Oleh Najwa Atthahira

DI RUANGAN hangat itu, sepuluh pasang tangan bergerak serempak. Suara tetesan lilin dan gesekan kain menciptakan irama harmonis. Sepuluh perajin memilih bertahan meski angin perubahan berhembus kencang. Di antara mereka ada ibu rumah tangga yang mencari ketenangan di sela urusan rumah tangga, ada pasangan muda asal Lambaro dan Kutacane yang dipertemukan di dalam seni ini. Awalnya sekadar kenalan kerja, lama-lama benih cinta tumbuh, menyatukan perbedaan menjadi sebuah ikatan kokoh lewat kain batik.

Langkah melambat saat pintu kayu Rumoh Batik Aceh terbuka. Udara sejuk menyapa bercampur aroma khas lilin dan warna alami yang menenangkan. Hari itu hari Sabtu, 11 April 2026. Di sini waktu berjalan santai, tak terburu detak jarum jam. Berbeda dengan batik Jawa yang padat sesak motifnya, batik Aceh justru “bernapas”. Polanya renggang, jarang, banyak ruang kosong. Bukan kebetulan, melainkan buah sejarah dan pandangan hidup yang mendalam.

Sebagai Serambi Makkah, syariat Islam melekat erat di setiap sendi kehidupan, termasuk seni. Ada kehati-hatian dalam menggambarkan makhluk bernyawa secara realistis. Maka, perajin lebih memilih ragam hias flora, geometris, atau benda mati yang diubah jadi sulur lembut, lingkaran mengalir, dan garis elegan. Ini bukan sekedar aturan, tapi cerminan jiwa: tak memenuhi segalanya hingga sempit, tak ingin tampil berlebihan hingga hilang rasa rendah diri.

Lihat motif Pinto Aceh, terinspirasi pintu rumah adat yang sengaja dibuat rendah. Orang wajib menunduk saat melintasinya, simbol nyata kerendahan hati dan kelapangan dada warganya. Begitu pula pilihan warnanya: merah menyala, kuning cerah, hijau segar, hingga merah muda lembut. Dipajang berani dan kontras, ruang kosong di antaranya justru jadi panggung agar warna itu semakin bersinar, elegan, tak sumpek. Persis karakter masyarakatnya: tampil sederhana, tak riuh, tapi punya “warna” kepribadian yang tegas dan berani di dalam dada.

Filosofi “memberi ruang” ini terasa nyata di sudut ruang kerja. Di balik meja kasir, tumpukan kain abstrak tergulung rapi, tampak siap dibawa pembeli. Namun, saat suara pertanyaan harga memecah hening, tumpukan itu mendadak hidup. Seekor musang kecil melompat lincah lalu berlari ke sudut gelap. Ia bukan pencuri, melainkan “Pengunjung Setia” yang sudah dianggap keluarga.

Di mata pak Oliya, instruktur utama di tempat ini, pemandangan itu lumrah. Pria asli Cirebon yang sudah menjaga Rumoh Batik Aceh selama 19 tahun ini hanya tersenyum tipis. Baginya, berbagi ruang dengan makhluk lain adalah harmoni. Sama seperti pola batik yang memberi napas bagi siapa saja yang melihatnya.

Rumoh Batik Aceh berdiri sederhana di kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Resmi beroperasi tahun 2007, lahir dari semangat bangkit pasca-tsunami di bawah naungan Dekranasda dalam dampingan Ibu Darliza saat itu. Bangunan kayu ini nyaris tak terlihat dari jalan raya yang ramai, seolah-olah malu menyapa dunia. Tapi begitu melangkah masuk, ketenangan langsung merasuk.

Dindingnya dihiasi kain bergantung rapi, bagai galeri seni hidup. Ada Pucok Reubong bercerita tentang pertumbuhan kokoh meski diterpa badai, ada Rencong gagah lambang keberanian dan harga diri. Semuanya tersusun renggang, memberi jeda bagi mata dari hati menikmati setiap detailnya.

Lalu, di balik meja produksi yang membentang, di sebuah rak, canting kayu itu berjejer rapi. Di sebelahnya ada malam—pewarna alami. Sementara kain setengah jadi yang sedang direndam di dalam kulah masih menyisakan jejak kasih pembuatnya. Di rumoh produksi inilah pertemuan dua dunia terjadi: teknik seni dari Jawa yang Pak Oliya bawa, dan jiwa Aceh yang perlahan merasuk sanubarinya. Jika dulu karyanya dianggap terlalu padat dan riuh, kini ia belajar mengurangi keriuhan itu, menyisakan ruang kosong agar maknanya makin dalam.

Ide menghidupkan kembali batik di tanah Aceh ini sudah ada sejak masa Gubernur Abdullah Puteh (2000-2004), dikuatkan di era Gubernur Zaini Abdullah (2012-2017), hingga tumbuh subur saat Gubernur Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah. Para pemimpin sadar, membangun Aceh tak cukup batu dan semen, tapi butuh jiwa dan identitas yang dirajut lewat budaya.

