JAKARTA, — Rangkaian gempa bermagnitudo 7,0 ke atas yang terjadi di sejumlah kawasan aktif tektonik sepanjang 2026 menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami.

Hal itu disampaikan Dr. Daryono, S.Si., M.Si., dalam keterangannya kepada InsertRakyat.com saat dihubungi pada Kamis (13/8/2026).

Daryono menyebut sejumlah gempa besar tercatat di kawasan sekitar Cincin Api Pasifik sepanjang 2026 hingga Agustus. Berdasarkan rangkaian peristiwa yang dihimpun dalam analisisnya, terdapat 10 kejadian bermagnitudo M7,0 ke atas yang tersebar di sejumlah kawasan, mulai dari Sabah, Tonga, Vanuatu, Laut Maluku, Jepang, Venezuela, Filipina, Meksiko hingga Kolombia.

Rangkaian tersebut memperlihatkan aktivitas gempa besar di berbagai batas lempeng aktif di kawasan Asia-Pasifik dan sepanjang sisi timur Samudra Pasifik.

Namun, kemunculan sejumlah gempa besar dalam periode yang berdekatan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh kejadian tersebut merupakan satu rangkaian atau satu siklus pelepasan energi tektonik global.

Gempa besar yang masuk dalam rangkaian analisis tersebut diawali dengan gempa M7,1 di wilayah Sabah, Malaysia, pada 22 Februari 2026. Gempa itu terjadi pada kedalaman sekitar 629 kilometer sehingga karakteristiknya berbeda dengan gempa dangkal yang sumbernya berada lebih dekat dengan permukaan.

Sebulan kemudian, pada 24 Maret, gempa M7,5 terjadi di Tonga. Enam hari berselang, gempa M7,3 mengguncang Vanuatu pada 30 Maret. Kedua wilayah tersebut berada di lingkungan tektonik aktif di kawasan Pasifik Selatan.

Indonesia kemudian mengalami gempa M7,4 di kawasan Laut Maluku pada 1 April. Berdasarkan katalog USGS, gempa tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 35 kilometer dan berada di wilayah tektonik kompleks yang dipengaruhi interaksi sejumlah lempeng dan blok tektonik.

Pada 20 April, gempa besar kembali terjadi di lepas pantai timur laut Jepang. Data yang telah diperbarui mencatat magnitudo M7,7. Peristiwa tersebut juga memicu pengamatan terhadap potensi tsunami di wilayah pesisir Jepang.

Aktivitas gempa besar kemudian tercatat di Venezuela. Pada 24 Juni 2026, dua gempa masing-masing berkekuatan M7,2 dan M7,5 terjadi di wilayah tersebut dalam rangkaian aktivitas seismik yang sama.

Sebelumnya, pada 7 Juni, gempa M7,8 terjadi di lepas pantai Mindanao, Filipina. Gempa tersebut memicu respons sistem peringatan tsunami di kawasan Pasifik.

Gempa M7,3 kemudian terjadi di lepas pantai Chiapas, Meksiko, pada 17 Juli. Peristiwa tersebut juga memicu perhatian terhadap potensi tsunami di kawasan pesisir sebelum ancaman tersebut dinyatakan berakhir.

Gempa besar terbaru dalam rangkaian yang dibahas terjadi di Kolombia pada 10 Agustus 2026 dengan magnitudo M7,4. Gempa tersebut mengguncang wilayah San José del Palmar, Chocó, dan menimbulkan dampak di wilayah terdampak.

Bagi Indonesia, rangkaian tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gempa bumi merupakan bagian dari kondisi tektonik nasional. Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik dan memiliki banyak sumber gempa, termasuk zona subduksi yang dapat menghasilkan gempa besar serta tsunami.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak semestinya bergantung pada apakah gempa besar sedang sering terjadi di kawasan lain. Mitigasi perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan pemahaman masyarakat, pemeriksaan keandalan bangunan, penguatan sistem peringatan dini, serta latihan evakuasi.

Daryono juga menyoroti esensi kewaspadaan terhadap sejumlah sumber gempa di Indonesia, termasuk kawasan lepas pantai Sumatra, selatan Jawa, hingga wilayah timur Indonesia.

Tingkat dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Kedalaman sumber gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan, serta kemungkinan terjadinya tsunami turut memengaruhi tingkat risiko di suatu wilayah.

Menurut Daryono, masyarakat perlu memahami risiko di wilayah masing-masing karena gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu dan lokasinya.

“Karena gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat kapan dan di mana akan terjadi, langkah yang paling dapat dilakukan masyarakat adalah memahami risiko di wilayah masing-masing, mengetahui jalur evakuasi, mengenali tempat aman, serta mengikuti informasi resmi ketika terjadi gempa kuat,” kata Daryono, yang juga pernah menjabat Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

Dukung Jurnalisme InsertRakyat.com
Ikuti Saluran WhatsApp InsertRakyat.com untuk mendapatkan berita dan informasi terbaru. Dukungan Anda membantu kami terus menyajikan informasi yang faktual, berimbang, dan bermanfaat untuk publik.

.

Reporter : Syamsul Bahri

Editor : Supriadi Buraerah