SINJAI, – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Sinjai akan melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan untuk memperoleh data El Nino sebagai dasar penguatan langkah antisipasi dampak perubahan cuaca terhadap sektor pertanian di daerah.
Kepala Dinas TPHP Sinjai, H. Kamaruddin mengatakan koordinasi tersebut dilakukan untuk mendapatkan data resmi dari BMKG terkait kondisi iklim yang berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian, khususnya pada lahan persawahan tadah hujan.
“Untuk langkah awal saya sudah konfirmasi kepada Pak Sekda, rencananya kunjungan ke BMKG dilakukan hari Jumat,” ujar H. Kamaruddin saat diwawancarai Insertrakyat di ruang kerjanya, Rabu (22/4/2026) pukul 11.34 Wita.
Ia menjelaskan data El Nino dari BMKG sangat dibutuhkan untuk memperkuat langkah teknis di lapangan, terutama dalam mengantisipasi potensi kekeringan yang dapat menurunkan hasil produksi pertanian.
Menurutnya, sektor pertanian menjadi paling rentan saat terjadi perubahan iklim ekstrem, khususnya di wilayah yang bergantung pada curah hujan dan sistem irigasi terbatas.
Kamaruddin menyebut Kecamatan Sinjai Selatan sebagai wilayah yang paling berpotensi terdampak berdasarkan pengalaman pada periode 2023–2024 yang sebelumnya mengalami kekeringan cukup signifikan.
Dinas TPHP Sinjai sebelumnya telah menerima bantuan 126 unit Tahun 2024 dan 4 unit tahun 2025 untuk membantu pengairan lahan persawahan di wilayah rawan kekeringan tersebut.
“Wilayah yang terdampak umumnya persawahan tadah hujan atau yang mengalami kendala irigasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada tahun berjalan pihaknya juga mengajukan tambahan bantuan pompa air guna memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino.
Saat ini, tim Dinas TPHP Sinjai masih melakukan verifikasi lapangan untuk memetakan wilayah yang membutuhkan prioritas penanganan pengairan secara lebih detail.
Sementara itu, masyarakat di Kecamatan Sinjai Selatan mulai merasakan dampak perubahan cuaca yang mengarah pada potensi El Nino.
Warga Kelurahan Sangiaseri disapa Olleng mengatakan aktivitas musim tanam saat ini sudah mulai terganggu akibat berkurangnya pasokan air.
“Sekarang ada yang sudah tanam, ada juga masih tahap olah lahan,” ujarnya saat dimintai keterangan Insertrakyat, pukul 13.28 Wita.
Ia menambahkan pola musim hujan tidak lagi stabil seperti biasanya pada periode April hingga Mei.
“Biasanya masih musim hujan, tapi sekarang kemarau terasa lebih cepat datang. Sawah tadah hujan mulai kekurangan air,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arif bersama Kepala Dinas TPHP Sinjai, H. Kamaruddin, telah mengunjungi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian RI pada Senin (20/4/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan sekaligus mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi El Nino dan menyampaikan langsung usulan penguatan infrastruktur irigasi di Kabupaten Sinjai.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyerahkan proposal penguatan jaringan irigasi kepada Dirjen LIP Kementan RI sebagai upaya memperkuat sistem pertanian daerah menghadapi dampak perubahan iklim.
“Keikutsertaan Ibu Bupati dalam Rakor (kemarin) sekaligus untuk mengajukan usulan kegiatan sektor pertanian di Sinjai,” ujar H. Kamaruddin.
Aktifitas koordinasi berlapis, baik ke BMKG maupun pemerintah pusat, diharapkan memperkuat basis data dan kebijakan agar penanganan El Nino lebih tepat sasaran di lapangan.
( Supriadi Buraerah/Zamroni) Follow ( whatsapp channel)




