Oleh Muhammad Subhan

MESKI sudah dikenal dan terkenal, Bandung itu eksotis. Punya daya pikat dan daya tarik yang magis.

Dan, setiap kali saya menyinggahi Bandung, Jawa Barat, tak ada kata bosan. Sebab, setiap sudut kota ini menawarkan banyak pengalaman yang mengesankan.

Pertama kali saya mengenal nama kota itu sewaktu SD, lewat buku sejarah dan cerita guru di sekolah: Bandung Lautan Api. Itu peristiwa patriotik rakyat Bandung di tahun 1946 melawan tentara Sekutu dan NICA (Belanda).

Beberapa hari lalu saya singgahi lagi Bandung, untuk beberapa pekerjaan. Dan, di sela-sela itu, saya datangi Alun-Alun Kota. Berpesiar mengelilingi jantung Kota Bandung yang penuh destinasi sejarah.

Sebagai pelancong, akses ke titik-titik bersejarah di Bandung terjangkau mudah. Naik saja Bandros alias ‘Bandung Tour on Bus’.

Bus dengan desain unik agak mirip ‘odong-odong’ ini mudah dijumpai di beberapa titik strategis di Bandung, khususnya di Jalan Diponegoro, Alun-Alun, atau di Braga. Braga adalah Malioboro-nya Bandung. Ramai orang berhilir-mudik.

Rute Bandros dari Jalan Diponegoro melewati Jalan Asia Afrika, Braga, Dago, dan kembali lagi ke Diponegoro. Kalau naik dari Braga, rutenya menempuh Dago, Diponegoro, SMA 20, Taman Lalu Lintas, dan kembali ke Braga. Tapi, rute sewaktu-waktu bisa berubah.

Hari itu, saya tumpangi Bandros dari Alun-Alun Bandung, tak jauh dari Masjid Raya. Ongkosnya dua puluh ribu per orang. Agak menunggu beberapa waktu, sebab Bandros penuh. Ada pula Bandros yang sudah disewa beberapa rombongan sehingga penumpang harus bersabar antre.

Di titik ini, rute Bandros yang saya naiki melintasi Alun-Alun ke Braga, Dago, Diponegoro, Museum Konferensi Asia Afrika, dan kembali ke Alun-Alun.

Ada beberapa warna Bandros, mulai dari biru, kuning, ungu, hijau, pink, hitam, dan merah. Saya dapat Bandros berwarna pink. Bandros ini dikelola Dinas Perhubungan setempat.

Setiap Bandros dipandu seorang pramuwisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Teh Septiani, kalau saya tak salah ingat namanya. Ia tepat berdiri di depan saya duduk, memegang mikrofon. Ia berbicara dengan lugas mengenalkan setiap bangunan bersejarah yang dilintasi Bandros yang kami tumpangi. Orangnya santai, kocak, dan menghibur.

Dari atas Bandros, Bandung membuka dirinya dengan cara berbeda, khususnya di sektor pariwisata. Jalan yang saban hari dilewati mungkin biasa saja, tiba-tiba menjadi menarik ketika dijelaskan sejarahnya. Gedung tua yang hanya dilewati kendaraan, mendadak punya cerita. Trotoar yang dipenuhi orang ternyata menyimpan kisah perjalanan sebuah kota.

Di sinilah menariknya Bandung. Narasi kotanya hidup. Wisatawan tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Ada pengalaman yang didapat. Ada pengetahuan yang melekat. Ada cerita yang kemudian disampaikan kepada orang lain.

Bandros, menurut saya, bukan sekadar bus pariwisata. Bus ini menjadi semacam ruang belajar berjalan. Kota diperkenalkan melalui jalan, bangunan, tokoh, sejarah, kuliner, kebiasaan masyarakat, sampai cerita-cerita yang mungkin tidak ditemukan dalam buku panduan wisata.

Bandung juga pintar mengemas sesuatu yang biasa saja menjadi tontonan. Ambil contoh, salah satunya, hantu-hantuan di sepanjang kawasan Jalan Asia Afrika.

