“Keinginan untuk sukses sering datang bersamaan dengan rasa takut. Memahami apa yang terjadi di dalam pikiran bisa menjadi langkah awal untuk berani melangkah.


JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM — Pernah ingin mencoba sesuatu, tetapi baru membayangkannya saja sudah merasa takut gagal? Bisa jadi masalahnya bukan karena tidak mampu, melainkan karena pikiran sudah lebih dulu membuat berbagai kemungkinan buruk. Hal ini menjadi salah satu pembahasan Denny Santoso dan Hingdranata Nikolay saat mengulas pola pikir, kesuksesan, dan ketakutan melalui perspektif NLP.

Kita semua punya versi “ingin sukses” masing-masing.

Ada yang ingin punya bisnis sendiri. Ada yang ingin naik jabatan. Ada yang ingin berani berbicara di depan banyak orang. Ada juga yang sekadar ingin hidup lebih tenang dan tidak terus-menerus merasa tertinggal.

Tapi ada satu masalah yang sering datang diam-diam: takut memulai.

Belum mencoba sudah membayangkan gagal.

Belum ditolak sudah merasa akan ditolak.

Belum tampil sudah membayangkan dipermalukan.

Akhirnya, langkah pertama pun tidak pernah terjadi.

Persoalan seperti ini dibahas Denny Santoso bersama Hingdranata Nikolay dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Denny Santoso yang dikutip InsertRakyat.com pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2026.

 

Pola Pikir Orang Sukses: Apa yang Mereka Lihat Sebelum Mengambil Keputusan?
Denny Santoso dan Hingdranata Nikolay dalam tayangan YouTube yang membahas pola pikir, proses pengambilan keputusan, dan kesuksesan. Sumber: YouTube Denny Santoso.

Semua Orang Mau Sukses, Tapi Siapa yang Mau Menjalani Prosesnya?

Menurut Hingdranata, banyak orang menginginkan hasil dari kesuksesan, tetapi tidak selalu siap menjalani proses yang ada di belakangnya.

“Orang mau result-nya, bukan responsibility-nya. Mereka bukan mau learning curve-nya,” demikian inti pernyataan Hingdranata.

Kalimat tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kita senang melihat orang sukses.

Baca Juga :  Polisi Tangkap Predator, Ibu Korban Syok!

Kita melihat bisnis yang sudah besar, karier yang sudah mapan, atau seseorang yang terlihat percaya diri.

Tetapi kita jarang melihat masa ketika orang tersebut masih belajar.

Padahal, sebelum mahir ada fase tidak bisa.

Sebelum berhasil ada kemungkinan gagal.

Sebelum percaya diri ada masa ketika seseorang harus berani terlihat belum sempurna.

Denny kemudian mengibaratkan pikiran manusia seperti sebuah ruangan.

Setiap orang mengisi “ruangan” tersebut dengan pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, dan cara melihat dunia.

Itulah sebabnya dua orang bisa berada di tempat yang sama, tetapi melihat peluang yang berbeda.

Seorang sales berpengalaman, misalnya, mungkin melihat seseorang sebagai calon pelanggan.

Orang lain bisa saja hanya melihatnya sebagai orang biasa.

Pengalamannya berbeda. Cara berpikirnya pun berbeda.

Karena itu, ketika ingin belajar dari seseorang yang sudah berhasil, yang menarik bukan hanya hasil akhirnya.

Yang perlu dilihat adalah bagaimana orang tersebut berpikir dan bertindak.

Bagaimana ia melihat peluang?

Bagaimana ia menghadapi penolakan?

Bagaimana ia mengambil keputusan?

Bagaimana ia belajar ketika gagal?

Gagasan tersebut dirangkum Denny melalui pertanyaan:

“Sekarang, Anda mau meniru desain yang mana?”

Sukses Tidak Bisa Instan

Gambaran ini sebenarnya mudah dipahami lewat hal sederhana: memasak.

Melihat seorang koki menghasilkan makanan lezat tidak membuat seseorang langsung bisa memasak.

Ada pisau yang harus digunakan dengan benar.

Ada bahan yang harus dikenali.

Ada api yang harus dikendalikan.

Ada rasa yang harus dipelajari.

Dan tentu saja, ada kemungkinan masakan pertama tidak sesuai harapan.

