Oleh Ukhwatul Salaima
“SUDAH cukup. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Pergi!”
Suara itu masih terngiang di kepalaku. Suara seseorang yang dahulu pernah kuanggap sebagai rumah. Seseorang yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang, tetapi justru menjadi alasan mengapa aku belajar menyukai kesunyian. Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri beberapa langkah darinya, menahan segala sesuatu yang ingin keluar dari mulutku. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi tidak semuanya harus didengar oleh manusia. Maka, aku memilih kertas. Kertas tidak pernah memotong pembicaraan. Tidak pernah menyuruhku diam. Tidak pernah bertanya mengapa air mataku jatuh.
Di atas lembaran putih, aku bisa menjadi diriku sendiri. Ketika sebagian manusia merasa dicintai, dilindungi, dan memiliki tempat untuk pulang, aku justru belajar bersyukur hanya karena masih diberi kesempatan untuk bernapas. Dulu, aku pernah berpikir mungkin hidup memang seperti ini. Mungkin sebagian orang dilahirkan untuk mendapatkan rumah yang hangat, sementara sebagian lainnya hanya diberi sebuah bangunan tua dengan pintu yang selalu terbuka, tetapi tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Aku pernah memiliki seorang pria yang selalu berada di sampingku. Pria berkumis tipis yang setiap pagi membangunkanku untuk sekolah. Pria yang mengajariku mengikat tali sepatu dan menungguku pulang di depan pintu.
Ayah.
Bagiku, ayah adalah bentuk paling sederhana dari kata “surga”. Namun, surga itu tidak berlangsung selamanya. Di sudut jalan, tepat di seberang lampu merah, berdiri sebuah gedung tua dengan pagar berwarna hijau. Catnya mulai mengelupas. Beberapa bagian dinding ditumbuhi lumut. Di halaman depannya, daun-daun kering berjatuhan tanpa pernah benar-benar dibersihkan. Orang-orang menyebut tempat itu rumah sakit. Bagiku, tempat itu adalah sisa terakhir dari seorang ibu. Hampir setiap pagi aku datang ke sana. Bukan karena Ibu masih mengenaliku. Justru sebaliknya. Sudah lama ia tidak mengenaliku.
Aku hanya duduk di sampingnya, memandang wajahnya yang semakin asing. Kadang ia menatapku tanpa berkata apa-apa. Kadang ia berbicara kepada seseorang yang tidak bisa kulihat. Namun, aku tetap datang. Karena bagaimana pun juga, ia adalah ibuku. Perempuan yang pernah mengandungku. Perempuan yang dahulu memelukku ketika aku takut pada suara petir. Perempuan yang kini bahkan tidak mampu mengingat namaku. Terkadang aku merasa marah. Terkadang aku kecewa karena harus dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Tetapi, semakin dewasa aku mengerti, tidak semua luka bisa disembuhkan hanya dengan menyalahkan seseorang.
Namun, ada satu orang yang sampai hari ini belum mampu kumaafkan. Pria yang datang ke dalam kehidupan Ibu setelah ayah meninggal. Seorang pejabat yang selalu terlihat rapi. Kemejanya selalu disetrika dengan sempurna. Sepatunya selalu mengilap. Di dadanya terpasang sebuah lambang yang membuat orang-orang menundukkan kepala dan memanggilnya dengan penuh hormat. Di luar rumah, ia terlihat seperti seseorang yang patut dipercaya. Tetapi, rumah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dan aku juga tahu.
“Kalau dulu kau tidak seperti ini, mungkin aku juga tidak akan menjadi seperti sekarang.”
Kalimat itu sering kali hanya mampu kuucapkan dalam hati. Aku masih mengingat malam-malam ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi tempat yang membuatku takut. Aku masih mengingat suara pertengkaran. Suara pintu. Suara benda-benda yang jatuh. Dan suara Ibu yang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Aku tidak pernah mengerti mengapa seseorang yang begitu dihormati di luar rumah bisa menjadi begitu berbeda ketika pintu rumah ditutup. Sampai akhirnya, Ibu tidak lagi mampu membedakan kenyataan dan kenangan. Ia dibawa ke gedung tua berpagar hijau itu. Dan sejak hari itu, rumah kami menjadi terlalu besar untuk satu orang anak.
