Oleh Vito Prasetyo
SENJA mulai turun di Desa Reok, sebuah desa di Manggarai. Sebagian wilayah kelihatan begitu kering dan tandus. Perlahan, angin sore mulai menyapu ladang ilalang yang mengering. Di sebuah sudut desa, antara riuh angin dan bayang-bayang senja, berdiri seorang pemuda, Lontar. Ia memandangi pepohonan yang perlahan menghilang satu per satu. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang yang mirip selembar kertas tua, yang pernah bermimpi menjadi buku—dipenuhi makna, dibaca dengan hati, dan disimpan di rak-rak kehidupan.
Lontar bukan nama sebenarnya. Itu hanya panggilan yang diberikan oleh Lintang, gadis yang datang dari kota, membawa peralatan kamera dan buku-buku filsafat. Ia ingin mencari “ruh alam” katanya. Ia menertawakan nama itu saat pertama kali mendengarnya, tapi lambat laun, nama itu justru menjadi alasan mereka berbicara setiap hari.
“Kenapa Lontar?” tanya Lintang suatu ketika.
“Karena aku tidak ditulis di lembar-lembar emas kehidupan,” jawab Lontar lirih. “Aku hanya daun kering yang berharap dibaca sebelum dijadikan pembungkus bumbu, atau yang lain.”
Lintang diam. Pandangannya menerobos cakrawala, seolah menghindari makna yang terlalu dalam. Tetapi tetap saja, pikirannya berkecamuk dan mengembara.
“Kenapa kamu datang ke sini, bukankah tinggal di kota lebih nyaman?” tanya Lontar.
Lintang tertawa, bukan untuk menertawakan Lontar. Tapi pertanyaan itu terlalu polos. Mungkin karena Lontar tidak mengerti, kedatangan Lintang ke sini demi sebuah tugas.
Pikiran mereka berkelana liar seakan menjadi intrik tersembunyi. Lintang seorang wanita yang penuh ambisi, energik dan cerdas. Menyatukan pikiran mereka bagai air dan minyak. Tidak akan bisa menyatu. Kecuali jika perasaan mereka, yang tiba-tiba muncul dalam kebersamaan, saling membutuhkan. Tapi sepertinya ego Lintang akan menolak. Ia seorang sarjana yang tentunya berhitung dengan sebuah jabatan atau kedudukan. Mungkin, itu sebuah martabat yang terbungkus oleh rasa ego.
Lingkungan tempat tinggal Lontar dulu adalah surga kecil. Air sungai bening, burung-burung bernyanyi setiap pagi, dan pohon-pohon mengajari cara tumbuh tanpa suara gaduh. Tapi waktu dan manusia bisa menjelma gabungan nafsu paling merusak yang pernah diciptakan Tuhan.
Beberapa tahun silam, tatkala Lontar mulai beranjak dewasa, ada perusahaan tambang datang. Hutan mulai dijadikan lahan konsesi. Sungai berubah warna, mulai keruh. Udara menjadi pertikaian ruang tanpa oksigen. Lintang, yang awalnya datang sebagai peneliti lingkungan, perlahan menjadi bagian dari sistem yang ia kritik. Ia menjadi antagonis dari harapan cinta yang sempat tumbuh sempurna di dadanya.
Lontar melihat perubahan itu. Ia tidak berkata banyak. Ia hanya menyimpan keresahan dalam diam, dalam catatan-catatan di buku usangnya yang sudah mulai kusam, berisi puisi tentang air yang menghilang dan tanah yang tidak lagi subur.
“Apa yang sedang kau tulis?” tanya Lintang suatu malam.
“Doa,” jawabnya singkat.
Lintang tersenyum. Spontan ia memeluk Lontar malam itu. Bukan karena cinta, tapi karena sunyi yang terlalu panjang di antara mereka. Barangkali dalam pelukan itu, mereka mencoba mengerti: cinta tidak bisa tumbuh di tanah yang mati. Entah dari mana datangnya keberanian Lintang. Semua seperti terjadi begitu saja. Itu seakan membasuh hatinya yang mulai terasa hampa.
