Oleh Muhammad Subhan

SAYA tidak ragu, jika buku-buku bantuan pemerintah sampai ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pasti akan digerakkan dengan berbagai kreativitas oleh para pengelolanya. Pegiat TBM memiliki banyak program inovasi agar buku-buku tersebut benar-benar dibaca.

Namun, saya ragu jika buku-buku bantuan pemerintah sampai ke perpustakaan desa atau nagari. Kecenderungannya, buku-buku itu lebih banyak diam di rak. Tentu tidak semuanya; ada sejumlah perpustakaan desa/nagari yang aktif, tapi sebagian besar tidak.

Saya menemukan fakta itu dalam sejumlah kunjungan ke perpustakaan desa/nagari. Perpustakaan-perpustakaan itu sepi. Petugas perpustakaan beralih alasan dengan mengatakan bahwa mereka telah mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan buku-buku yang ada, tapi perpustakaan tetap sepi. Ujung-ujungnya, kesalahan kembali dibebankan kepada minat baca masyarakat yang dianggap rendah.

Padahal, jika ditelisik lebih jauh, masalah sesungguhnya ada pada perpustakaan desa/nagari itu sendiri. Buku-buku sebatas diletakkan di rak, sementara upaya menggerakkannya ke luar ruangan belum banyak dilakukan. Sifatnya masih pasif: sekadar menunggu pemustaka datang. Jika cara ini terus dipertahankan, sudah pasti tidak akan banyak warga yang berkunjung.

Di era tontonan digital saat gawai menawarkan berbagai hiburan yang jauh lebih mudah dan asyik digulir daripada memegang buku, pustakawan dituntut untuk lebih kreatif. Kreativitas itulah yang akan menarik minat masyarakat ke perpustakaan, yakni dalam bentuk menggerakkan buku lewat berbagai kegiatan literasi.

Tentu kita memaklumi adanya kendala waktu, anggaran operasional, maupun keterbatasan SDM di tingkat desa. Namun, hambatan ini sejatinya bisa disiasati. Perpustakaan desa dan nagari—dengan sokongan kebijakan kepala desa atau wali nagari—dapat membangun kolaborasi dengan taman-taman bacaan setempat. Kerja sama buku bergulir dapat diterapkan sehingga koleksi di rak perpustakaan desa/nagari jauh lebih termanfaatkan tanpa harus menelan biaya besar.

Nyatanya, perpustakaan desa/nagari kerap baru tampak bergerak ketika ada ajang perlombaan perpustakaan. Barulah mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya: mempercantik ruangan hingga memikirkan program serba-instan yang berpotensi meraih juara. Cara-cara instan ini berulang setiap kali lomba digelar. Budaya literasi belum menjadi kebiasaan yang berjalan konsisten, melainkan kesibukan musiman menjelang penilaian.

Perpustakaan desa/nagari semestinya tidak dibangun hanya untuk memenuhi ketersediaan ruang, rak, meja, kursi, dan koleksi buku. Lebih dari itu, perpustakaan adalah ruang hidup bagi pengetahuan. Indikator kehasilannya bukan semata-mata berapa banyak buku yang tersusun rapi di rak, sebaliknya seberapa jauh buku-buku tersebut dibaca dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Di sinilah perpustakaan desa/nagari harus mengubah cara pandang. Jangan lagi hanya menunggu pembaca datang. Perpustakaan justru harus bergerak mendatangi pembaca. Buku harus keluar dari gedung, menemui anak-anak, remaja, ibu-ibu, kelompok pemuda, komunitas, hingga masyarakat di jorong atau dusun yang jauh dari pusat pemerintahan desa/nagari.

Programnya tidak harus mahal dan rumit. Seminggu sekali, misalnya, perpustakaan membawa sejumlah buku ke pos ronda, balai pemuda, sekolah, tempat ibadah, lapangan, atau ruang publik lainnya. Pengelola dapat membuat lapak baca, menggelar membaca nyaring (read aloud) untuk anak-anak, diskusi buku, kelas menulis, mendongeng, hingga peminjaman buku bergilir dari rumah ke rumah.

Yang paling penting, kegiatan itu dilakukan secara rutin, konsisten, bukan karena ada penilaian lomba, bukan karena kedatangan pejabat dan dewan juri, dan bukan pula demi mengejar penghargaan semata. Budaya membaca hanya akan tumbuh jika ada kebiasaan yang terus dipelihara.

Oleh karena itu, gerakan perpustakaan desa/nagari tidak cukup hanya mengandalkan semangat seorang petugas atau relawan semata. Harus ada dukungan kebijakan dan komitmen nyata dari kepala desa atau wali nagari. Misalnya melalui Peraturan Desa atau Keputusan Kepala Desa/Wali Nagari yang memberi ruang bagi program literasi rutin, dukungan alokasi anggaran operasional yang wajar sesuai kemampuan desa, serta kemitraan resmi dengan sekolah, TBM, dan komunitas setempat.

Regulasi semacam ini sangat penting agar gerakan literasi tidak mendadak mati suri ketika kepala perpustakaan berganti, petugas berpindah, atau penggerak utamanya tidak lagi terlibat. Program harus menjadi bagian dari sistem kerja kelembagaan desa, bukan bergantung pada individu yang sedang memegang kendali.

Selain itu, perpustakaan desa/nagari tidak perlu memosisikan diri sebagai pesaing taman bacaan masyarakat. Justru keduanya dapat saling menguatkan. TBM memiliki pengalaman lapangan dalam menggerakkan pembaca dan merancang kegiatan kreatif, sedangkan perpustakaan desa memiliki koleksi, legalitas kelembagaan, serta dukungan kebijakan pemerintah desa. Jika kedua kekuatan ini dipadukan, buku akan menemukan lebih banyak pembacanya.

Pemerintah pusat maupun daerah juga perlu melihat persoalan ini bukan sekadar urusan membagikan paket bantuan buku. Bantuan buku adalah titik awal, bukan tujuan akhir. Setelah buku sampai di tujuan, harus dipastikan terbangun ekosistem yang membuat buku tersebut bergerak, dibaca, didiskusikan, dan dimanfaatkan. Sebab, buku semahal dan setepat apa pun tidak akan memberi manfaat jika hanya menjadi penghuni rak yang berdebu.

Sudah saatnya perpustakaan desa/nagari berhenti mengukur keberhasilan dari tumpukan buku yang dimiliki. Ukurlah dari seberapa banyak buku yang bergerak, seberapa banyak pembaca yang tumbuh, dan seberapa aktif kegiatan yang membuat masyarakat merasa perpustakaan adalah bagian penting dari kehidupan mereka.

Perpustakaan jangan lagi pasif menunggu. Di era digital yang tantangannya berat, perpustakaanlah yang harus proaktif mendatangi pembaca. Buku yang terus diam di rak hanyalah benda mati; tapi buku yang bergerak di tengah masyarakat adalah pengetahuan yang hidup dan sedang mengubah kehidupan. []

Muhammad Subhan, jurnalis InsertRakyat.com, penulis, dan founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah