Oleh Muhammad Subhan
DI MEDIA sosial, khususnya TikTok dan Instagram, berseliweran video anak-anak berpakaian modis ala orang dewasa. Mereka bergaya di depan kamera, menari mengikuti irama lagu yang sedang viral, lalu menyanyikan lirik yang belum sesuai dengan usia perkembangan mereka. Mereka tampil percaya diri. Orang-orang dewasa di sekitarnya pun ikut senang; tertawa, memuji, bahkan merekam dan membagikannya kembali.
Pemandangan semacam itu sering dianggap menggemaskan dan menghibur. Anak yang masih balita atau sekolah dasar tapi pandai berakting layaknya orang dewasa dinilai berbakat. Padahal, di balik fenomena tersebut, ada persoalan serius yang patut direnungkan: mengapa anak-anak semakin cepat meninggalkan masa kanak-kanaknya?
Salah satu jawabannya terletak pada fakta bahwa anak-anak hari ini semakin kekurangan ekosistem budaya yang diperuntukkan bagi mereka sendiri.
Lagu anak-anak berbahasa Indonesia, misalnya, makin jarang tercipta dan terdengar. Di ruang publik, televisi, hingga platform digital, arus utama didominasi lagu-lagu percintaan dan dinamika orang dewasa. Anak-anak akhirnya tumbuh di tengah lingkungan budaya yang tidak dirancang untuk tahap tumbuh kembang mereka.
Sebagai peniru yang ulung, anak belajar dari apa yang dilihat dan didengarnya. Ketika pilihan yang tersedia setiap hari di layar gawai adalah lagu dewasa, tarian erotis yang dikemas humor, serta ekspresi orang dewasa yang mendulang ribuan likes, anak menangkap pesan eksplisit: begitulah cara untuk disukai dan mendapatkan perhatian.
Masalahnya, algoritma media sosial tidak dirancang dengan kesadaran pedagogis. Sistem rekomendasi bekerja atas dasar engagement: apa yang sering ditonton, disukai, dan dibagikan akan terus disodorkan. Algoritma tidak memilah apakah pengguna yang duduk di depan layar berusia tujuh tahun atau tiga puluh tahun.
Di sinilah letak kerumitannya. Anak yang seharusnya menginternalisasi pesan tentang persahabatan, lingkungan, sekolah, imajinasi, dan kegembiraan bermain, justru terpapar tema percintaan, patah hati, hingga ekspresi bernuansa sensual. Bukan karena mereka sengaja mencarinya, melainkan karena itulah pasokan utama yang mengalir tanpa henti di ruang digital.
Padahal, Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam membangun karakter bangsa melalui musik anak. Tokoh-tokoh seperti Ibu Soed, A.T. Mahmud, serta Pak Kasur dan Ibu Kasur terbukti berhasil membentuk fondasi emosional jutaan anak Indonesia. Lagu-lagu mereka sederhana, mudah diingat, tapi memuat pesan dan pendidikan karakter yang kuat.
Tradisi tersebut berlanjut pada era 1990-an melalui karya Papa T. Bob dan musisi sezamannya. Industri saat itu memberi ruang bagi munculnya penyanyi anak seperti Chicha Koeswoyo, Ria Enes dan Susan, Tasya Kamila, Joshua Suherman, Sherina, Trio Kwek Kwek, hingga Enno Lerian. Mereka berhasil meraih popularitas tanpa harus dipaksa menjadi “orang dewasa berbadan kecil”.
Hari ini, pola tersebut berbalik. Anak-anak tetap bernyanyi dan menari, tapi materi yang mereka bawakan diambil dari dunia orang dewasa. Ukuran keberhasilannya pun bergeser pada metrik kuantitatif: berapa banyak penonton, berapa banyak likes, dan seberapa cepat konten itu viral. Masa kanak-kanak perlahan bergeser menjadi panggung untuk memenuhi selera orang dewasa dan tuntutan algoritma.
Tentu ini bukan ajakan untuk bersikap teknofobia atau menolak kreativitas anak di media sosial. Anak bukan miniatur orang dewasa yang bisa dipaksa matang sebelum waktunya. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, berimajinasi, bertanya, bernyanyi, dan menemukan identitasnya secara bertahap.
Persoalan ini tidak lepas dan berkaitan erat dengan literasi media dan literasi digital. Literasi tidak sebatas kemampuan mengeja teks, tapi mencakup kecakapan kritis dalam menapis informasi. Anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa apa yang populer dan viral tidak otomatis pantas untuk ditiru.
Dalam konteks ini, peran orang tua sebagai benteng utama menjadi sangat krusial. Pendampingan digital tidak harus diartikan sebagai perampasan gawai atau pelarangan total. Orang tua perlu hadir sebagai kawan dialog. Ketika anak menyanyikan lagu dewasa yang sedang tren, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah omelan, melainkan percakapan edukatif: apa arti lirik tersebut, mengapa lagu itu disukai, dan apakah isinya sesuai dengan keseharian mereka.
Di saat yang sama, tanggung jawab ini tidak bisa ditumpukkan sepenuhnya pada pundak keluarga. Industri kreatif, pencipta lagu, lembaga penyiaran, sekolah, serta komunitas literasi perlu kembali mengambil peran aktif dalam memproduksi dan mendistribusikan karya-karya bermutu khusus anak. Kekayaan lagu daerah, permainan tradisional, dan cerita rakyat menyediakan bahan baku yang melimpah untuk diolah kembali dengan aransemen modern yang relevan.
Anak-anak tidak boleh dibiarkan berada dalam posisi dilematis: mengonsumsi konten dewasa atau tidak mendapatkan ruang berekspresi sama sekali. Mereka berhak atas lagu, cerita, dan dunia mereka sendiri—dunia yang memberi kesempatan luas untuk bahagia sebagai anak-anak, sebelum pada waktunya melangkah menuju kedewasaan.
Upaya menghadirkan kembali lagu anak dan ekosistem yang sehat bukanlah bentuk romantisme masa lalu atau sikap menolak kemajuan zaman. Ini adalah investasi peradaban. Ketika sebuah bangsa membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa karya penuntun yang sesuai dengan usianya, bangsa tersebut sedang membiarkan tahap krusial imajinasi, kepekaan empati, dan identitas budayanya tergerus oleh kepentingan komersial yang serba instan.
Masa kanak-kanak adalah fondasi pembentukan karakter. Mengembalikan hak anak untuk memiliki lagunya sendiri berarti menjaga agar benteng imajinasi dan budi pekerti mereka tetap kokoh di tengah gempuran arus digital. Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama—menghadirkan kembali nada, lirik, dan ruang yang tidak hanya menghibur, tapi juga memanusiakan anak-anak Indonesia. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah






















