Adakalanya cinta bukan untuk mengajarkan rasa keadilan dalam memahami arti manusia sesungguhnya. Terkadang rasa ego menjauhkan diri dari rasa empati. Bisa jadi, Lontar dan Lintang adalah korban dari perasaan yang terluka. Dan muncullah benih-benih pertikaian akibat pihak ketiga yang tidak memedulikan ada dua manusia saling merajut kisah-kisah manis dalam kehidupan mereka.
Sebuah kabar datang pagi itu. Perusahaan tambang akan memperluas wilayah. Warga akan dipindahkan. Lintang hadir di rapat, tapi bukan sebagai warga. Ia menjadi juru bicara perusahaan. Matanya tidak lagi memancarkan cahaya langit, yang memancarkan aksara rindu. Ia telah menjelma musuh dalam selimut, yang memetakan angka demi angka bagi perusahaan tambang.
Lontar berdiri di ujung ruangan, tubuhnya gemetar. Dadanya terasa begitu sesak. Segumpal amarah dan dendam, telah mengalir ke ubun-ubun kepalanya. Sebagian warga memegang tubuh Lontar. Selama ini, hanya Lontar satu-satunya pemuda desa yang berani berhadapan dengan siapa saja, jika desa itu terusik.
“Kau memilih menjadi pembungkus sampah, Lintang,” katanya saat mereka bertemu diam-diam.
“Aku hanya memilih bertahan,” jawab Lintang. “Kalau tidak aku, orang lain yang akan mengurusnya. Setidaknya aku bisa sedikit mengatur agar tidak seburuk itu.”
“Rasionalisasi angka selalu terdengar seperti puisi busuk,” sahut Lontar, begitu tajam.
Lintang agak kaget, entah mengapa kata-kata Lontar seperti ucapan seorang bijak. Kata-kata yang hanya diucapkan pada saat yang tepat dan sering diucapkan oleh seorang pejabat. Tetapi Lintang lupa jika Lontar memiliki bakat menjadi seorang penyair. Sering menggunakan bahasa simbolik. Meski Lontar tidak pernah meninggalkan jejak di dunia sastra.
Lintang tertawa getir. “Dan idealisme seperti puisi yang tidak dibaca siapa pun.” Ia berusaha mengimbangi ucapan Lontar, meski itu hanya kulit luar dari sebuah puisi.
Mereka saling diam setelah itu. Di antara mereka, cinta pernah bersemi. Tapi cinta yang tumbuh di tanah retak hanya akan menjadi rumput kering. Seperti matahari yang membakar kata-kata sebelum sempat menjadi puisi.
“Harum aroma tubuhmu seakan menyumbat isi kepalaku, tetapi aroma tanah ini meski penuh luka dan darah, jauh lebih berharga bagiku.” Kata-kata Lontar ini seakan memuntahkan dendam dari dalam dadanya.
“Aku titipkan kematianku dalam bait-bait puisimu.” Lanjut Lontar, seakan sebuah isyarat mendalam yang ingin diingat Lintang. Suasana hening, dan angin bagaikan getaran suara yang berembus kencang di tanah-tanah pekuburan.
Ada kalanya metafora jauh lebih bermartabat dari sekadar menjaga perasaan. Lontar pergi meninggalkan Lintang! Lontar yang selalu berusaha menghormati kodrat wanita tidak ingin menyakiti Lintang, meski ia tidak pernah sekolah tinggi. Baginya, adab jauh lebih tinggi dari ilmu. Dan mengenyam bangku sekolah bukan sebuah jaminan, orang akan beradab.
Sejak itu, Desa Reok seakan menjadi getaran nada bagi puisi, dan menunggu dalam jelmaan debu malam. Lontar pergi malam itu. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana perginya. Ia membakar seluruh catatannya. Buku-buku usang yang dulu penuh harapan berubah menjadi abu. Di tengah ladang, ia berdiri sendiri, tubuhnya kotor oleh debu dan air mata.
