja putih itu tepat beberapa langkah darinya dengan wajah tenang. Ia masih mengenggam buku tua bersampul kulit.
“Siapa anda?” ujar Joshua.
Pemuda itu pun tidak langsung menjawab.
Ia justru memandang lorong kecil di samping mereka, tempat memulai dagangan juga saling berinteraksi.
“Dengarkan baik-baik.”
Joshua terdiam. Dari kejauhan terdengar dua perempuan tua saling bercakap menggunakan Bahasa Pondok. Percakapannya singkat, lalu ketika pembeli datang bahasanya berganti ke Bahasa Indonesia.
“Apakah kamu mendengarnya?” tanya pemuda itu.
“Iya.”
“Apa kamu dengar?”
“Bahasa Pondok.”
Pemuda itu menggeleng pelan.
“Bukan.”
Rafi mengernyit.
“Lalu?”
“Kamu baru mendengar bunyinya.”
Ia tersenyum tipis.
“Belum ceritanya.”
Merekam bersama menyusuri lorong tanpa tujuan yang jelas. Sesekali berhenti untuk sekadar basa-basi kepada pedagang, menanyakan kabar seorang kakek, atau sekadar mengangguk kepada warga. Hampir semua orang membalas sapaannya dengan ramah, namun tidak ada seorang pun benar-benar memperhatikannya.
“Anda tinggal di sini?” tanya Joshua.
“Sudah sangat lama.”
“Sejak kapan?”
Pemuda itu tidak menjawab. Sebaliknya, pemuda tersebut malah menunjuk rumah bercat krem di sudut jalan.
“Dulu, rumah itu selalu ramai.”
Joshua mengikuti petunjuk darinya.
“Ramai bagaimana?”
“Setiap sore anak-anak berkumpul di teras. Mereka saling bercerita menggunakan Bahasa Pondok, namun tidak yang merasa sedang melestarikan bahasa”.
Lalu berhenti sejenak.
“Mereka hanya sedang hidup.”
Kalimat itu membuat Joshua menunduk.
Selama ini ia selalu memandang bahasa sebagai objek penelitian, dimana setiap kata dicatat serta membandingkan perubahan bunyi. Namun pagi itu ia merenungi bahwa bahasa bukan sekadar lembar teori, tetapi sesungguhnya hidup dalam keseharian.
Mereka pun berhenti di sebuah kedai kopi tua. Pemuda itu memesan dua cangkir kopi hitam.
“Kenapa anda begitu peduli dengan Bahasa Pondok?” tanya Joshua.
Pemuda itu menatap kopi yang masih mengepulkan uap.
“Karena setiap bahasa mengandung bagaimana manusia melihat dunia”.
“Kalau bahasa itu hilang?”
Ia menggeser pandangannya.
“Yang ikut hilang ada cara masyarakat menguak kembali sejarahnya”.
Joshua kembali membuka buku lapangannya. Secara refleks ia hendak menulis. Pemuda itu tersenyum.
“Hari ini, jangan menulis.”
“Lalu?”
“Dengarkan.”
“Kenapa?”
“Karena tidak semua cerita lahir dari pertanyaan.”
Kadang-kadang…
Cerita merasuki orang-orang yang sabar mendengarnya. Menjelang siang, pemuda itu mengajak Joshua untuk beristirahat di sebuah rumah terbuat dari kayu tua.
“Besok datanglah ke rumah ini.”
“Siapa yang tinggal di sini?”
“Seorang perempuan.”
“Namanya?”
Pemuda itu menggeleng.
“Nama tidak terlalu penting.”
“Lalu apa?”
“Ceritanya.”
Kemudian ia menyerahkan secarik kertas kepada Joshua. Namun hanya tertulis satu kalimat serta sebuah alamat “Masih ada seratus kata belum dituliskan.”
Joshua pun mengenggam erat catatan itu. Ketika ia mengangkat kepala, pemuda itu melangkah jauh.
“Hei!”
Persimpangan jalan, seolah sosok tersebut larut dalam keramaian. Dari itu yang tersisa hanya lah suara orang berlarian, harumnya aroma kopi, disertai terbukanya buku catatan Joshua. Awalnya halaman bukunya kosong, kini muncul sebuah kalimat.
“Pemburu cerita tidak sekadar mencari bahasa.”
“Mencari manusia membuat bahasa tersebut begitu hidup.”
Joshua memandangi catatan itu cukup lama. Untuk pertama kalinya, Joshua merasakan ini bukan sekadar penelitian skripsi, namun lebih jauh dari itu.
Ia menjadikan seseorang sebagai panutan. Seseorang yang memulai perjalanan hampir seabad yang lalu.
BAB IV
Penutur yang Menjaga Seratus Kata
Catatan Lapangan
Kampung Pondok, Padang
02 Agustus 2026
Hari ini aku belajar bahwa bahasa tidak hanya disimpan di perpustakaan. Ia mengalir di ruang tamu, pasar, dan setiap aktivitas manusia yang masih menggunakannya. Selama masih ada sosok penutur, sebuah bahasa belum benar-benar hilang.
A.M.
Kata Terakhir Sebelum Hilang
Pagi itu Kampung Pondok terasa lebih tenang dari biasanya.
Gerimis tipis membasahi jalan-jalan sempit diapit rumah-rumah tua. Atap-atap rumah memantulkan rintik hujan jatuh perlahan, sementara aroma kue sedang dimasak terasa dari sebuah toko kopi tua. Beberapa sudut gang, warga saling berinteraksi sebelum membuka toko mereka. Obrolan mereka menggunakan bahasa Indonesia bercampur Minangkabau.
