JAKARTA, — Kopi Indonesia dipadukan dengan mengandalkan cita rasa, kekuatan cerita, identitas budaya, dan kreativitas sebagai modal untuk memperluas daya saing hingga pasar global. Arah tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Roemah Koffie.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menilai kopi memiliki ruang besar untuk dikembangkan sebagai produk kreatif bernilai ekonomi. Pengembangannya tidak hanya menyentuh produk akhir, tetapi juga cerita mengenai petani, proses produksi, budaya, hingga identitas Indonesia yang melekat di dalamnya.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kreativitas dapat menjadi cara untuk menyampaikan cerita melalui kopi. Menurutnya, kekuatan kopi Indonesia terletak pula pada storytelling dan identitas budaya yang perlu dijaga.
“Kreativitas itu ada di mana saja dan bisa menjadi cara kita bercerita, termasuk melalui kopi. Dalam setiap biji kopi, kami percaya bahwa kekuatan ada pada storytelling dan identitas budaya yang harus dijaga,” ungkap Irene Umar.
Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat daya saing kopi Indonesia sekaligus membuka peluang strategis untuk hilirisasi produk. Data BPS yang dikutip Kementerian Ekraf mencatat nilai ekspor subsektor kuliner mencapai USD0,28 miliar atau sekitar USD280 juta pada Januari-April 2026.
Sementara itu, data Agustus 2025 menunjukkan subsektor kuliner menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi, mencapai 16.021.795 jiwa.
Irene mengatakan kolaborasi dengan pelaku usaha seperti Roemah Koffie dapat memperkuat posisi subsektor kuliner sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi kopi lokal dan petani Indonesia.
“Semangat Roemah Koffie untuk berkembang menjadi jenama global harus didukung tanpa melupakan akar budaya Indonesia sehingga bisa membawa kebanggaan bagi diplomasi ekonomi kreatif,” kata Irene.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui soft opening gerai ke-15 Roemah Koffie di Agora Mal, Jakarta, pada Senin, 10 Agustus 2026. Gerai tersebut dihadirkan sebagai ruang yang menggabungkan pengalaman menikmati kopi dengan suasana yang nyaman dan inklusif.

CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan pihaknya ingin menjadikan Roemah Koffie sebagai ruang bagi berbagai kalangan untuk berkumpul, berjejaring, dan membangun hubungan.
Konsep itu terlihat dari penggunaan interior bernuansa cokelat, pencahayaan kuning temaram, serta furnitur kayu dan rotan yang menciptakan suasana hangat.
Menurut Felix, Roemah Koffie juga ingin membawa kopi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dengan tetap mempertahankan identitasnya.
Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang dinilai dapat memperkuat posisi kopi Indonesia agar siap bersaing di pasar global.
Pembukaan gerai terbaru tersebut juga disertai sejumlah promo untuk pengunjung, di antaranya Buy 1 Get 1 untuk periode tertentu, pembelian dua kopi seharga Rp70.000, serta kopi klasik gratis untuk pembelian Koffie Capsule, Koffie Tins, atau Koffie Bean Bag.
Manajemen Roemah Koffie, menambahkan kopi merupakan salah satu medium untuk menceritakan warisan budaya Nusantara dan kearifan budaya Indonesia. Pendekatan tersebut membuat kopi tidak hanya ditempatkan sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari cerita mengenai petani, proses produksi, pelaku usaha, dan budaya yang menyertainya.
Kolaborasi Kementerian Ekraf dan Roemah Koffie menunjukkan upaya memperkuat ekosistem kuliner melalui perpaduan kreativitas, nilai ekonomi, inovasi, dan akar budaya.
Adanya pendekatan tersebut, kopi Indonesia memiliki ruang untuk membawa cerita Nusantara lebih jauh sekaligus memperkuat posisi produk kreatif nasional di tengah persaingan pasar global.
Ikuti terus perkembangan ekonomi kreatif, UMKM, dan industri nasional hanya di InsertRakyat.com.
Reporter : Syamsul Bahri
Editor : Tim Redaksi














































