PADANGPANJANG, InsertRakyat.com — Layar terbentang di Lapangan Belakang Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Padangpanjang. Tiga film diputar dalam acara Screening Film “Nan Tatingga Jadi Carito” yang digelar Kelompok 38 KKN Sungai Nyalo Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang bersama Devata Studio, Sabtu (5/9/2026) malam.
Pemutaran berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB. Film yang ditayangkan yakni karya Devata Studio “Puti dan Batu Batikam” dan “Si Dep”, serta karya mahasiswa TV-Film ISI Padangpanjang berjudul “Lockey”.
Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian program kerja KKN Kelompok 38 di Nagari Sungai Nyalo, Kecamatan Batang Kapas.
Ketua Kelompok KKN 38 Sungai Nyalo, Rahmat Kurniayudi, mengatakan ide menggelar acara malam puncak tersebut sudah lama diusulkan anggota kelompok. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda.
“Awalnya direncanakan Agustus, tapi sempat tertunda karena kami sedang berduka atas kepergian salah satu rekan dari Kelompok 41,” ujar Rahmat.
Kolaborasi dengan Devata Studio kemudian menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Koordinator Acara, Riyadh Ahmad Edra, mengatakan kerja sama bermula dari ajakan terbuka Devata Studio bagi kelompok KKN yang ingin berkolaborasi.
“Kami mendaftar dan alhamdulillah disetujui. Diskusi berjalan lancar dan kami sepakat menggelar kegiatan di ISI Padangpanjang. Harapannya setelah ini silaturahmi tetap terjaga,” kata Riyadh.
Salah satu film yang diputar, “Puti dan Batu Batikam”, merupakan karya Devata Studio yang lolos seleksi Dana Indonesiana 2025, yang kini bertransformasi menjadi Dana IndonesiaRaya.
Sutradara film, Radev Muhammad Aziz, menjelaskan proses awal produksi film tersebut berangkat dari gagasan untuk mengangkat budaya lokal Sumatra Barat.
“Awalnya kami berembuk untuk mengangkat budaya lokal Sumatra Barat. Dari ide itu kami ikut sayembara Dana Indonesiana 2025 dan berhasil ke tahap produksi,” jelasnya.
Produksi film melibatkan kru dari berbagai daerah, mulai dari modelling, rigging, dubbing hingga animasi. Sebagian besar kru direkrut melalui jejaring yang sudah ada.
“Harapannya silaturahmi tidak berhenti di sini. Siapa tahu 10 atau 20 tahun lagi kita bisa kerja sama lagi,” usul Radev.
Produser sekaligus Project Manager acara, Natasha Khairunissa, menjelaskan film tersebut mendapat dana hibah dari Kementerian Kebudayaan untuk penayangan di lima daerah.
“Kami berkolaborasi, terutama di wilayah Sumatra Barat yang sedang menjalankan KKN,” ungkap Natasha.
Sementara itu, Event Manager dan Finance Manager, Gina Sonia, mengatakan pemutaran film tersebut bukan yang pertama kali dilakukan.
“Sebelumnya sudah dua kali di Padang. Kebetulan film ini mengangkat budaya lokal sehingga proses rekrutmen kru juga banyak melibatkan mahasiswa ISI. Saya sarankan teman-teman lebih banyak mendaftar ke Dana Indonesiana karena banyak karya mahasiswa ISI yang belum banyak diketahui orang,” kata Gina.
Antusiasme juga terlihat dari peserta yang hadir. Andri Dermawan, mahasiswa Prodi Animasi angkatan 2024, menilai kegiatan tersebut menarik.
“Keren. Kalau bisa diadakan tiap minggu,” ujarnya.
Peserta dari Polandia, Malwina Prystawko, yang merupakan peserta Program Beasiswa Darmasiswa, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Ini acara pertama yang saya kunjungi di sini. Orang lokal sangat ramah. Saya suka komunitas di sini,” kata Malwina.
Mal juga menyarankan agar pemutaran film berikutnya dilengkapi subtitle sehingga dapat diakses lebih luas, terutama oleh peserta yang belum fasih berbahasa Indonesia.
“Bahasa Indonesia saya masih sedikit, jadi subtitle akan sangat membantu,” ujarnya.
Penulis: Fey
Editor: Muhammad Subhan






































