Rahayu Wilujeng. Perempuan kelahiran Cianjur, Jawa Barat. Menetap di Pontianak.
Kami Berdansa dalam Penyangkalan
Selamat datang di ruang sunyi,
di rumah yang kutempati
sepi yang merangkul, bisu yang mengasih.
Derau senja menggema di ujung waktu,
luka yang tak kunjung sembuh,
kunikmati perlahan, dalam diam yang abadi.
Selamat datang di pesta penyangkalan,
di mana ia masih menari
bayang-bayang yang melenggak-lenggok,
meracuni akal yang telah mati.
Langkahnya perlahan, menusuk sunyi,
menghantui realita yang kian sepi.
Kita bertukar peran, saling melukai,
seolah aku tak kan pernah binasa.
Ku pura-pura sembuh, berpura tegar,
padahal telah mati berulang kali.
Dan ia tetap di sini, menari-nari,
meracuni sisa kewarasan yang tersisa.
Selamat datang di penyangkalan,
di pesta yang tak berujung.
Selamat datang di penyangkalan,
di tarian yang tak pernah usai.
Kita saling menghantam, saling mengiris,
dalam ilusi yang tak mau pudar.
Ia masih di sini, menari-nari,
meracuni jiwa yang telah layu.
Ia masih di sini, menari-nari,
menghantui mimpi yang tak lagi bernyawa.
Selamat datang di penyangkalan
di sini, aku dan bayangku bersatu.
Kau, Ingatan yang Tak Mau Mati
Untuk bayang yang tak mau pergi,
tersangkut di ruang ingatan
kukira angin yang berlalu,
tapi kau tinggal menjadi langit.
Untuk jejak yang pernah singgah,
kabarmu kini bahagia.
Ajari aku cara melupakan,
sebab aku masih terjaga
dalam malam yang tak berujung.
Kau membuatku istimewa,
lalu pergi dengan tenang.
Kata mereka, “Serahkan pada waktu,”
tapi waktu hanya mengukir luka.
Aku tumbuh tua dalam dusta,
berpura tak kenal wajahmu,
padahal kau masih bernyanyi
dalam nadi yang sunyi.
Aku hanya ingin lupa
tapi kau mengajariku menjadi manusia:
retak, tak sempurna,
terdampar di antara
“pernah ada” dan “selamanya”.
Dan kau
masih di sini,
menjadi duka yang tak bisa mati
Komedi untuk Jentaka
Sejenak kujadikan luka
lelucon yang ditertawakan
ritme jenaka mengalun,
sementara racun kutelan.
“Mari bermain!” seruku,
sambil kubungkam kepedihan.
Biarkan mereka tertawa,
sementara aku
menyimpan debu kecewa
di antara lipatan senyum.
Aku tak ingin kau tahu,
bahwa di balik panggung,
air mata menggenang
seperti danau tanpa bulan.
Kebiasaan menyendiri,
mengubah sepi menjadi sandiwara.
Wahai, Jentaka yang tak kenal lelah
berhentikah kau menari?
Antarkan aku pulang
ke kesunyian yang tak bertuan,
di mana aku boleh rapuh
tanpa topeng komedi.
Dunia hanyalah mainan,
tapi akhirat adalah rumah.
Apakah kita mendengar?
Atau tetap berpura bahagia,
sambil menjahit luka
dengan benang palsu tawa?
Aku masih tersenyum,
tapi di dalam,
ada anak yang menangis terjatuh,
terbiasa dikubur sendiri
Penulis: Rahayu Wilujeng
Editor: Tiara Nursyita Sariza




















