Jangan salah sangka, hantu di Jalan Asia Afrika Bandung bukanlah makhluk gaib yang gentayangan mencari mangsa. Mereka adalah para ‘cosplayer’ atau pemain peran berkostum hantu lokal. Ada kuntilanak, pocong, suster ngesot, dan berbagai karakter hantu yang akrab dalam cerita masyarakat Indonesia.

Mereka tampil sebagai bagian dari hiburan jalanan. Wisatawan bisa berfoto bersama. Tentu saja, setelah itu biasanya ada uang seikhlasnya atau tarif tertentu yang diberikan sebagai bentuk apresiasi.

Bagi sebagian orang, melihat sekelompok hantu-hantuan itu seperti orang tak punya kerjaan. Tapi, dari sisi pariwisata, ini menarik. Masyarakat kreatif diberi ruang untuk ikut hidup dari denyut pariwisata kota. Wisatawan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Kawasan wisata pun menjadi lebih hidup.

Ini yang kadang luput dipikirkan. Pariwisata bukan hanya urusan hotel, restoran, tempat parkir, dan objek wisata. Pariwisata juga tentang bagaimana masyarakat sekitar ikut terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi dari keramaian.

Bandung memberi contoh bahwa kreativitas bisa menjadi bagian dari wajah kota.

Saya ingat Sumatera Barat. Ada Padang, Bukittinggi, Sawahlunto, Padang Panjang, yang juga ramai, meski tak seramai Bandung. Namun, Sumatera Barat punya modal wisata luar biasa.

Padang punya kawasan Kota Tua, Muaro, Pantai Padang, Jembatan Siti Nurbaya, Batang Arau, hingga jejak sejarah dan kebudayaan yang panjang. Bukittinggi punya Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Pasar Atas, dan berbagai destinasi yang sudah sangat dikenal wisatawan.

Objek-objek itu menarik dihubungkan melalui moda transportasi bersama seperti Bandros. Tidak harus persis meniru Bandung. Yang diambil adalah gagasannya: bagaimana membawa wisatawan berkeliling kota menggunakan moda transportasi yang nyaman, murah, menarik, dan sekaligus memberikan pengetahuan tentang tempat-tempat yang dilewati.

Saya membayangkan ada bus wisata khusus berkeliling Kota Padang. Wisatawan naik dari kawasan Muaro, atau titik lainnya seperti Taman Lapangan Imam Bonjol. Bus bergerak menuju Kota Tua, melewati Jembatan Siti Nurbaya, kawasan Batang Arau, Pantai Padang, kemudian menuju pusat kota dan kembali lagi ke titik awal. Sepanjang perjalanan ada pemandu yang bercerita tentang sejarah, tokoh, bangunan, tradisi, kuliner, dan kehidupan masyarakat Padang.

Begitu pula di Bukittinggi. Bus wisata dapat membawa pengunjung berkeliling Jam Gadang, Pasar Atas, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock, hingga kawasan-kawasan bersejarah lainnya. Wisatawan tidak perlu repot mencari kendaraan satu per satu. Naik, duduk, mendengar cerita, menikmati pemandangan, lalu turun di titik yang diinginkan.

Kalau dikemas serius, bukan tidak mungkin transportasi wisata seperti itu menjadi ikon baru.

Yang pasti, busnya harus nyaman. Rutenya jelas. Jadwalnya pasti. Tarifnya terjangkau. Pemandunya ramah dan menguasai sejarah. Informasi yang disampaikan tidak membosankan. Ada sentuhan humor. Ada cerita rakyat. Ada musik tradisional. Kalau memungkinkan, ada pula promosi kuliner dan produk UMKM yang ditemui sepanjang perjalanan.

Dengan begitu, wisatawan tidak hanya melihat Sumatera Barat dari balik kaca kendaraan. Mereka mengenal ceritanya.

Sudah tentu, sebuah kota akan lebih mudah dicintai ketika orang mengetahui sejarah dan kisah di balik wajah kotanya. Dan, Ranah Minang gudang cerita itu. Tinggal bagaimana mengemasnya.

Kita sama mafhum, pariwisata yang baik bukan hanya membuat orang datang. Tapi membuat orang ingin datang lagi dan lagi. []

Muhammad Subhan, jurnalis InsertRakyat.com, penulis, dan founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah