Supali Kasim. Tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023).

Seribu Lawan, Kurang

betapa kekuranganmu tertelikung benak sendiri
–satu lawan, kebanyakan; seribu kawan, kurang–
seakan sendiri itu tak berarti

kaupahami setiap sendiri adalah angin
dan kesendirian angin merontokkan daun-daun
ombak jadi gelombang mendebur jiwamu

sendiri bukan hanya sepi
rasa suwung pada tirakat dan tepekur
hangat merambati jaringan tubuh

seribu lawan terasa masih kurang
karena kesejatian pada sendiri
menaklukkan diri mencapai jati diri

satu kawan memang kebanyakan
hanya penghalang dalam pencarian
ketiadaan justru sesuatu yang ada

tak ada fatamorgana, kini terbebas
–satu kawan, kebanyakan; seribu lawan, kurang–
dan sendiri, dan sepi, banyak melahirkan arti

2026

Di Mana Bumi Dijunjung

sejak bumi engkau pijak
terasa benar langit ingin kaujunjung

betapa berat menjadi bumi
menyangga, menumbuhkan, membesarkan
semua angan dan impian
meninggikan, menegakkan, mengokohkan
semua cinta dan cita
betapa langit makin mengawang
tak pernah berpikir pulang ke haribaan

mestinya langit engkau pijak
angan dan impian susupkan pada tingginya
cinta dan cinta warnai birunya

mestinya bumi engkau junjung
tempat pulang ke haribaan

2026

Udang Membalik Batu

semua udang membalik batu-batu
selama ini menindihi
kata-kata atau kalimat

senantiasa berlindung tanpa sesal
batu tumbuh sendiri
udang sembunyi sendiri

alasan apalagi dalam kata selingkung
dibalik batu tak ada udang lagi
mereka kini disusupkan di miliu aman

2026

Jarum di Tumpukan Jerami

setiap kali membayangkan
kesulitan tak terselesaikan
tahun-tahun balada
lagu-lagu elegi

jerami bertumpuk-tumpuk
jarum lenyap di dalamnya
hiruk pikuk mencari
jatuh dalam balada dan elegi

seperti jati diri
pada keramaian jagat raya
hilang tanpa rasa kehilangan
betapa tak tertemukan

bagaimana mungkin kauciptakan
sesuatu yang sukar
bagaimana cara daya tarik magnet
saat jarum jatuh cinta sendiri

2026

Padi Tak Lagi Merunduk

sudah lama padi lebih suka mendongak
tak lagi merunduk –seperti peribahasa lama–
dan akupun mendongak
berhampar hijau sawah
lalu biji-biji padi mulai menguning
langit mengabarkan dendam lama
(televisi-kulkas-sepeda motor baru, dan utang lama)
bagai bidadari turun ke bumi
sayap-sayap para tengkulak mengibar
maka, padi pun bergejolak
rupiah membuatnya mendongak
mulailah kutuntaskan dendam
televisi-kulkas-sepeda motor baru kutaklukkan
kutundukkan pula utang lama
tapi langit mengabarkan kembali
hujan meneteskan rindu pada lumpur sawah
dan sayap-sayap berkibar itu
juga turun membawa utang baru
berhampar hijau sawah
lalu biji-biji padi mulai menguning
tidak lagi mengabarkan rupiah
utang selilit pinggang –seperti peribahasa lama–

2026

Penulis: Supali Kasim
Editor: Likin At Tamimi

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Berita Terkini

Tiga Cangkir Kopi Sebelum Senja

Bilik Elipsis
46 menit yang lalu

Sajak-Sajak Supali Kasim

Bilik Elipsis
52 menit yang lalu

Puisi-Puisi Riami

Bilik Elipsis
58 menit yang lalu

Pohon Terakhir Di Kota Ini

Bilik Elipsis
1 jam yang lalu