Ika Dahliawati. Lahir di Purwakarta, 06 Januari 1983. Hobi menulis , membaca dan senang belajar. Penulis juga guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Campaka Purwakarta. Dua kali puisinya dimuat di Pikiran Rakyat. Beberapa puisi yang lain masuk dalam antologi 1000 puisi untuk Palestina bersama Helvy Tiana Rossa, puisi pandemik bersama para penyair perempuan, dan masuk di antologi bersama Association Womans Writer Association (AWWA). Pernah bergabung di beberapa komunitas literasi seperti AWWA (Association Womans Writer Association) KPPI, serta menjadi Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa. Terakhir, bergabung di komunitas Setanggi.
Wahai Tuan
Wahai Tuan,
yang mencintai satu selangkangan,
datang mengendap,
mengemas birahi
di kamar-kamar gelap.
Kau merajut janji,
bersumpah atas nama Tuhan—
bahwa hasrat kita
tak lekang
digilas waktu.
Sementara kau takut mencintai jiwa,
lebih setia pada tubuh
daripada luka dan doa.
Kini aku tahu,
yang kau sebut cinta
hanyalah tubuh yang kau hafal,
bukan jiwa
yang diperjuangkan.
Maka aku belajar mencintai tanpa sumpah,
sebab Tuhan tak tinggal di kamar gelap,
dan waktu tak pernah berlutut
pada birahi
yang mengaku abadi.
Fragmen Kesadaran
Aku berdiri di antara ada dan tiada,
menyebut namaku sendiri
untuk memastikan aku masih hidup.
Waktu lewat seperti orang asing,
tak menoleh,
tak peduli apakah aku mengingatnya
atau dilupakan olehnya.
Aku bukan doa,
bukan juga kutuk—
hanya kesadaran yang sementara
menumpang di tubuh yang rapuh.
Jika kelak aku hilang,
siapa yang benar-benar pergi?
Tubuh,
ingatan,
atau aku
yang sejak awal
tak pernah sepenuhnya ada
Hanyut
Ombak terus bergelombang, Tuan,
menghanyutkan salam
yang pernah kutitipkan pada ikan-ikan.
Kau pun mengayuh sampan,
menjauh
dari nama yang tertinggal.
Aku pun bertanya pada laut:
apakah aku masih ada
ketika bayang diri tak lagi dipanggil,
atau aku hanya gema
yang hidup sebentar
di telinga gelombang,
lalu lenyap bersama senja
Suluk di Jalan Sunyi
Pada Tuan yang menatap hingga ke dasar jiwa,
kuserahkan segenap hati
yang kemarin tercecer di jalan sunyi.
Rangkailah ia dalam doa,
biar daun-daun kembali hijau,
biar melati pulang pada wangi.
Lalu semesta bersujud pelan,
menggemakan satu kata:
Aamiin.
Debu Doa
Pada Tuan yang membaca rahasia langit,
kutitipkan segenap hati
yang pernah pecah
menjadi debu doa.
Rangkumlah ia dalam sebutir nama-Mu,
biar daun-daun kembali hijau di dada waktu,
biar melati bangkit
dari sunyi yang Kau berkahi.
Lalu semesta pun bersujud,
angin menjadi amin,
tanah menjadi sujud,
dan cahaya
menjadi jawab
atas cinta
yang tak lagi berani membedakan
antara Engkau
dan ia.
Penulis: Ika Dahliawati
Editor: Tiara Nursyita Sariza
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.






















