Kota ini juga berubah. Atau mungkin sebenarnya aku yang baru menyadarinya. Pohon-pohon ditebang satu per satu. Tanah yang dahulu dipenuhi rerumputan berubah menjadi beton. Sampah menumpuk di pinggir jalan. Asap kendaraan memenuhi udara. Pabrik-pabrik berdiri dengan cerobong yang tidak pernah berhenti mengepulkan asap.
“Greng… greng…”
Suara kendaraan menjadi lagu yang tidak pernah selesai. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur.
Namun, anehnya, di tengah jutaan manusia yang berjalan setiap hari, aku merasa semakin sendirian. Setiap sudut kota dipenuhi warna. Lampu merah. Lampu toko. Papan reklame. Gedung-gedung tinggi. Tetapi tidak ada satu pun yang mampu menerangi bagian dalam diriku. Dahulu, guguran daun berwarna kuning terlihat seperti sesuatu yang indah. Sekarang, daun-daun itu hanya bercampur dengan sampah plastik di pinggir jalan. Aku sering berpikir, mungkin manusia tidak hanya sedang menghancurkan kota. Mungkin manusia juga sedang menghancurkan tempat untuk pulang.
Hari Senin itu, senja datang dengan warna jingga yang pucat. Aku kembali mengunjungi gedung berpagar hijau. Tetapi kali ini berbeda. Ibu sudah pergi. Untuk selamanya. Kain putih telah menutupi tubuhnya. Tidak ada lagi tatapan kosong. Tidak ada lagi suara yang tidak kumengerti. Tidak ada lagi seorang ibu yang mungkin suatu hari akan mengingat namaku. Aku hanya berdiri di sana. Diam. Tidak menangis. Mungkin karena selama bertahun-tahun, air mataku sudah terlalu sering jatuh. Hari itu, aku mengurus berbagai dokumen dan keperluan terakhir Ibu. Setelah semuanya selesai, aku pulang seorang diri. Rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Di atas kusen jendela kayu, ada secangkir teh yang mulai dingin. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara Ibu memanggil namaku. Tidak ada suara langkah kaki. Hanya debu dan kesunyian. Aku duduk di meja kecil. Mengeluarkan buku dan pulpen dari dalam tas. Kemudian menulis.
Dear Diary
02/04/2026
Bu…
Anisya kembali lagi. Setelah belasan tahun menyimpan begitu banyak cerita. Aku tidak tahu apakah Ibu bisa mendengarkanku atau tidak. Tapi hari ini aku ingin bercerita. Aku marah kepada Ibu. Aku kecewa. Aku pernah bertanya mengapa Ibu tidak melindungiku. Namun sekarang aku sadar, mungkin Ibu sendiri sedang berusaha bertahan. Maaf karena dulu aku sering menyalahkanmu. Aku tahu Ibu juga terluka. Semoga sekarang Ibu sudah tidak merasa takut lagi.
Al-Fatihah.
Aku sayang Ibu.
Aku menutup buku.
Di luar jendela, kota masih sama. Pohon-pohon terus berkurang. Sampah terus bertambah. Orang-orang terus berjalan. Dan aku tetap sendirian. Beberapa hari kemudian, aku kembali ke gedung tua itu. Kamar 23, lantai 4. Tempat yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bagaimana seorang ibu perlahan kehilangan dirinya.
Di sana, orang-orang lain masih terbaring dengan cerita mereka masing-masing. Aku duduk di kursi dekat jendela. Tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya membuka buku. Karena ternyata, setelah Ibu pergi, aku tidak benar-benar kehilangan kebiasaanku. Aku masih berbicara. Hanya saja, lawan bicaraku adalah lembaran kertas. Aku menulis tentang kota. Tentang pohon. Tentang sampah. Tentang manusia. Tentang Ayah. Tentang Ibu. Tentang diriku sendiri.
