DUNIA Nyata (Indonesia) adalah negeri yang dibentuk oleh kepulauan. Dari Sabang sampai Merauke, daratan dan bentangan laut menjahit ribuan ruang kehidupan menjadi satu negara dengan keragaman alam, budaya, ekonomi dan masyarakat yang sangat luas. Di negeri ini terdapat kota-kota besar, desa, kawasan pertanian, pusat perdagangan, industri, wilayah pesisir hingga destinasi pariwisata yang tersebar di berbagai penjuru.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk Indonesia pada 2026 mencapai 287.198.383 jiwa. Sementara data BPS 2025 mencatat Indonesia memiliki 17.380 pulau. Angka tersebut menggambarkan besarnya ruang kehidupan yang harus terus dibangun dan dirawat, sekaligus menunjukkan beragamnya kebutuhan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Posisi Indonesia juga strategis. Di darat, Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia, Papua Nugini dan Timor-Leste. Di laut, Indonesia berhadapan dengan sejumlah negara, antara lain India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Timor-Leste dan Australia. Bentangan geografis tersebut membuat kebutuhan warga Indonesia sangat beragam, mulai dari hunian, fasilitas pendidikan, kesehatan dan pemerintahan, hingga kawasan industri, perdagangan, pariwisata dan aktivitas kelautan.

Dalam ruang kehidupan yang begitu luas, cat tidak hanya berkaitan dengan warna. Cat juga dapat menjadi bagian dari tampilan, perlindungan dan pemeliharaan permukaan. Rumah membutuhkan lapisan yang sesuai untuk dinding, bangunan komersial membutuhkan perlindungan eksterior, fasilitas publik perlu dirawat, sementara kayu, besi, baja, kendaraan, peralatan dan kapal membutuhkan sistem pelapisan sesuai karakter material dan lingkungan penggunaannya.

Kebutuhan yang beragam tersebut kemudian bertemu dengan perjalanan panjang Nippon Paint, perusahaan cat dan pelapis asal Jepang yang pada 2026 memasuki usia 145 tahun. Cikal bakal Nippon Paint Group, Komyosha, didirikan di Mita, Tokyo, pada 1881 oleh Jujiro Moteki. Perusahaan kemudian berkembang melalui berbagai tahap hingga menggunakan nama Nippon Paint Co., Ltd. pada 1927. Pada 14 Maret 2026, Nippon Paint Group memperingati 145 tahun perjalanan sejak pendiriannya.

Perjalanan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan produksi warna. Sejak masa awal, perkembangan Nippon Paint juga bersentuhan dengan kebutuhan industri dan teknologi pelapisan. Sejarah perusahaan mencatat pengembangan teknologi kelautan, termasuk paten anti-fouling pada 1911. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menghambat penempelan organisme laut pada bagian kapal yang berada di bawah permukaan air.

Dari Jepang, perjalanan Nippon Paint kemudian berkembang ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Nippon Paint Indonesia didirikan pada 1969, sehingga kehadirannya di Indonesia telah berlangsung lebih dari lima dekade. Perjalanan panjang tersebut membuat kebutuhan yang dilayani juga semakin luas, tidak berhenti pada cat tembok, tetapi berkembang ke berbagai solusi pelapisan sesuai jenis material dan kebutuhan penggunaannya.

Portofolio Nippon Paint Indonesia mencakup berbagai kebutuhan, antara lain pelapis untuk dinding interior dan eksterior, kayu, besi, baja, mebel, kendaraan, industri hingga kebutuhan kelautan. Karena itu, istilah cat Nippon Paint tidak tepat dipahami sebagai satu produk yang digunakan untuk seluruh permukaan. Setiap produk memiliki fungsi dan rekomendasi penggunaan tersendiri, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan karakter permukaan dan lingkungan penggunaannya.

Salah satu produk yang dekat dengan kebutuhan berbagai permukaan adalah Bee Brand 1000. Informasi resmi Nippon Paint Indonesia menyebut produk tersebut sebagai cat enamel berbasis resin alkyd yang dapat digunakan untuk permukaan kayu maupun besi, baik pada kebutuhan interior maupun eksterior sesuai rekomendasi teknis. Produk ini juga tercantum untuk sejumlah penggunaan seperti struktur baja, kayu, mebel dan besi.

Kebutuhan terhadap cat juga bersinggungan dengan pariwisata. Indonesia memiliki destinasi wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari kawasan perkotaan, pegunungan dan pantai hingga pulau-pulau kecil. Di dalam ekosistem pariwisata terdapat hotel, resor, restoran, fasilitas rekreasi, gerbang destinasi, ruang publik dan berbagai bangunan pendukung yang membutuhkan pemeliharaan. Warna menjadi bagian dari karakter visual, sementara pelapisan yang sesuai menjadi bagian dari perawatan permukaan.

Hubungan tersebut semakin terlihat ketika Indonesia berbicara tentang laut. Sebagai negara kepulauan, laut merupakan ruang kehidupan bagi masyarakat pesisir, jalur transportasi, sumber pangan, aktivitas ekonomi dan kekuatan penting pariwisata. Kapal nelayan, misalnya, menghadapi lingkungan yang berbeda dengan bangunan di daratan. Air laut, kelembapan dan organisme laut membuat kebutuhan pelapis kapal memerlukan pendekatan khusus.

Dalam konteks tersebut, sejarah teknologi anti-fouling Nippon Paint memiliki relevansi dengan kebutuhan kelautan. Pelapis anti-fouling dirancang untuk membantu menghambat organisme laut menempel pada permukaan bawah kapal. Sementara produk lain memiliki fungsi yang berbeda sesuai material dan lingkungan penggunaannya. Dengan demikian, teknologi pelapisan berkembang mengikuti kebutuhan yang juga semakin beragam.

