Andi Wirambara. Lahir 24 September di Ambon. Peraih juara pertama nasional pada tangkai lomba penulisan puisi “Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2012 (PEKSIMINAS XI)” di Mataram. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).

Masih, yang Aku Jumpa

Bisa saja rindu tak perlu berakar dari pertemuan, yang menjadi pohon-pohon rimbun dan kokoh membiarkan kenari menciumi kening bayi-bayinya. Kemudian berpetuah, tiada sangkar manapun yang paling langit selain langit sebagai tempat menghabiskan masa tua.

Namun, sebagaimana wangi kebun menarik aroma kepulangan yang teramat manis, rindu masih mencatatkanmu padaku seperti kaki nyamuk tak terbilas yang menempel di dinding kamar mandi. Tak ada yang paling mengenali rinduku—yang mayit selain aku.

Kau pula tahu, masih kau yang membenang di ruang tunggu dalam kepalaku, di jahitan sofa tempat kita duduk, dan mata bercerita tentang bagaimana sebaiknya kita jatuh cinta.

Memandangi Hanni: Kening

beberapa kali kau menyembunyikan keningmu
handuk pemandian, bandana, atau rambutmu sendiri
tirai-tirai yang menolak untuk disibak
meski pagi tiba berulang sembari menebak
mimpi atau senyummu: mana yang lebih membuat
malam-malam dimakamkan lebih dalam.

aku berkali-kali mengulang pagi,
menyapa udara mana yang sempat
singgah menyentuh kening dan rambut itu
untuk mengurungnya selama terik mampu
melelehkannya menjadi gerimis.

sesekali kau membiarkan keningmu terbuka
terbentang, merentangi ingatan-ingatan
lapang, serupa taman balaikota
titik rindu-rindu berkumpul dan menari,
bersepeda, atau menggelar tikar piknik
sepanjang tak ada demam yang membuat
kenangan di balik keningmu padam dan menguap.

aku di sana, kau tahu? di atas bianglala
merapikan kenang dan kerling sebelum
bulan menyentuhkan diri kepada keningmu.

(2026)

Memandangi Hanni: Mata

antara mataku dan matamu
hanya sejarak mayapada dan angkasa
wajahmu mengabut, tak apa
masih bisa kukenali dengan baik
sebab dalam lihatan-lihatanku
khayal siluetmu tertampang menolak aturan.

antara mataku dan matamu
hanya sejauh lagu dan nada sayup-sayup
suaramu memarau, tak apa
masih bisa kukenali dengan baik
gumam nyanyianmu masih merdu di mataku
sebagai notasi paling pop yang pernah kubaca.

sejauh dan sejarak pertanyaan entah dan kapan
aku mencoba mencari curi nyanyianmu
mataku dan matamu masihlah kutub senama
yang gigih mencoba saling tarik-menarik
enggan patuh pada debar dan rindu yang buram.

(2026)

Nol

nol atau satu, genap atau ganjil
kau bebas memilih memulai dari mana saja

kekosongan lebih menenangkan,
namun rasa ganjil yang singgah
lebih lihai dalam melenakan

jikapun bukan tentang bilangan
kau mungkin memilih hal-hal nihil
semisal, isi kepala tanpa kelumit pikiran
ringan pundak tanpa beban
atau mata dengan kantung yang kempis

pun kertas yang kaugambari pemandangan
mula-mula adalah putih kekosongan
lalu mulai kaumunculkan gunung, terowongan,
atau pantai lapang dan langit jingganya
untukmu masuk dan berlarian, memainkan
helai bulumatamu sebagai kembang api

kemudian tanpa kau tahu, aku ikut
menggambari diriku berdiri di atas pasir,
sebagai sebuah pintu yang menyiapkan
selembar pagi yang baru terbit di baliknya

lantas kau bebas kembali lagi sesuka hati
menjumpai lagi jingga pantai tempatmu kini
berlari dan bermain kembang api

aku akan membiarkan diriku terbuka,
kau bisa selalu lewat dan kembali
agar senyummu selalu lahir berkali-kali
dari nol, dari cerah, dan kembali cerah
sebelum hari sempat membuatnya memucat

dan membiarkanku tetap berdiri di sana
sebagai hal paling ganjil di pantaimu
yang tak pernah mengerti apakah rindu
pernah memulai dirinya lebih dulu,
dari nol

bukan tiba-tiba menjadi keganjilan sebanyak ini.

(2026)

Penulis: Andi Wirambara
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Terbaru

Sajak-Sajak Andi Wirambara

Bilik Elipsis
56 menit yang lalu

Anak-anak yang Memerah Putih

Bilik Elipsis
1 jam yang lalu

Jumud

Bilik Elipsis
2 jam yang lalu

Dongeng di Ruang Terapi

Bilik Elipsis
2 jam yang lalu

Puisi-Puisi Ika Dahliawati

Apresiasi
2 jam yang lalu