Oleh Muhammad Subhan
SETIAP orang perlu menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi era digital. Namun, setiap orang juga dipanggil untuk menunjukkan empati sebagai wujud kemanusiaan. Dua hal ini semestinya tidak dipertentangkan.
Kita boleh lelah membaca berita buruk. Kita berhak mengambil jeda; mematikan notifikasi, menutup media sosial, atau memilih bertapa sejenak dari kabar duka. Tidak ada yang salah dengan pilihan itu. Otak dan emosi manusia memiliki batas daya tampung.
Namun, persoalan menganga ketika berita buruk yang bagi sebagian orang bisa dijauhkan cukup dengan menggeser jempol di layar telepon pintar, justru sedang berlangsung di halaman rumah orang lain.
Itulah titik krusial yang mengemuka dalam kontroversi video Maudy Ayunda bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News di kanal YouTube Maudy (21/8/2026) yang kemudian percakapannya tersebar di media sosial khususnya Twitter (kini X). Dalam video tersebut, Maudy membagikan pengalamannya yang merasa kewalahan secara emosional tatkala terus-menerus diterpa kabar buruk, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana alam, hingga kebijakan publik yang dinilai salah arah. Untuk merawat kesehatan emosionalnya, ia menyarankan “diet berita” agar seseorang tidak patah semangat dan kehilangan daya untuk beraktivitas.
Secara personal, gagasan merawat jiwa dari gempuran informasi bukanlah hal asing. Telepon pintar kita memuntahkan puluhan bahkan ratusan kabar tiap hari. Belum rampung mengunyah duka satu bencana, susul-menyusul persoalan politik dan krisis ekonomi. Dalam kepungan rentetan trauma visual itu, menjaga kesehatan mental jelas bukan sebuah kemewahan, sebaliknya kebutuhan.
Masalahnya, gagasan itu menimbulkan keresahan tatkala dilepaskan dari konteks sosial yang mengitarinya.
Bagi warga yang paru-parunya tersiksa kabut asap karhutla, bencana ekologis itu bukan sekadar bad news. Bagi keluarga yang rumahnya rata dengan tanah akibat gempa, musibah bukanlah konten yang bisa diabaikan dengan mengklik tombol close. Bagi buruh yang mata pencariannya terhempas akibat regulasi yang tak berpihak, krisis itu bukanlah deretan teks yang lewat sepintas di beranda media sosial.
Di titik inilah kritik publik menemukan pijakannya.
Sebagian warganet menilai imbauan Maudy terasa kurang peka (tone-deaf) terhadap ketimpangan realita masyarakat yang sedang bertarung langsung di garis depan krisis. Gelombang kritik itu bahkan merembet pada usaha kecantikan miliknya yang memanfaatkan bahan baku alami dari hutan Kalimantan. Publik mempertanyakan pertanggungjawaban etis antara bisnis yang memetik manfaat ekonomi dari kekayaan alam lokal dan tingkat kepekaan terhadap krisis ekologis di wilayah tersebut.
Kritik semacam itu tentu harus dibaca secara proposional. Menggunakan bahan alam dari suatu daerah tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai dalang kerusakan lingkungan di sana. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang menyuarakan pentingnya kesehatan mental tidak otomatis berarti ia buta dan tuli terhadap penderitaan sesama.
Meski demikian, figur publik berhadapan dengan ekspektasi sosial yang tidak sederhana. Latar pendidikan tinggi, rekam jejak, serta daya jangkau pengaruh yang luas membuat setiap ucapan figur publik ditakar dengan timbangan yang lebih berat. Pesan yang niat awalnya sebuah nasihat personal untuk merawat diri (self-care), mudah ditafsirkan sebagai bentuk pengabaian ketika mendarat di telinga masyarakat yang sedang tertatih-tatih di tengah krisis.
Di sinilah empati dituntut hadir sebelum nasihat diucapkan.
Kita perlu membedakan secara tegas antara mengurangi paparan berita dan memadamkan kepedulian. Keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda.
Seseorang sangat boleh mematikan ponselnya pada pukul sembilan malam agar bisa tidur nyenyak, lalu bangun di pagi hari untuk menggalang donasi atau turun langsung membantu korban bencana. Seseorang bisa membatasi diri bermedia sosial, namun tetap konsisten menjadi relawan, mengajar anak-anak penyintas musibah, atau mendukung gerakan kelestarian lingkungan. Sebaliknya, seseorang bisa saja mengonsumsi berita 24 jam sehari tanpa pernah berbuat apa pun untuk meringankan beban di sekitarnya.
Artinya, takaran kepedulian sosial tidak diukur dari seberapa banyak beban berita buruk yang sanggup kita jejalkan ke dalam kepala, tapi dari apa yang kita perbuat setelah mengetahui persoalan tersebut.
Maudy sendiri menyadari adanya sudut pandang yang luput ia refleksikan. Lewat pernyataan permohonan maaf yang disematkannya (13/9/2026), ia secara terbuka mengakui bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita buruk adalah sebuah privilese. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk berpaling, terutama mereka yang kehidupannya dihantam langsung oleh peristiwa tersebut.
Pengakuan dan keberanian mengoreksi diri itu patut dihargai. Bukan untuk membuktikan siapa yang menang atau kalah dalam perdebatan publik, melainkan menunjukkan bahwa ruang publik yang sehat semestinya menjadi arena belajar bersama dan memperbaiki sudut pandang.
Dari polemik ini, ada pelajaran mendasar yang jauh lebih penting daripada sekadar riuh-rendah figur publik: di era ketika semua orang memegang mikrofon dan berpotensi menjadi penyampai pesan, empati harus mendahului edukasi.
Sebelum memberi nasihat, seseorang perlu bertanya pada diri sendiri: Dari posisi mana saya berbicara? Apakah pengalaman saya relevan dengan kenyataan orang yang mendengarkan pesan ini? Apakah masalah yang bagi saya cukup dihindari dari layar, merupakan kenyataan pahit yang sedang mereka pertaruhkan setiap detik?
Kesehatan mental itu penting. Kepedulian sosial juga krusial. Kita tidak perlu mengorbankan salah satunya demi menegakkan yang lain.
Kita sangat boleh berhenti sejenak dari ingar-bingar berita buruk. Namun, jangan sampai jeda tersebut menumpulkan nurani hingga kita lupa bahwa di balik setiap baris berita, ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Di situlah kesadaran (mindfulness) menemukan hakikat terdalamnya, bukan melarikan diri dari penderitaan orang lain, tapi merawat daya jiwa agar kita tetap memiliki kekuatan untuk tidak berpaling darinya.
Ukuran kemanusiaan tidak diuji dari seberapa tenang pikiran yang berhasil diamankan di dalam kamar yang hangat, sebaliknya dari seberapa jauhkah ketenangan itu memanggil untuk kembali mengulurkan tangan. Mindfulness tanpa empati hanyalah bentuk egoisme yang dibungkus istilah keren; sedangkan mindfulness yang sejati adalah keberanian untuk tetap hadir, peduli, dan berpihak pada kehidupan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah



















































