PASAMAN BARAT, InsertRakyat.com — Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, tercatat memiliki 51 Taman Bacaan Masyarakat (TBM), jumlah terbanyak dibandingkan kabupaten dan kota lain dalam jejaring Forum TBM Sumatera Barat.

Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat sekaligus Ketua Forum TBM Pasaman Barat, Denni Meilizon, mengatakan keberadaan puluhan TBM tersebut menjadi salah satu modal penting dalam mengembangkan gerakan literasi berbasis masyarakat.

“Pasaman Barat memiliki 51 TBM dari 210 TBM yang terdata di Sumatera Barat. Ini menjadi kekuatan sekaligus tanggung jawab untuk terus mengembangkan gerakan literasi yang berdampak bagi masyarakat,” kata Denni kepada InsertRakyat.com, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan data Forum TBM Sumatera Barat, setelah Pasaman Barat, Kabupaten Agam memiliki 27 TBM, Kota Padang 18 TBM, Kota Padang Panjang 15 TBM, sedangkan Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Lima Puluh Kota masing-masing memiliki 11 TBM. Kabupaten dan kota lainnya memiliki jumlah TBM lebih sedikit.

Menurut Denni, TBM tidak lagi hanya menjadi tempat masyarakat membaca buku. Sejumlah TBM berkembang menjadi ruang belajar, kegiatan kreatif, interaksi anak dan remaja, serta tempat masyarakat memperoleh akses pengetahuan.

“TBM menjadi simpul literasi di tengah masyarakat. Karena itu, keberadaannya perlu diperkuat, bukan hanya dari jumlah, tetapi juga dari kualitas program dan dampaknya,” ujarnya.

Target 900 Kantong Literasi

Pengembangan gerakan literasi di Pasaman Barat tidak berhenti pada keberadaan TBM. Sejak 2021, FPL Pasaman Barat telah mencetuskan target pembentukan 900 kantong literasi di seluruh Pasaman Barat pada 2030.

Kantong literasi tersebut diharapkan menjadi ruang-ruang kreatif yang memungkinkan masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, mendapatkan akses terhadap bahan bacaan dan kegiatan literasi di lingkungan tempat tinggal mereka.

Denni mengatakan, target tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, komunitas, keluarga, relawan, dan masyarakat.

“Kalau 51 TBM menjadi simpul yang sudah ada, maka 900 kantong literasi adalah upaya memperluas jangkauan gerakan sampai ke lingkungan masyarakat,” katanya.

Penguatan gerakan literasi juga dilakukan melalui Festival Literasi Kabupaten Pasaman Barat 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan.

Festival bertema “Membaca Bersama, Bergerak untuk Semua” itu dijadwalkan berlangsung pada 14–16 September 2026 di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Pasaman Barat.

Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, sekolah, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM, komunitas membaca, Read Aloud Pasaman Barat, serta masyarakat.

Sejumlah kegiatan dijadwalkan dalam festival tersebut, antara lain pertunjukan seni budaya, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, bertutur, membaca nyaring, talk show literasi, dan bedah buku.

Keterlibatan siswa juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi diberi ruang untuk tampil melalui kegiatan membaca, berbicara, seni, dan penyampaian gagasan.

Dorong Guru dan Siswa Hasilkan Karya

Selain festival literasi, FPL Pasaman Barat bersama PGRI Pasaman Barat, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, serta Bunda Literasi Pasaman Barat, juga menjadwalkan kegiatan “Seribu Guru Hebat Sejuta Murid Literat”.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Simpang Empat dengan menghadirkan Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, sebagai narasumber utama.

Sekitar 1.000 guru dan siswa ditargetkan mengikuti kegiatan tersebut. Materi yang diberikan tidak hanya berupa seminar, tetapi juga praktik menemukan ide, menulis, dan mengembangkan karya.

Menurut Denni, kegiatan tersebut diarahkan agar guru tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi penggerak budaya literasi di sekolah.

Sementara bagi siswa, kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang untuk menyampaikan gagasan melalui tulisan dan karya kreatif.

“Targetnya bukan sekadar menghadirkan 1.000 peserta. Kami ingin ada 1.000 gagasan yang lahir dari kegiatan ini dan bisa dikembangkan menjadi karya,” kata Denni.

Peserta juga akan mendapatkan buku bacaan sebagai bagian dari kegiatan. Lebih dari 1.000 buku bermutu direncanakan dibagikan kepada peserta.

Denni menegaskan, ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak cukup dilihat dari jumlah kantong literasi atau banyaknya kegiatan yang digelar.

Menurutnya, keberadaan komunitas literasi dan berbagai program literasi harus berujung pada perubahan kebiasaan membaca, kemampuan menulis, keberanian menyampaikan gagasan, serta tumbuhnya masyarakat yang mampu berpikir kritis.

“Literasi tidak berhenti pada membaca buku. Masyarakat juga perlu mampu membaca persoalan di sekitarnya, memahami informasi, berpikir kritis, kemudian menghasilkan gagasan dan karya,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun antara pemerintah, sekolah, komunitas, TBM, relawan, dan masyarakat dapat terus diperkuat. (*/rls)

Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Muhammad Subhan