Di tempat lain, Lintang sedang memeriksa laporan-laporan yang harus ia tandatangani. Tangannya gemetar. Di atas meja, ada selembar kertas kusut, berisi puisi terakhir dari Lontar:
“Jika aku harus mati sebagai kertas. Biarkan aku terkubur di tanah yang pernah hijau. Bukan di tong sampah di ujung kota. Dibuang oleh cinta yang takut menjadi suara.
“Cinta itu bukan sekadar melihat kesamaan, tetapi melihat dan menyelami perbedaan.”
Setelah membaca catatan itu, mata Lintang terlihat agak sembab. Entah, apakah tangisan itu karena kehilangan perasaan cintanya kepada Lontar, atau ia menyadari telah kehilangan nurani kebenaran dan keadilan.
Keesokan paginya, warga menemukan tubuh Lontar tergantung di pohon terakhir yang belum ditebang. Di sakunya, terselip sebuah lontar tua, kosong, belum tertulis. Seluruh desa menjadi gempar. Orang-orang desa tidak memercayai kalau Lontar mati bunuh diri. Di beberapa bagian tubuh Lontar tampak lebam dan beberapa luka goresan. Seperti bekas penganiayaan. Semua tidak berani bicara. Mereka bungkam. Dari kejauhan, tampak aparat mendatangi lokasi kematian Lontar dengan sorot mata tajam.
Pemakaman Lontar bagaikan reruntuhan aksara duka. Tidak terlihat sebagai huruf, tetapi ia hadir sebagai isyarat kesedihan mendalam. Suara angin seperti kidung kematian yang bertaburan aroma puisi cinta. Semerbak wangi gaharu.
Lintang tidak hadir di pemakamannya. Ia pergi kembali ke kota, membawa pulang satu kenangan yang tidak akan pernah selesai ia ceritakan. Lintang ingin menenangkan pikirannya. Ia menyalakan televisi di kamarnya. Setiap sudut tembok seperti memantulkan bayangan Lontar. Beberapa saat kemudian, ia tersentak melihat berita di televisi. Berita tentang kematian seorang aktivis lingkungan bernama VR ditemukan meninggal dunia dengan kondisi yang begitu janggal. Kematiannya di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Bahkan, cerita ini tidak mampu mengungkapkannya, sebab tugasnya hanya menjadi karya fiksi.
Andai Lontar membacanya, meski pada dunia lain, mungkin ia tersenyum sepahit kopi tanpa gula. Dan hanya sebuah kisah elegi yang akan menghidupkan kembali catatan-catatan Lontar.
Lintang kian terpukul dengan kejadian yang dilihatnya. Namun suatu hari, di sebuah festival lingkungan di kota, seseorang membaca puisi Lontar dengan suara bergetar. Di antara kerumunan, Lintang menangis diam-diam. Ia sadar, Lontar akhirnya dibaca—tapi bukan oleh dirinya.
Dan di dunia yang gaduh oleh mesin dan kesibukan, selembar lontar akhirnya menemukan pembacanya. Meski harus mati lebih dulu. []
Vito Prasetyo. Dilahirkan di Makassar, Februari 1964. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, peminat bahasa & budaya. Naskah Opini dan Sastra (Cerpen, Puisi, Esai, Resensi), Artikel Pendidikan & Bahasa telah dimuat puluhan media cetak lokal, nasional, dan Malaysia, antara lain: Koran TEMPO, Media Indonesia, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Solopos, majalah Pusat, Suara Merdeka, majalah Karas, majalah Panji, Rakyat Sultra, Kompas.id, Sastramedia.com, Utusan Borneo, harian Ekspres, Batam Pos, Riau Pos, dll. Termaktub dalam puluhan buku antologi, antara lain Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Beberapa kali masuk nominasi dan juara, antara lain Juara 3 Lomba Cipta Puisi Grup FB HPI Tahun 2022.
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Suria Tresna
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.
























































