Oleh Sumira Putri

BANYAK orang tua menganggap bahwa bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit. Wajar saja, karena bahasa Inggris bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, di sisi lain kita juga tidak bisa menutup mata bahwa bahasa Inggris kini menjadi salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Bahkan, kemampuan berbahasa Inggris sering menjadi bekal penting untuk melanjutkan pendidikan, mendapatkan beasiswa, hingga membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.

Berangkat dari pemikiran itulah, Kepala TK Al-Mukhlisin, Ibu Aida Eliza, memiliki keinginan agar anak-anak dikenalkan dengan bahasa Inggris sejak usia dini. Bukan untuk membuat mereka langsung mahir, melainkan agar mereka memiliki pengalaman pertama yang menyenangkan saat belajar bahasa Inggris.

Saya merasa senang dipercaya menjadi bagian dari perjalanan tersebut melalui program Fun English Class di TK Al-Mukhlisin.

Program ini diikuti delapan kelas dengan jumlah sekitar 15–20 anak di setiap kelas. Tentu mengajar anak usia PAUD dan TK berbeda dengan mengajar siswa yang lebih besar. Targetnya bukan menghafal banyak kosakata atau mampu berbicara dalam kalimat yang panjang. Yang paling penting adalah menumbuhkan rasa senang terlebih dahulu.

Oleh karena itu, setiap proses pembelajaran dirancang sesederhana mungkin. Durasi belajar hanya sekitar 30 menit. Bagi anak usia dini, waktu tersebut sudah cukup untuk mengenalkan materi tanpa membuat mereka merasa lelah atau bosan. Dunia mereka masih dipenuhi rasa ingin bermain, bergerak, dan bereksplorasi. Maka belajar pun harus mengikuti dunia mereka.

Dalam setiap pertemuan, saya menggunakan beberapa metode yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak.

Metode pertama adalah Audio-Lingual Method (ALM). Pada metode ini saya mengucapkan sebuah kata, kemudian anak-anak menirukan secara bersama-sama maupun bergantian. Cara sederhana ini membantu mereka membiasakan diri mendengar bunyi bahasa Inggris sekaligus melatih pelafalan sejak awal.

Baca Juga :  Mengembalikan Anak ke Dunia Buku

Metode berikutnya adalah Total Physical Response (TPR). Anak-anak belajar melalui gerakan tubuh. Misalnya ketika mengucapkan kata eyes, mereka langsung menunjuk mata mereka sendiri. Saat belajar nose, mereka menyentuh hidung, begitu juga dengan bagian tubuh lainnya. Anak-anak ternyata jauh lebih mudah mengingat kosakata ketika mereka menghubungkannya dengan gerakan.

Selain itu, kami juga belajar melalui lagu dan musik. Lagu-lagu sederhana seperti ABC Song, lagu warna, atau lagu tentang anggota tubuh membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Tanpa mereka sadari, mereka sedang menghafal kosakata dan cara pengucapannya sambil bernyanyi bersama teman-teman.

Media visual seperti flashcard juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Gambar-gambar hewan, buah, warna, maupun benda di sekitar membantu anak mengenali kosakata dengan lebih mudah. Dalam praktiknya, beberapa metode ini sering digabungkan agar suasana belajar semakin menarik dan sesuai dengan karakter setiap kelas.

Mengajar anak-anak usia dini tentu selalu penuh cerita. Tidak semua anak langsung berani mengikuti kegiatan. Ada yang menangis saat pertama masuk kelas. Ada yang memilih diam dan hanya memperhatikan dari tempat duduknya. Ada yang begitu antusias menjawab semua pertanyaan. Ada juga yang sangat aktif sehingga perlu diajak fokus kembali.

Semua itu adalah bagian yang sangat wajar. Setiap anak memiliki cara belajar dan proses berkembang yang berbeda. Sebagai guru, saya belajar untuk tidak membandingkan mereka, tetapi menemani setiap anak sesuai dengan ritmenya masing-masing.

Di antara semua pengalaman itu, ada satu momen yang selalu membuat hati saya hangat. Ketika anak-anak bertanya, “Mrs. Mira, kapan belajar bahasa Inggris lagi?” atau ketika mereka melambaikan tangan sambil mengingat kata-kata yang dipelajari minggu sebelumnya. Bagi saya, itu adalah tanda bahwa mereka menikmati proses belajar.

Bagi anak usia dini, rasa senang adalah pintu masuk menuju proses belajar yang lebih baik. Ketika mereka merasa nyaman, mereka akan lebih berani mencoba. Mereka tidak takut salah mengucapkan kata. Mereka tidak malu bertanya. Dan tanpa disadari, mereka sedang membangun kepercayaan diri.

Baca Juga :  Membaca Hikayat Bangun, dari Bui Menuju Cahaya Ilahi

Itulah tujuan utama kelas ini. Saya ingin setiap anak percaya bahwa belajar bahasa Inggris itu menyenangkan. Tidak sesulit yang sering dibayangkan banyak orang. Ketika keyakinan itu tumbuh sejak kecil, mereka akan memiliki hubungan yang positif dengan bahasa Inggris.

Suatu hari nanti, ketika mereka duduk di bangku SD, SMP, atau bahkan SMA dan menemukan materi bahasa Inggris yang lebih menantang, saya berharap mereka akan mengingat pengalaman pertama mereka belajar sambil bernyanyi, bergerak, tertawa, dan bermain. Mereka tidak akan langsung menyerah ketika menemui kesulitan, karena mereka tahu bahwa belajar bahasa Inggris pernah menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Harapan ini sejalan dengan visi yang dimiliki Ibu Aida Eliza. Beliau percaya bahwa salah satu cara mempersiapkan generasi yang berkualitas adalah dengan mengenalkan kemampuan berbahasa asing sejak dini. Bukan untuk membebani anak-anak dengan target yang tinggi, tetapi untuk membuka wawasan mereka bahwa dunia ini luas dan mereka memiliki kesempatan untuk menjadi bagian darinya.

Melalui Fun English Class, TK Al-Mukhlisin menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebutuhan anak untuk belajar dengan gembira.

Saya percaya, setiap langkah sekecil apa pun yang dilakukan hari ini akan menjadi bekal berharga di masa depan. Mungkin hari ini mereka baru mampu mengucapkan eyes, ears, atau nose. Namun dari kata-kata sederhana itulah lahir rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan kecintaan terhadap belajar.

Dan bagi saya, itulah pencapaian terbesar dari sebuah proses pembelajaran. []

Sumira Putri, pegiat literasi, founder TBM Pondok Buku Olalaa, Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat

Penulis: Sumira Putri
Editor: Muhammad Subhan

Jelajahi Berita Lainnya
Memuat berita...