Joshua tetap mengenggam secarik kertas pemberian pemuda misterius. Ia melihat di sebuah rumah, perempuan telah menunggu di kursi rotan yang sama.
“Datang lagi?” tanyanya sambil tersenyum.
Joshua mengangguk ramah.
“Kali ini saya datang bukan sekadar bertanya”.
“Lalu?”
“Saya mau belajar.”
Perempuan itu tersenyum lebar.
“Nah… sekarang perlahan kamu mulai paham.”
Hari itu, percakapan hangat berlangsung, ia tidak hanya mengajarkan pelafalan Bahasa Pondok, tetapi kisah di balik setiap sapaan serta kebiasaan yang menjadi pemersatu masyarakat Tionghoa dan Minangkabau.
Joshua pun menyadari bahasa bukan sekadar deretan kata, namun rumah bagi setiap pengalaman juga cara berpikir setiap komunitas di dunia.
Foto yang Melintasi Waktu
Menjelang siang mereka masih melanjutkan obrolan. Perempuan tersebut berdiri, lalu perlahan menuju lemari kayu tua. Ia mengeluarkan foto dengan sampul album mulai rapuh.
“Ini Kampung Pondok tahun 1928.”
Joshua dengan antusias membuka halaman demi halaman. Ada foto pertokoan tua. Pasar. Anak-anak bermain di depan rumah. Pedagang kain. Perayaan Cap Go Meh.
Kemudian…
Ia terpaku pada satu foto. Ditemuinya foto seorang pemuda berkemeja putih sambil memegang buku catatan. Wajahnya begitu persis seperti yang ia temui beberapa hari lalu.
“Beliau…” suara Joshua tercekat, “… siapa?”
“Tidak banyak yang tahu namanya.”
“Tapi hampir semua orang di kampung ini mengenalnya.”
“Pemburu cerita.”
Bulu kuduk Joshua merinding mendengar fakta tersebut. Perempuan itu tersenyum tipis
“Menurutmu?”
Joshua kebingungan dan pertanyaan itu dibiarkan menggantung.
Bahasa Menolak Sirna
Sore pun mulai turun. Sebelum Joshua pamit, perempuan itu menyerahkan sebuah kota kayu kecil.
“Ini untukmu.”
Kotak tersebut berisikan puluhan lembar catatan kosakata Bahasa Pondok, cerita keluarga, syair lama serta foto belum dipublikasikan.
“Apa ibu yakin memberikannya kepada saya?”
Perempuan itu menggeleng kepala pelan seolah menolak.
“Aku hanya meneruskan.”
“Meneruskan?”
“Tugas pemburu cerita.”
Joshua menatap kota itu tanpa melontarkan sepatah kata. Ia menyadari yang dilakukannya bukan sekadar penelitian akademik, lebih lanjut ia mengemban amanah kolektif.
Teringat pada beberapa pelestarian budaya yang pernah dipelajarinya. Dokumentasi, arsip hingga pengakuan Warisan Budaya Takbenda merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran masyarakat. Namun perempuan itu telah menunjukkan sesuatu lebih mendasar.
Warisan budaya tidak hidup di lemari arsip. Dalamnya, ia dipraktikkan, diucapkan lalu diwariskan.
Jika suatu hari Bahasa Pondok menjadi Warisan Budaya Takbenda itu menjadi pengingat sekaligus kebanggaan. Namun tanpa adanya peran keluarga dalam mengajarkan kepada anak-anaknya, didukung ruang untuk menguatkan kembali bahasa tersebut agar tetap hidup. Maka warisan itu tidak mampu menghidupkan kembali suara yang terdiam.
Pelestarian, pikir Joshua, bukan hanya mengenang masa lalu. Pelestarian adalah memastikan masa depan untuk tetap menghidup dan mengingat.
Lahirnya Pemburu Cerita Baru
Beberapa waktu kemudian. Kampung Pondok kembali ramai.
Terlihat di balai komunitas, anak-anak duduk melingkar sambil menirukan sapaan Bahasa Pondok. Orang tua tersenyum, sesekali membetulkan pelafalan, serta berbagi cerita kehidupan masa kecil.
Joshua begitu sibuk merekam percakapan dengan sesepuh, mendokumentasikan cerita lisan, dan mengarsipkan kosakata yang masih bertahan. Ia memandang bahwa tugasnya belum selesai. Justru baru dimulai.
Menjelang malam, ia kembali membuka buku tua miliki A.M.
Dulunya halaman kosong, kini terisi oleh tinta hitam.
“Bahasa tidak hidup karena dicatat.”
Selanjutnya muncul kalimat.
“Bahasa hidup karena masih diucapkan.”
Joshua mengangkat wajahnya. Lalu ia melihat sosok pemuda berkemeja putih berdiri di seberang jalan, sambil tersenyum.
Kali ini, Joshua tidak mengejarnya. Ia hanya mengangguk pelan, dan ia mengerti bahwa tidak semua pertemuan butuh penjelasan. Ketika anak kecil melewatinya dengan melakukan sapaan menggunakan Bahasa Pondok, pemuda itu hilang di balik cahaya senja. Kini tertinggal bukan lagi rasa penasaran, namun keyakinan. Bahwa selama masih ada yang mencatat serta mewariskan, Bahasa Pondok tidak akan benar-benar berada di ambang senyap.
Sejak hari itu, tanpa disadari, Joshua telah menjadi pemburu cerita berikutnya. []
Penulis: Atthoriq Chairul Hakim
Editor: Muhammad Subhan













