Aku ingin suatu hari nanti ada sesuatu yang tumbuh di kota ini. Sesuatu yang tidak hanya berupa bangunan. Aku ingin melihat pohon kembali tumbuh. Pohon yang akarnya menancap kuat di tanah. Mungkin karena aku ingin percaya bahwa sesuatu yang memiliki akar tidak akan mudah pergi. Ketika pulang, aku berjalan kaki. Kota begitu ramai. Klakson bersahutan. Motor berlalu-lalang. Lampu jalan menyala. Orang-orang tertawa. Beberapa orang bertengkar. Sebagian lainnya hanya sibuk mengejar sesuatu yang mereka sebut kehidupan. Aku melewati rumah tua peninggalan Ayah dan Ibu. Rumah dua lantai dengan cat putih yang mulai mengelupas. Rumah yang dahulu penuh suara. Sekarang hanya menyisakan satu penghuni.
Aku.
“Eittt…”
Pintu tua berderit ketika kubuka. Aku masuk.
“Tek… tek…”
Suara listrik dari lampu tua terdengar seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu kenangan. Aku berjalan menuju ruang tengah. Di dinding masih tergantung foto lama. Foto Ayah. Foto Ibu. Dan foto seorang anak kecil yang tersenyum di antara keduanya. Aku menatap foto itu cukup lama. Lalu duduk di lantai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum kecil.
“Pak…”
Aku menatap foto Ayah.
“Aku rindu.”
Kemudian menatap foto Ibu.
“Bu… aku juga rindu.”
Air mataku jatuh. Aku tidak menghapusnya. Karena malam itu aku sadar, mungkin aku tidak perlu terus berpura-pura kuat. Aku hanya perlu mengakui bahwa aku masih seorang anak yang merindukan kedua orang tuanya. Aku membuka buku.
Dear Diary
Pak, Bu…
Aku pulang. Ternyata rumah ini masih sama. Hanya orang-orangnya yang sudah tidak ada. Pak, aku masih ingat bagaimana Bapak selalu menungguku pulang. Bu, aku masih ingat bagaimana Ibu dulu menyisir rambutku. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari seseorang untuk disalahkan. Padahal yang benar-benar hilang bukan hanya kalian. Sebagian dari diriku juga ikut pergi bersama kalian. Aku sayang kalian.
I love you.
Malam semakin larut. Di meja makan hanya tersedia nasi putih, tahu, dan tempe. Aku makan sendirian. Suara sendok bertemu dengan piring menjadi satu-satunya suara di dapur.
“Dring… dring…”
Telepon berdering. Aku berhenti makan. Nomor itu tidak kukenal. Aku mengangkatnya.
“Selamat malam. Apa benar ini dengan Anisya?”
“Ya. Saya sendiri.”
“Saya kerabat dekat dari Bapak Islamurohudrono. Besok pagi, bisakah kamu datang ke kantor Cindramata?”
Aku terdiam.
“Untuk apa?”
“Besok akan kami jelaskan langsung. Terima kasih. Selamat malam.”
Telepon terputus. Aku menatap layar ponsel beberapa saat. Ada perasaan aneh yang muncul. Namun malam itu aku tidak terlalu memikirkannya. Aku kembali mengambil buku. Dan menulis satu kalimat.
Mungkin besok akan membawa cerita baru.
Keesokan harinya aku pergi ke kantor Cindramata. Di sana, seseorang menyerahkan sebuah map tua kepadaku.
“Ini peninggalan ayahmu,” katanya.
Aku membuka map tersebut. Ada beberapa dokumen. Foto lama. Surat. Dan satu lembar kertas yang membuat tanganku berhenti bergerak. Surat itu ditulis bertahun-tahun lalu.
Untukku.
