Oleh Rungo Ashta

UAP membubung menyentuh langit-langit rumah yang dipenuhi jaring laba-laba. Setrika bara menari pelan di atas kemeja putih, menyisir setiap lekuk kusut hingga mulus.

Mak Jannah mengangkat setrika, meniup bara dari sela lubang kecil di bagian tengahnya. Ia memastikan tak ada bara yang jatuh ke kain. Sekali saja bara itu melompat, kemeja Rafin bisa berlubang.

“Mak, yang rapi setrika bajuku, ya,” teriak Rafin dari kamar. “Aku harus tampil gagah besok.”

“Iya. Tenang saja kau, Rafin.”

Mak Jannah tersenyum kecil. Matanya kembali mengikuti gerak setrika.

Di rumahnya, listrik belum pernah sampai. Kabel PLN berhenti sebelum bukit tempat mereka tinggal. Malam hari mereka menggunakan dama, lampu sederhana dari botol kaca, sabut kelapa sebagai sumbu, dan minyak tanah yang dicampur sedikit air agar tidak cepat habis.

Setrika bara itu sudah menemani Mak Jannah bertahun-tahun. Benda tua yang dibeli dari pasar kecamatan ketika Rafin masih kecil. Besi hitamnya mulai kusam, tangkai kayunya licin karena sering digenggam.

Malam itu, benda tua tersebut kembali dipanaskan untuk satu keperluan yang bagi Mak Jannah terasa lebih besar daripada sekadar merapikan pakaian.

Sudah tiga tahun Rafin membicarakan hal yang sama. Tiga tahun pula ia menyimpan keinginan untuk mengikuti upacara kemerdekaan di kantor camat.

Mak Jannah memandang anak semata wayangnya yang berdiri tegap di depan cermin tua. Rafin mematut-matutkan diri. Rambutnya disisir ke belakang. Wajahnya dipenuhi semangat yang sulit disembunyikan.

“Besok kau betul-betul mau ke kantor camat, Rafin?” tanya Mak Jannah.

“Iya, Mak.”

“Jauh. Kalau hujan?”

“Tidak apa-apa, Mak.”

Mak Jannah menghela napas.

Ia ingin melarang. Namun melihat mata Rafin, semua larangan itu seperti kehilangan tempat.

“Jangan sampai pulang terlalu sore kau, Rafin.”

“Iya, Mak.”

Rafin kembali bercermin. Di matanya ada sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan Mak Jannah. Yakni bayangan tentang dunia yang lebih luas dari bukit tempat mereka tinggal.

Keinginan itu tumbuh dari cerita gurunya. Kata gurunya, upacara kemerdekaan di kantor camat berbeda dengan upacara di sekolah mereka. Di sana ada paskibra, drum band, bendera merah putih dikibarkan dengan gagah, orang-orang dari berbagai desa datang. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan suara musik yang ramai.

Tahun lalu, Rafin hanya bisa membayangkannya dari cerita. Ia ingin melihatnya sendiri sebelum menamatkan sekolah dasar. Bukan karena ia ingin menjadi yang paling gagah. Bukan pula karena ingin mendapat pujian. Ia hanya ingin melihat bendera yang setiap Senin ia hormati di halaman sekolah berkibar di tempat yang lebih ramai. Ia ingin tahu seperti apa rasanya menjadi bagian dari sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan buku pelajaran.

“Kenapa kau begitu ingin pergi, Rafin?”

Rafin menatap cermin. “Aku ingin melihat kemerdekaan lebih dekat, Mak.”

Mak Jannah tidak menjawab. Tangannya kembali menggerakkan setrika. Seragam merah putih itu dilipat hati-hati, lalu dimasukkan ke dalam tas. Sebelum tidur, Rafin memeriksanya sekali lagi.

“Besok jangan sampai kotor,” katanya.

Mak Jannah hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa seragam itu sudah dijahit ulang di bagian lengan. Ia tidak mengatakan bahwa beberapa bulan lalu ia harus memilih antara membeli beras atau membeli seragam itu. Ia juga tidak mengatakan bahwa perjalanan Rafin besok membuat dadanya sejak tadi terasa sesak.

Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Rafin sudah bangun. Ia mengenakan pakaian sehari-hari. Seragam merah putih dilipat di dalam tas, dibungkus kantong plastik.

“Kenapa tidak kau pakai saja?” tanya Mak Jannah.

“Nanti kotor, Mak.”

Mak Jannah memandang anaknya.

“Kalau hujan?”

“Seragamnya aman.”

Ia mengangkat tas ke bahu.

Di depan pintu, Rafin mencium tangan ibunya.

“Hati-hati.”

“Iya, Mak.”

Ia berjalan cepat meninggalkan rumah. Mak Jannah berdiri di ambang pintu, menatap langkah Rafin yang semakin jauh. Ia ingin memanggil, tetapi suara itu urung keluar. Ia tahu anaknya sedang mengejar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar upacara.

