Oleh Resza Mustafa
Kami putera puteri Indonesia.
Berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.
Sayang dan cinta pada Ibu Bapak.
Sayang dan cinta pada Ibu Bapak Guru.
…
DEMIKIAN petikan tiga kalimat awal Ikrar Anak yang dulu pernah diutarakan hampir semua anak-anak di Indonesia. Mirip lirik lagu nasional tetapi kecipratan sedikit majas Sumpah Pemuda. Sayangnya, sejak 1967 hingga kini ikrar tersebut tidak lagi berkumandang dan Pekan Kanak-kanak Indonesia secara resmi tidak diperingati.
Pilar sentral sebuah negara yang maju ditentukan dua hal penting. Generasi penerus dengan kualitas intelektual tinggi dan juga rakyat yang berdaulat. Maka, jangan heran kalau semisal Jane Hawksley dan James Mac Manus sangat totalitas menggarap naskah untuk sebuah film yang melibatkan nasib anak-anak yatim piatu di Huang Shi. Enam puluh bocah Tiongkok diseberangkan George Hogg yang diperankan oleh Jonatahan Rhys Meyers menuju ke perbatasan Mongolia, melewati pegunungan berselimutkan salju tebal Liu Pan Shan demi mempertahankan hidup akibat invasi serdadu Jepang pada perang dunia kedua.
Sudut pandang yang berbeda soal anak-anak sempat ditampilkan pada pribadi unik mantan Pemimpin Redaksi Majalah Gatra, Widi Yarmanto dalam esainya “Aidos” di majalah Gatra, 4 Juni 2001. Melansir dari Historia dengan artikel berjudul “Bung Karno dan Hari Anak” mengisahkan masa sekolah Widi di tingkat menengah. Widi, begitu sapaan akrabnya, dituangkan Budi Setiyono dalam Historia pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah sembari mengendus bau harum sabun Colibrita di tubuh tak jarang melafalkan Ikrar Anak dengan penuh penghayatan. Ikrar yang dahulu amat membanggakan hati para Soekarnois ketika peringatan besar 6 Juni tiba.
Bung Karno bukan satu-satunya pemimpin negara yang tanggal kelahirannya pernah dipakai untuk memperingati Hari Anak Nasional. Sahabat revolusioner Bung Karno dari India, Jawahral Nehru adalah tokoh lain yang juga mendapat kehormatan serupa, yaitu pada setiap 14 November (hari ulang tahun Nehru) ditetapkan sebagai Bal Divas, Hari Anak Nasional di India. Selain itu, Nehru juga diingat sebagai penggagas utama National Bravery Awards, cinderamata berharga bagi anak-anak pemberani India.
Pada masa kepemimpinan Nehru, anak-anak India dididik untuk jadi bagian dari penyokong utama pluralisme nasional demi masa yang akan datang. Menjadi penengah dari gencarnya pengaruh kolonialis yang telah tertancap selama berabad-abad di negeri Anak Benua. Satu hal penting yang disadari betul oleh Nehru terhadap nilai-nilai sekuler yang dia yakini untuk bersikap netral terhadap semua golongan dan mempererat tali persatuan. Itulah mengapa semua anak-anak India tak segan memanggil dia, Chacha Nehru.
India pula, salah satu yang terdepan soal urusan bersikap kritis terhadap dunia pendidikan anak-anak. Taare Zameen Par melambungkan nama Amir Khan di dunia Bollywood. Seorang anak yang divonis menderita Disleksia, Ishaan, menjejalkan adegan-adegan dramatisnya bersamaan dengan kejeniusan yang telah dia simpan sendiri dengan rapat, sepi, dan lama. Ishaan, contoh konkrit pribadi anak-anak yang butuh bimbingan khusus agar dapat menunjukkan kualitas intelektual dari seorang yang bisa mengajaknya untuk bersahabat secara nyaman.
Pada suatu pagi di Sarawak, segerombolan anak-anak berangkat ke sekolah naik truk pengangkut tambang. Beberapa dari mereka memakai sepatu putih. Sesampainya di sekolah, mereka berbaris, berupacara dengan mengibarkan bendera merah putih yang terletak tepat di samping bendera Malaysia. Hal yang sampai sejauh ini dapat mereka rasai sebelum menginjak usia 12 tahun, selepas itu, aturan formal CLC setempat menyita sebagian hak mereka agar pindah.
“Marka” dalam Melihat Indonesia, memberikan cerminan secara tidak langsung terhadap anak-anak Migran asal Indonesia yang bergelut dengan banyak impian dan cita-cita. Kinabalu, menjadi nama tempat yang tertera di ijazah kelulusan sekaligus tiket awal mereka untuk memperjuangkan jenjang pendidikan ke fase berikutnya. Data dari beberapa sumber referensi, hingga tahun 2017 tercatat ada 2,7 juta jiwa PMI (Pekerja Migran Indonesia) tersebar di seluruh Malaysia, 136 ribu lainnya tinggal di Serawak secara legal.
Anak-anak itu benar-benar semesta harapan. Harapan yang perlu dirawat sebaik mungkin. Mau diamini atau tidak, hidup tentu saja serasa jadi lebih berwarna karena keberadaan mereka.
Hampir dipastikan di mana kaki anak-anak itu berpijak di sana pula sisi polos dan kebahagiaan mengudara. Manusia terlahir suci tanpa memiliki apa-apa, tumbuh menjadi anak-anak yang belajar dari hari ke hari, mengenal lingkungan kemudian memiliki kecenderungan untuk mengolah perasaan. Fase menjadi anak-anak adalah fase permukaan sebelum mereka benar-benar siap menjadi pilar penyangga kemajuan negara di masa depan. Begitupun anak-anak Indonesia, seperti warna bendera bangsa yang memerah mutih, keberanian dan kesucian akan diharapkan senantiasa hinggap tanpa sedikitpun ruang tawar menawar.
Namun melihat kondisi anak-anak Indonesia sekarang, Nugroho Suksmanto agaknya perlu kembali lagi menyelami puisinya “anak-anak dan kehidupan” di dalam sehimpun syair Anak Mencari Tuhan. Karena bagi anak-anak Indonesia terutama di wilayah perbatasan, kehidupan bukan lagi mirip layang-layang melainkan sudah bagaikan angin yang datang tak tentu arah. Sekolah serius di Sarawak belum tentu dapat penghidupan layak di Pontianak kelak.
Resza Mustafa. Pegiat Literasi, Pengamat Sosiologi dan Cyber Media. Mulai aktif menulis sejak bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk tahun 2013.
Penulis: Resza Mustafa
Editor: Neneng J.K.
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InsertRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.





