Cerita tersebut kemudian bergerak ke Sulawesi, atau Celebes dalam berbagai catatan sejarah. Pulau ini memiliki bentuk geografis khas dengan semenanjung-semenanjung yang menjorok ke laut dan berada di kawasan strategis Indonesia bagian tengah. Bagian utaranya mengarah ke kawasan perairan yang terhubung dengan Filipina, sementara wilayah lainnya terhubung dengan jalur laut menuju berbagai kawasan Indonesia.

Sulawesi Selatan memiliki posisi geografis yang mempertemukan daratan dan laut. Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di sebelah utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di sebelah timur, Selat Makassar di sebelah barat serta Laut Flores di sebelah selatan. Posisi tersebut membuat aktivitas pertanian, perdagangan, pelabuhan, pariwisata dan masyarakat pesisir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu wilayah di Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Sinjai. Di daerah inilah kegiatan Nippon Paint kemudian bersentuhan langsung dengan komunitas nelayan.

Pada 13 Agustus 2026, material pengecatan diserahkan kepada satu komunitas nelayan di Jalan Nener, Lingkungan Kalibungin, Sinjai. Komunitas tersebut beranggotakan 19 orang. Material yang diserahkan terdiri atas Bee Brand ukuran 2,5 liter, Anti-Fouling ukuran 5 kilogram dan Thinner B ukuran 0,8 liter.

Kegiatan tersebut melibatkan Karni, karyawan Nippon Paint yang beroperasi di wilayah kerja Kabupaten Sinjai, bersama Kepala Departemen Depo Bone Ari Afriansari serta tim PCC Sinjai, Irda dan Rahmat.

Karni mengatakan bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan komunitas nelayan, terutama dalam membantu perawatan sarana kerja mereka.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu perawatan kapal nelayan,” ujar Karni Jumat siang.

Untuk komunitas pesisir, kapal bukan sekadar alat transportasi. Kapal merupakan sarana kerja yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi nelayan. Karena itu, pemeliharaan kapal memiliki hubungan dengan keberlangsungan aktivitas mereka di laut.

145 Tahun Nippon Paint Mendunia: Dari Tokyo hingga Menyentuh Kebutuhan Nelayan Sinjai
145 Tahun Nippon Paint Mendunia: Dari Tokyo hingga Menyentuh Kebutuhan Nelayan Sinjai. (Foto Karni; Kegiatan penyerahan bantuan cat Nippon kepada Nelayan Sinjai, 13 Agustus 2026.

Penyerahan di Talibungin juga bukan satu-satunya kegiatan Nippon Paint yang disebut berlangsung di Kabupaten Sinjai. Berdasarkan informasi kegiatan yang diterima redaksi, pada tahun sebelumnya penyerahan bantuan juga dilakukan ke sejumlah desa, yakni Desa Terasa, Desa Lembang Lohe, Desa Sukamaju dan Desa Bonto di Kecamatan Sinjai Tengah. Dukungan kepada komunitas nelayan disebut dilakukan setiap tahun.

Pada 2024, kegiatan sosial Nippon Paint di Sinjai juga menyentuh sektor pendidikan. Bantuan cat untuk gapura diserahkan melalui Dinas Pendidikan sebelum kemudian disalurkan ke sejumlah sekolah dasar.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan cat dapat bersinggungan dengan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Rumah membutuhkan warna dan perlindungan, sekolah membutuhkan ruang yang terawat, fasilitas publik membutuhkan pemeliharaan, sementara pariwisata, industri dan aktivitas kelautan membutuhkan pelapis yang sesuai dengan karakter lingkungan masing-masing.

Kegiatan yang menyentuh komunitas nelayan juga memiliki konteks lebih luas. Dalam laporan keberlanjutan NIPSEA Group 2024, program CSR Fishermen Boats disebut menyalurkan 8.920 liter Bee Brand 1000 dan cat copper anti-fouling untuk 419 kapal nelayan di sejumlah wilayah Indonesia.

Persisnya (di sinilah perjalanan) 145 tahun Nippon Paint bertemu dengan realitas Indonesia. Dari Tokyo, sebuah perjalanan teknologi pelapisan berkembang ke berbagai negara dan akhirnya bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk komunitas nelayan di Sinjai.

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki kebutuhan yang terus bergerak. Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, tempat usaha, hotel, resor, kawasan industri, kendaraan, peralatan, struktur bangunan hingga kapal memiliki kebutuhan pelapisan yang berbeda. Karena itu, perkembangan teknologi cat tidak dapat dilepaskan dari perubahan kehidupan manusia.

Nippon Paint memasuki usia 145 tahun bukan hanya dengan cerita tentang warna, tetapi juga dengan perjalanan panjang teknologi pelapisan. Dari cat bangunan hingga kebutuhan industri dan kelautan, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah industri berkembang mengikuti kebutuhan warga.

Dan di Sinjai, cerita tersebut kembali terhubung dengan dunia yang lebih luas, warga yang membutuhkan ruang hidup yang terawat, permukaan yang terlindungi dan warna yang mampu memberi karakter pada lingkungan tempat mereka hidup termasuk nelayan.

145 tahun adalah perjalanan panjang untuk Nippon Paint. Tak hanya tentang bagaimana sebuah warna dibuat, tetapi bagaimana teknologi pelapisan digunakan sesuai kebutuhan manusia, material dan lingkungan. (Supriadi Buraerah).

‹
›