Baca Juga :  JAM-Pidmil -- Puspenkum Gelar Penerangan Hukum Pencegahan Korupsi bagi Taruna AKMIL di Magelang 

Begitu pula dengan kemampuan lain.

Seseorang yang terlihat hebat hari ini kemungkinan telah melewati banyak proses yang tidak terlihat.

Jadi, ketika melihat keberhasilan orang lain, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana caranya supaya saya bisa seperti dia?”

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

“Proses apa yang sudah dia lewati?”

Kenapa Kita Bisa Takut Padahal Belum Terjadi Apa-Apa?

Bagian lain dari pembahasan Denny dan Hingdranata menyentuh soal ketakutan.

Menariknya, rasa takut tidak selalu muncul karena sesuatu yang buruk benar-benar sedang terjadi.

Kadang, pikiran sudah lebih dulu membuat filmnya sendiri.

Contohnya ketika seseorang hendak presentasi.

Belum naik ke depan ruangan, tetapi sudah membayangkan salah bicara.

Belum ada yang tertawa, tetapi sudah membayangkan ditertawakan.

Belum ada penolakan, tetapi sudah mendengar suara dalam kepala:

“Pasti gagal.”

“Percuma mencoba.”

“Nanti orang-orang menilai saya.”

Akibatnya, tubuh bisa ikut merasakan ketegangan meski peristiwa yang ditakutkan belum terjadi.

Dalam pembahasan NLP tersebut, pengalaman internal seperti ini dikaitkan dengan gambaran mental, suara, dan dialog dalam diri.

Ternyata Cara Orang Takut Bisa Berbeda

Tidak semua orang mengalami rasa takut dengan cara yang sama.

Ada yang lebih banyak membayangkan sesuatu.

Ada yang terus berbicara dengan dirinya sendiri.

Ada pula yang merasakan reaksi tubuh ketika menghadapi situasi tertentu.

Karena itu, mengenali rasa takut bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana:

“Sebenarnya apa yang terjadi di kepala saya ketika saya takut?”

Bukan untuk menyalahkan diri sendiri.

Justru untuk memahami diri dengan lebih baik.

Baca Juga :  Yatim Piatu: Nikita Berhenti Sekolah, Pihak Sekolah Klaim Belum Resmi Putus Sekolah, dan Terima Bantuan PIP

Bukan Berarti Semua Masalah Bisa Diselesaikan dengan Pikiran

Memahami pola pikir tetap perlu dilakukan secara realistis.

Tidak semua kegagalan terjadi karena seseorang memiliki pola pikir yang salah.

Tidak semua ketakutan hilang hanya karena seseorang berpikir positif.

Kehidupan manusia jauh lebih kompleks. Pengalaman, lingkungan, kondisi sosial, kesempatan, dan berbagai faktor lain juga berpengaruh.

Karena itu, pembahasan NLP dalam tayangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai salah satu perspektif untuk melihat pengalaman internal manusia.

Bukan jawaban tunggal untuk semua persoalan.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Bawa Pulang?

Mungkin bukan soal bagaimana menjadi orang yang tidak pernah takut.

Tetapi bagaimana memahami rasa takut sebelum membiarkannya mengambil keputusan untuk kita.

Ketika ingin belajar sesuatu, bersiaplah menjadi pemula.

Ketika ingin sukses, pahami bahwa ada proses yang harus dibayar.

Ketika gagal, jangan langsung menganggap diri tidak mampu.

Dan ketika takut, coba berhenti sebentar.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Saya benar-benar tidak mampu, atau saya hanya takut dengan kemungkinan yang belum terjadi?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung menghilangkan rasa takut.

Tetapi setidaknya bisa membuat kita lebih jujur melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Sebab, keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut.

Keberanian adalah tetap mengambil langkah setelah memahami rasa takut itu.

Dan terkadang, kesuksesan memang tidak dimulai dari langkah yang besar.

Cukup dari satu langkah kecil yang akhirnya benar-benar dilakukan dan memberikan kebermanfaatan.

.

Penulis : Muhammad Subhan

Editor    : Supriadi Buraerah

TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com
INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION

Literasi

Bilik Elipsis | InsertRakyat.com

Bilik Elipsis

Sastra, sajak, cerita, dan apresiasi karya.

Karya Pilihan

Ruang Sastra