Untuk anak yang dulu belum cukup umur untuk memahami apa yang sedang terjadi. Aku membacanya perlahan. Ternyata Ayah pernah menulis bahwa ia ingin aku tumbuh menjadi seseorang yang tidak membenci dunia hanya karena dunia pernah menyakitiku. Aku menutup surat itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis bukan karena kehilangan. Aku menangis karena akhirnya mengerti. Ayah tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Ia hanya pergi lebih dulu.
Sejak hari itu, aku mulai menulis lebih banyak. Aku menulis tentang Ibu. Tentang Ayah. Tentang kekerasan yang pernah terjadi di rumah. Tentang bagaimana seorang anak bisa tumbuh di antara suara-suara yang membuatnya takut. Tentang gedung tua berpagar hijau. Tentang kota yang kehilangan pohon. Tentang manusia yang terkadang terlalu sibuk mengejar kekuasaan hingga lupa bagaimana caranya menjadi manusia. Aku menulis semuanya. Bukan untuk membalas dendam. Bukan untuk membuat seseorang merasa bersalah. Aku hanya ingin ceritaku tidak ikut hilang.
Tahun-tahun berlalu.
Rumah tua itu semakin lapuk. Cat dinding semakin mengelupas. Halaman semakin dipenuhi daun kering. Tetapi di belakang rumah, sesuatu tumbuh. Sebuah pohon kecil. Aku menanamnya bertahun-tahun lalu. Aku menyiraminya setiap pagi. Aku merawatnya meski tidak ada seorang pun yang melihat. Suatu sore, aku duduk di bawah pohon itu dengan buku di pangkuan. Daunnya bergerak pelan tertiup angin. Untuk pertama kalinya, halaman rumah tidak terasa begitu sunyi. Aku membuka lembar terakhir. Lalu menulis:
Dear Diary
Jika suatu hari nanti seseorang menemukan buku ini, jangan kasihan kepadaku. Aku pernah kehilangan banyak hal. Ayah. Ibu. Rumah. Masa kecil. Bahkan sebagian dari diriku sendiri. Tetapi aku pernah memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun.
Cerita.
Dan selama ceritaku masih dibaca, aku tidak benar-benar hilang. Aku hanya ingin satu hal. Jika suatu hari nanti aku tidak ada, tolong jangan biarkan pohon-pohon terakhir di kota ini ikut hilang. Biarkan mereka tumbuh. Biarkan akarnya menancap kuat. Agar anak-anak yang lahir setelahku masih memiliki tempat untuk berteduh. Aku menutup buku. Angin sore menyentuh wajahku. Langit perlahan berubah jingga. Aku memandang pohon kecil di hadapanku. Kemudian tersenyum. Malam datang perlahan. Rumah itu kembali sunyi. Namun kali ini, kesunyian tidak terasa seperti hukuman. Kesunyian terasa seperti istirahat. Dan di atas meja, buku yang selama puluhan tahun menjadi tempat Anisya menyimpan seluruh hidupnya tetap terbuka.
Halaman terakhirnya berisi satu kalimat:
“Aku pernah hidup dalam kesunyian, tetapi semoga setelah aku pergi, dunia tidak lagi terlalu sunyi.”
Di luar rumah, pohon itu terus tumbuh. Sendirian. Tetapi tidak lagi tanpa arti. []
Ukhwatul Salaima. Seorang siswi kelas XII yang berdomisili di Desa Lamcot, Jalan Moh. Taher. Lahir 4 Februari 2009. Ia memiliki minat besar di dunia pendidikan dan bercita-cita menjadi seorang guru di masa depan. Untuk mengasah kreativitas dan ketelitiannya, ia aktif meluangkan waktu dengan menulis, menggambar, serta mencoba berbagai resep memasak. Saat ini, ia fokus menyelesaikan pendidikan tingkat akhir sekolah menengah kejuruan sembari terus mengeksplorasi minatnya di bidang seni dan literasi.
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.
Penulis: Ukhwatul Salaima
Editor: Neneng J.K.








































