Oleh Nurul Khalifah
MUSIM hujan telah tiba. Di sebuah sungai yang bernama Sungai Kedamaian, ada dua sahabat yang sering bermain bersama walaupun keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Yang satu namanya si Keong Kerdil atau akrab dipanggil Keker dan satu lagi bernama Kura-Kura Kecil, dipanggil Kurkel.
Keker anak manja, cengeng dan tidak bisa menerima kekurangan dirinya. Berbeda dengan Kurkel, dia memiliki sifat mandiri dan kuat. Kurkel selalu menyadari kekurangan dirinya.
“Kurkel kenapa kamu jalannya lambat sekali, aku lelah mengikuti langkahmu,” cibir Keker si Keong Kerdil.
“Maafkan aku Keker, aku capek nih habis membantu Mami merapikan rumah,” sahut Kurkel, si Kura-Kura Kecil.
Begitulah. Tanpa melihat keadaan dirinya, Keker selalu menghina Kurkel. Padahal mereka sama-sama berjalan dengan lambat.
*
SEBENARNYA, Keker anak yang baik hati, tetapi dia sangat dimanjakan orang tuanya. Ketika berbuat salah, dia tidak pernah ditegur. Berbeda dengan Kurkel, dia dididik agar menjadi anak yang kuat.
Suatu hari, Kurkel bertanya kepada mami. “Mami, kenapa Keker selalu mengejekku? Katanya aku berjalan sangat lambat. Padahal, kami, kan bersahabat?” Tanyanya sambil terisak.
“Jangan bersedih jagoan Mami,” jawab mami sambil tersenyum. “Kamu anak yang kuat. Masa sih hanya diejek begitu saja nangis. Coba ulangi yang Mami ajarkan, “jangan marah maka bagimu sur..surga” , nah, ingat itu ya, sayang,” bujuk Mami sambil memeluk Kurkel.
“Baiklah, Mami,” jawab Kurkel dengan suara sedikit parau.
Keesokan harinya, ketika Kurkel sedang berjalan menuju sungai dia melihat Keker sedng diejek teman-temannya. Namun, Kurkel tidak berdaya untuk menolong Keker.
“Oh, tuhan? Ingin sekali aku berlari membantu Keker,” bisik Kurkel sambil berjalan terseok-seok menuju Keker yang sedang menangis. Namun, Keker beranjak pergi meninggalkan sungai tanpa tahu bahwa Kurkel ada di situ dan melihat semua kejadian tersebut.
*
“MAAFKAN aku, Keker. Benar katamu, aku sahabat yang tidak berguna. Jalanku lambat. Bahkan ketika kamu diejek, aku hanya bisa melihat dari kejauhan,” gumam Kurkel yang hari itu menatap cermin di rumahnya.
Mami mendekati Kurkel yang sedang berbicara dengan cermin itu. Dengan senyumannya yang tulus, Mami menasehati Kurkel tanpa lelah agar dia menjadi anak yang kuat.
“Barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi. Jika ada orang yang menghinamu, diamkan. Kamu tidak usah membalasnya. Jika menurutmu sudah keterlaluan, bertindaklah dan selalu bercerita kepada Mami,” begitu nasehat mami.
Itulah nasehat yang selalu diingat Kurkel. Jadi, walaupun Keker sering menyakitinya, dia tetap menyayangi Keker sahabatnya.
*
SEJAK kejadian di sungai itu, ejekan teman-teman kepada Keker membuat sikapnya berubah kepada Kurkel. Dia menganggap jalannya yang lambat karena ia sering bermain dengan Kurkel. Seperti hari itu, Kurkel mengajak Keker bermain di sungai.
“Hai Keker apa kabar? Ayo kita main ke sungai. Sudah lama kita tidak bermain di sana,” ajak Kurkel.
Keker bersikap acuh tak acuh atas ajakan tersebut dan ia pergi berlalu begitu saja.
Hari berikutnya Kurkel melakukan hal yang sama. Dan kembali Keker menanggapi dengan cara yang sama pula. Kurkel yang selalu bersemangat mengajak Keker bermain, tetapi malah membuat Keker jadi kesal.
“Kurkel, kenapa sih kamu tidak ada bosan-bosannya mengajak aku bermain. Aku ikut-ikutan lambat karena bersahabat dengan kamu!” sergah Keker dengan suara yang keras. Ia membentak Kurkel.
“Mmm.. Maafkan aku Keker. Aku bukan sahabat yang baik. Saat kamu diejek oleh teman-teman, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” jawab Kurkel teriba.
Keker tentu terkejut. Ternyata, Kurkel mengetahui kejadian ejekan teman-teman ketika itu. Keker malah makin kesal karena hal itu, dan kekesalan kepada Kurkel ia tumpahkan semakin menjadi-jadi.
“Semua ini salahmu! Pergi! Lupakan aku! Aku tidak ingin bersahabat dengan kamu makhluk lelet!” Keker berteriak sejadi-jadinya.
Keduanya berpisah dengan kecamuk rasa di dada masing-masing. Kurkel pulang dan tentu saja bercerita kepada Mami tentang sikap Keker hari itu. Ternyata, selama ini Keker menganggap kenapa ia berjalan sangat lambat karena akibat berteman dengannya. Seperti biasa, Mami dapat menenangkan hati anaknya itu. Baginya, apa yang dilakukan oleh Keker hanyalah angin lalu belaka.
*
SUDAH hampir sebulan keker tidak menyapa Kurkel. Hati Kurkel sangat sedih. Setiap hari Kurkel selalu berdoa untuk Keker. Hingga suatu hari, Keker sedang dijahili si Kancil. Kancil itu arogan dan terkenal suka mengejek memang.
“Kancil, sudah cukup! Selama ini tidak ada yang berani melawan kamu! Biarpun kami lambat, kami selalu bersyukur dengan keadaan kami!” sergah Kurkel berusaha menasehati Kancil. Tidak dinyana, Kancil ternyata sosok yang cengeng. Ia malah menangis dan pergi mendengar bentakan Kurkel.
Kini tinggal mereka berdua, dua sahabat yang lama sudah tidak bertegur sapa.
“Terima kasih, ya, Kurkel. Kamu bersikap baik kepadaku. Padahal, aku sangat membencimu selama ini. Aku mengejekmu untuk menutupi kekuranganku. Aku tidak tahan mereka selalu mengejekku lamban. Maafkan aku, kamu memang sahabat yang baik, kamu memiliki hati yang tulus,” isak Keker sambil memeluk Kurkel
“Aku tidak pernah marah kepadamu. Kita senasib. Meski kita lambat, tetapi kita kuat dengan cangkang kita ini,” bisik Kurkel menangis tertahan.
“Eh ternayata Kancil anak yang cengeng ya Kurkel. Nakal tapi cengeng, hi-hi-hi-hi,” cibir Keker.
“Sshh… Kita tidak boleh menghina Kancil. Kalau begitu apa dong bedanya kita dengan dia,” jawab Kurkel bijak.
Demikian kisah persahabatan di Sungai Kedamaian. Dua sahabat yang saling menguatkan satu sama lain dengan menyadari kelemahan dan kekurangan masing-masing. []
Nurul Khalifah, siswa kelas VII SMP Negeri 02 Kinali, Kabupaten Pasaman Barat
Penulis: Nurul Khalifah
Editor: Anita Aisyah
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.














