Rafin terus berjalan. Dari rumah melewati sekolah, lalu jalan setapak yang membelah perkebunan. Setelah itu masih ada perbukitan dan sungai yang harus diseberangi. Jaraknya hampir sepuluh kilometer.

Rafin sudah hafal jalan itu. Kiri kanan hanya pepohonan. Sesekali suara burung terdengar dari kejauhan. Tidak ada rumah. Tidak ada tiang listrik. Tidak ada kendaraan. Rafin mempercepat langkah. Hari ini ia ingin melihat kemerdekaan dengan matanya sendiri.

Hujan turun sebelum ia sampai ke sungai. Mulanya hanya gerimis. Kemudian semakin rapat. Dedaunan yang tadi basah oleh embun mulai meneteskan air lebih banyak. Jalan tanah berubah licin. Di beberapa bagian, air mengalir membelah jalan setapak. Rafin berlari menuju sebuah pondok ladang. Hampir satu jam ia menunggu. Berdiri di sana sambil memeluk tas. Khawatir seragam merah putih di dalamnya ikut kebasahan.

Rafin menatap keluar pondok. Hujan tak kunjung reda.

“Jangan lama-lama,” gumamnya.

Seolah langit mendengar doanya, hujan perlahan mereda.

Rafin melanjutkan perjalanan. Jalan menjadi licin. Lumpur melekat di kaki kecilnya. Sandal jepit ia jinjing agar langkahnya lebih mudah.

Dari kejauhan, arus sungai mulai terdengar. Mulanya samar. Lalu semakin jelas. Ketika tiba di tepian, Rafin berhenti. Sungai itu lebih lebar daripada biasanya. Airnya keruh. Arusnya deras. Ranting-ranting kayu hanyut dari hulu. Dua orang pemilik perahu sedang menarik perahu kayu ke daratan.

Rafin menghampiri.

“Pak, aku mau menyeberang.”

Salah seorang pemilik perahu menatapnya.

“Tidak bisa, Nak.”

“Kenapa, Pak?”

“Air sedang naik.”

“Aku harus ke kantor camat, Pak. Mau ikut upacara.”

“Tidak bisa menyeberang, Nak.”

Rafin memandang ke arah seberang. Di sana jalan menuju kantor camat terbentang jauh di balik bukit. Untuk pertama kalinya pagi itu, langkahnya benar-benar berhenti.

“Pak, aku harus ikut upacara.”

Pemilik perahu tersenyum tipis.

“Kalau air seperti ini, Bapak tidak berani.”

Rafin memandang sungai. Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia sudah berjalan jauh. Bahwa seragamnya sudah disetrika. Bahwa ini adalah tahun terakhirnya di sekolah dasar. Ia membayangkan bendera yang sebentar lagi dikibarkan di halaman kantor camat. Tetapi semua kata itu terasa kecil di hadapan suara air.

Rafin memejamkan mata. Suara sungai terdengar seperti ratusan orang sedang bernyanyi. Guruh di kejauhan seperti bunyi drum band yang sedang dipukul dari balik bukit. Untuk sesaat ia merasa sudah berada di sana. Tetapi ketika membuka mata, yang ia lihat hanya arus sungai kian menggila.

Tidak ada bendera. Tidak ada paskibra. Tidak ada drum band. Hanya air keruh yang terus mengalir deras. Ia duduk di tanah.

“Sudah mulai upacara,” katanya pelan.

Ia teringat jembatan yang sering dibicarakan orang-orang dewasa di desanya. Katanya, jembatan akan dibangun. Sudah beberapa tahun kabar itu berulang.

Tahun depan, kabarnya. Tetapi tahun depan datang dengan cerita yang sama. Tidak ada batu. Tidak ada tiang baja. Tidak ada jembatan. Hanya janji yang tinggal menjadi cerita.

Angin bergerak dari hulu. Rafin membuka tasnya. Kantong plastik itu masih kering. Ia mengeluarkan seragam merah putih yang dilipat Mak Jannah semalam. Putihnya masih bersih. Merahnya masih terang. Untuk beberapa saat ia hanya memandanginya. Lalu ia memandang ke seberang sungai. Di sana tidak ada apa-apa yang bisa ia lihat.

Pemilik perahu menatapnya.

“Pulanglah, Nak. Besok saja kalau mau keluar desa.”

Rafin menatap sungai. Nanar.

“Besok sudah tidak ada upacara, Pak.” []

Rungo Ashta. Berdomisili di Kabupaten Pasaman. Menulis cerpen, puisi, esai, artikel, dan cerita anak. Tulisannya dimuat dalam buku solo, berbagai antologi, dan media massa. Bergabung dalam Sekolah Menulis elipsis, WIN Indonesia, Ufuk Literasi. Pendiri Akademi Menulis Metafora. Dapat disapa di media sosial dengan nama rungo_ashta22.

Penulis: Rungo Ashta
Editor: Suria Tresna

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.