“MBG Aceh Utara. 

LHOKSUKON, INSERTRAKYAT.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan sekitar satu tahun dinilai memberi manfaat bagi pelajar sekaligus membuka aktivitas ekonomi bagi warga di sekitar SPPG di Aceh Utara.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus ( MBG Aceh Utara) dinilai memberi manfaat yang melampaui penyediaan makanan bagi pelajar. Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan petani, pedagang bahan pangan, UMKM, tenaga kerja hingga sektor jasa dan transportasi.

Hal itu disampaikan Roza Juanda, PIC/Penanggung Jawab/Mitra SPPG Faras Firzayang yang beralamat di Batu XII, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (11/9/2026).

Menurut Roza, kebutuhan makanan bergizi bagi pelajar menjadi manfaat utama program. SPPG menyiapkan makanan yang ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah selama mengikuti kegiatan belajar.

“Bagi pelajar, manfaat utama MBG tentu tersedianya makanan bergizi selama mengikuti kegiatan belajar. Program ini menjadi salah satu upaya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah sehingga mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lebih baik,” ujarnya saat memberi keterangan kepada InsertRakyat.com sesaat lalu.

Aktivitas SPPG juga membutuhkan pasokan bahan pangan serta dukungan operasional. Kebutuhan tersebut membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam rantai penyediaan MBG.

“Kondisi ini membuka ruang bagi petani, pedagang bahan pangan, UMKM, tenaga kerja, pengangkutan, tukang becak, serta berbagai usaha kecil lainnya untuk ikut bergerak. Contoh nyata kios yang toe-toe goen dapu, insya Allah kana peningkatan ekonomi, dengoen uroe uroe biasa meteme 200 atau 300 ribe, jinoe ka lebeh,” katanya.

Roza menyebut kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat sekitar SPPG. Petani memiliki peluang memasok hasil pertanian, sedangkan pedagang dan pelaku UMKM memperoleh kesempatan menjalankan usaha dari aktivitas yang muncul di sekitar dapur MBG.

Sektor jasa dan usaha kecil juga ikut terhubung dengan kebutuhan operasional program. Menurut Roza, kondisi itu menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang berjalan bersamaan dengan pelaksanaan MBG.

Meski melihat manfaat tersebut, Roza mengakui pelaksanaan MBG masih memiliki sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Ia menilai evaluasi diperlukan untuk menjaga kualitas makanan, keamanan pangan, distribusi, pelayanan dan tata kelola.

“Memang, kita tidak boleh menutup mata bahwa dalam pelaksanaan MBG masih terdapat berbagai kekurangan yang perlu diperbaiki. Evaluasi tetap penting dilakukan agar kualitas makanan, keamanan pangan, distribusi, pelayanan dan tata kelola program semakin baik,” jelasnya.

Ia menilai persoalan dalam pelaksanaan program seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat pengawasan dan sistem kerja SPPG.

“Apabila terdapat persoalan dalam pelaksanaan SPPG atau MBG, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki serta memperkuat sistem. Pengawasan harus ditingkatkan, standar keamanan pangan harus dijaga, serta tata kelola harus semakin transparan dan akuntabel,” kata dia.

Mengenai wacana melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan MBG, Roza mengatakan gagasan tersebut dapat dikaji dengan memperhatikan kesiapan masing-masing kantin. Standar kebersihan, kapasitas pengolahan makanan, keamanan pangan, kualitas gizi dan kemampuan pengelola perlu menjadi pertimbangan.

“Yang terpenting, jangan sampai perubahan pola pelaksanaan justru mengurangi manfaat yang sudah dirasakan pelajar maupun masyarakat,” ujarnya.

Roza menegaskan, MBG memiliki cakupan yang lebih luas karena menyentuh kebutuhan gizi pelajar sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam penyediaan kebutuhan program.

Petani, pedagang, UMKM, tenaga kerja, tukang becak dan pelaku usaha lainnya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar SPPG. Karena itu, ia berharap evaluasi terus dilakukan berdasarkan kondisi lapangan tanpa menghilangkan manfaat yang telah dirasakan.

“Jangan hanya melihat kekurangannya, tetapi juga melihat manfaat yang sudah berjalan dan dirasakan masyarakat. Program MBG memiliki tujuan yang baik. Agar tujuan tersebut semakin maksimal, pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu terus melakukan pembenahan tanpa menghilangkan manfaat yang sudah ada,” tuturnya.

Menurut Roza, kualitas pelaksanaan menjadi hal yang perlu diperkuat agar manfaat MBG dapat dirasakan secara lebih luas.

“Kedepan untuk keberhasilan MBG bukan hanya ketika makanan sampai kepada pelajar, tetapi ketika makanan tersebut aman dan bergizi, pelajar mendapatkan manfaatnya, serta masyarakat di sekitar ikut merasakan dampak positif dari perputaran ekonomi program tersebut,” kunci Roza.

Jurnalis: Mhd Iqbal
Editor : Tim Redaksi