“Dulu saat masa Gubernur Zaini Abdullah, sempat ada masa keemasan batik di sini,” kenang Pak Oliya. “Saat itu, pemakaian batik diwajibkan di seluruh kantor pemerintahan, jadi seragam kebanggaan yang menyatukan hati. Itu semua berkat dorongan Ibu Ummi, Istri Pak Gubernur saat itu. Beliau mendorong setiap daerah punya ciri khas sendiri, agar identitas kita tak hilang terbawa arus.”

Dengan sedikit lemas Pak Oliya melanjutkan, “Namun, zaman terus berputar. Kini di masa kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf, fokus pemerintah bergeser menangani bencana alam yang kerap menyapa. Seni budaya pun harus berjuang sendiri agar tetap bertahan, bagai lilin kecil berusaha menyala di tengah angin malam.”

Mereka semua belajar satu hal berharga: membatik itu melatih hati. Sebagaimana kalimat andalan Pak Oliya, “Kalau tidak telaten dan sabar, ya… lebih baik pulang saja,” tuturnya. Kalimat itu bukan untuk memarahi pekerja, melainkan mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan sikap legawa terhadap setiap proses. Apalagi pewarnaan indigosol dan neptol sangat bergantung pada “Tangan Tuhan” untuk menghidupkan nyala warna pada batik. Sikap tunduk pada proses inilah yang membuat Pak Oliya dan sepuluh pembatik lainnya belajar berikhtiar sebaik mungkin, lalu menerima hasilnya dengan lapang dada.

Sayangnya, mempertahankan batik Aceh tak mudah di zaman ini. Sekilas kami mendapatkan info dari Pak Oliya bahwa produksi batik kian menurun tahun 2026 ini. “Dulu produksi capai 200 lembar sebulan, kini menyusut jadi sekitar hanya 28 potong. Pesanan menurun, ekonomi tak menentu, perhatian masyarakat beralih ke hal yang dianggap lebih “modern”. Tapi mereka tetap datang setiap pagi, mengerjakan kain seolah itu adalah doa.”

Meski begitu, tak semua orang memahami proses itu. Tak jarang, pelanggan datang dengan ekspektasi yang sempurna: warna harus sama persis, hasil harus identik. Ketika warna tak sesuai, keluhan pun muncul. Maka para pembatik tidak langsung patah semangat, mereka membuat lagi kain yang baru, sementara yang lama dimodifikasi lagi untuk dijual ke konsumen lain, “Bahkan sering pula dijadikan seragam orang dinas,” kata Nina Ulfa salah seorang pekerja batik sekaligus anak dari Pak Oliya. Di meja batik, tidak ada proses ataupun pekerjaan yang sia-sia, setiap pekerjaan diupayakan sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.

Di antara sepuluh perajin itu, ada dua sosok istimewa: istri dan putrinya. Sang istri, yang setia di balik layar selama hampir dua dekade, menjadi penopang utama. Sementara putrinya tumbuh di antara aroma lilin dan warna kain, dengan tangan paling telaten, bahkan diakui pembatik lain. Di matanya, Pak Oliya seperti melihat bayangan dirinya, dengan jiwa Aceh yang kental.

Pak Oliya bukan sekadar instruktur di Rumoh Batik Aceh, tetapi penjaga seni dan tradisi. Ia berkeliling dari Banda Aceh hingga Singkil, mengajarkan bahwa batik adalah karya tangan yang bernyawa. Belasan tahun mengabdi, ia masih tinggal di Rumoh Batik, belum memiliki rumah, namun ia tidak mengeluh. Bersamanya, sekitar sepuluh pembatik setia bertahan lebih dari satu dekade. Bahkan, dari tempat itu lahir kisah-kisah cinta. Salah satu pasangan asal Lambaro dan Kutacane yang bertemu, menikah, dan kini tetap berkarya bersama.

Dari sini kita jadi belajar. Bahwa tidak semua dari selembar batik memang untuk dijual. Musang liar si “pengunjung setia” itu tentu saja bukan, dan mungkin kesetiaan Pak Oliya serta 10 pembatik yang menjaga Rumoh Batik selama belasan tahun, juga demikian. Tidak bisa dijual. []

Najwa Atthahira. Lahir di Banda Aceh pada 29 Agustus 2008. Sejak kecil sudah menyukai seni seperti menulis diary, menggambar, mewarnai, dan menari. Ketertarikannya terhadap seni tumbuh dari keluarga, terutama karena melihat ayah sering bermain gitar dan bernyanyi bersama ibunda. Ia juga tertarik pada bahasa dan tulisan karena sering mendengar pengalaman ayah yang bekerja sebagai reporter di RRI. Saat ini, ia bersekolah di SMK Negeri 2 Banda Aceh, jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB). Baginya, seni bukan hanya bakat, tetapi juga cara untuk mengenal diri dan menyampaikan gagasan.

Penulis: Najwa Atthahira
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.