Oleh Agusni AH

SEJAK subuh buta, orang-orang mulai memenuhi jalanan, tak menyisakan ruang untuk kenderaan melintas. Ketika matahari merangkak naik, arus manusia kian membesar hingga menyesaki alun-alun ibu kota. Sorak-sorai menggema sampai ke sudut-sudut kota. Yel-yel bersahutan, memecah udara yang sejak pagi tak lagi mengenal sunyi.

Dari gang-gang sempit hingga jalan protokol, manusia mengalir seperti sungai yang tak mengenal hulu. Ada yang membawa bendera, spanduk, dan poster bertuliskan slogan-slogan yang diangkat tinggi-tinggi. Ada pula yang sekadar mengepalkan tangan ke udara, mengikuti teriakan yang berulang-ulang menggulung dari barisan paling depan. Semakin siang, semakin sulit membedakan apakah mereka datang karena keyakinan, rasa ingin tahu, atau sekadar terseret gelombang yang tak memberi ruang untuk berpikir.

Di atas panggung megah yang berdiri menghadap lautan manusia, para pembesar silih berganti menyampaikan pidato. Setiap kalimat disambut tepuk tangan yang menggelegar. Setiap seruan dijawab gemuruh yang nyaris serempak. Tak ada jeda, tak ada keraguan, seakan ribuan kepala telah sepakat untuk mengangguk pada kata-kata yang bahkan belum sempat mereka cerna.

Kota yang biasanya riuh oleh deru kendaraan pagi itu berubah menjadi panggung raksasa. Segala arah seakan bermuara pada satu titik, satu suara, satu kehendak. Orang-orang saling menyemangati, saling mengobarkan emosi, sementara pengeras suara terus mengulang kalimat-kalimat yang lama-kelamaan terdengar seperti mantra.

Di tengah lautan manusia itu, hanya sedikit yang benar-benar diam. Mereka berdiri tanpa ikut berteriak, memandangi wajah-wajah yang larut dalam euforia. Barangkali mereka sedang bertanya dalam hati, atau mungkin justru takut bertanya. Sebab, di tengah keramaian yang memekakkan telinga, suara yang paling mudah tenggelam adalah suara hati yang mengajak berpikir.

“Takbirrrrrr…!”

Seseorang di atas panggung mengacungkan kepalan tangannya tinggi-tinggi.

“Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar…!”

Ribuan massa menyambut serempak. Pekik itu bergulung seperti guntur, menggetarkan langit, memantul dari dinding-dinding gedung pencakar langit, lalu kembali membahana di atas lautan manusia. Tangan-tangan terangkat. Mata kepala mereka menyala-nyala. Wajah-wajah memerah oleh gelora yang sulit dibedakan antara keyakinan dan luapan emosi.

“Hidup rakyat…! Hidup rakyat…! Hidup rakyat…!” teriak seseorang dari barisan depan.

“Hidup rakyat…!” sahut ribuan suara nyaris tanpa jeda.

Tak seorang pun ingin menjadi yang paling lambat berseru. Bahkan mereka yang tak benar-benar memahami apa yang sedang diteriakkan tetap menggerakkan bibirnya, larut dalam irama yang sama. Di tengah gemuruh itu, berpikir menjadi langka. Bertanya terasa seperti dosa. Yang penting mengikuti. Yang penting menyatu. Tak boleh ada yang berbeda.

Orang-orang yang berdiri di atas panggung, sama-sama mengikat kepala dengan carikan kain putih. Di atasnya tercetak huruf-huruf hitam yang mencolok: “Allahuakbar. Hidup Rakyat. Bebaskan Rakyat dari Segala Belenggu. Enyahkan Kemiskinan. Merdeka!” Kain itu berkibar diterpa angin, menyatu dengan puluhan bendera yang melambai di atas lautan manusia.

Setiap kali salah seorang dari mereka mengepalkan tangan dan meneriakkan semboyan, ribuan orang di bawah panggung menjawab serempak. Suara-suara itu membuncah, menggetarkan udara, seolah tak menyisakan ruang bagi suara lain. Wajah-wajah yang semula tampak biasa kini mulai memerah oleh semangat. Entah karena keyakinan, harapan, atau sekadar hanyut dalam gelombang yang menyeret siapa pun untuk berseru bersama.

“Ini waktunya kita tumbangkan kezaliman, hancurkan segala kemungkaran!” teriak seorang orator lantang. Suaranya membelah udara, mengaum bak singa podium yang tengah membakar semangat kawanan. Urat-urat di lehernya menegang, kepalan tangannya terangkat tinggi seolah hendak meraih langit.

Satu per satu orang di atas panggung bergantian merebut mikrofon. Masing-masing menyemburkan orasinya yang kian meninggi, disambut pekik dan sorak yang bergulung-gulung. Ada yang melompat-lompat penuh gairah, ada pula yang terus mengacungkan tangan, mengibarkan semangat yang seolah tak pernah surut. Di hadapan panggung, lautan manusia bergelombang. Ribuan tangan terangkat serempak, melambai mengikuti irama teriakan yang memantul dari pengeras suara. Tubuh-tubuh mereka bergoyang, berdesakan, hanyut dalam euforia massa yang kian memuncak. Tak seorang pun tampak menghiraukan terik matahari yang menyengat. Panas membakar ubun-ubun, peluh mengalir deras membasahi wajah dan pakaian, namun semangat mereka justru semakin berkobar. Setiap pekikan dari atas panggung disambut gemuruh takbir dan yel-yel yang menggelegar, mengguncang udara siang itu seakan hendak meruntuhkan langit.

“Hancurkan tirani…!” “Luluhlantakkan oligarki…!” seru orator lainnya, disambut gemuruh takbir dan pekik massa yang bergulung-gulung memenuhi alun-alun. Matahari terus bergerak meninggalkan titik kulminasinya, perlahan condong ke ufuk barat. Waktu bergeser tanpa terasa. Zuhur berlalu, lalu Asar menyusul. Senja mulai menumpahkan cahaya keemasan, hingga azan Magrib akhirnya berkumandang. Sejak siang, ribuan orang masih memadati alun-alun utama, meski sedikit demi sedikit sebagian di antaranya mulai beranjak pulang karena letih dan lapar. Entah juga lantaran sadar.

Namun, orang-orang di atas panggung tetap bertahan. Mereka terus bergantian memegang mikrofon, menyulut amarah, mengobarkan semangat, dan mengarahkan massa agar bergerak menuju gedung yang menjadi titik sasaran. Harapannya hanya satu: merobohkannya, lalu merebut tongkat komando yang selama ini mereka cap sebagai simbol kezaliman.

Sudah tiga kali azan berkumandang sejak mereka berkumpul di tempat itu. Anehnya, para penyeru penegakan amar ma’ruf nahi mungkar tetap larut dalam pidato-pidato yang berapi-api. Seruan mereka tak pernah berhenti, tetapi tak satu pun turun dari panggung untuk memenuhi panggilan salat berjemaah atau melaksanakan kewajiban mutlak itu tersendiri. Mereka lebih sibuk menjadi pengkhotbah di hadapan massa daripada menjadi teladan atas nilai-nilai yang terus mereka gaungkan. Kejumudan itu menjelma menjadi ironi yang telanjang. Lidah-lidah mereka fasih menyerukan perubahan, tetapi langkah mereka membeku di atas panggung. Semangat yang dikobarkan seakan hanya berputar dalam gema kata-kata, tanpa pernah menjadi keteladanan yang menggantung di langit senja, seakan menjadi pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. []

(Jakakarta dalam genangan kenangan, Mei 2025).

Agusni AH, ia aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, dan Merengkuh Asa yang ditulis bersama Putra Zulfirman. Buku kumpulan cerpen Tikai (segera terbit). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.

Penulis: Agusni AH
Editor: Muhammad Subhan

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Terbaru

Sajak-Sajak Andi Wirambara

Bilik Elipsis
22 menit yang lalu

Anak-anak yang Memerah Putih

Bilik Elipsis
31 menit yang lalu

Jumud

Bilik Elipsis
58 menit yang lalu

Dongeng di Ruang Terapi

Bilik Elipsis
1 jam yang lalu

Puisi-Puisi Ika Dahliawati

Apresiasi
1 jam yang lalu

Bilik Elipsis