Antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” menghadirkan puisi dwi bahasa dari berbagai daerah Indonesia.

JAKARTA, INSERTRAKYAT.com — Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) meluncurkan antologi puisi dwi bahasa bertajuk “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Lantai 4, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Buku antologi tersebut menjadi bagian dari program tahunan TISI yang menghadirkan karya sastra berbasis bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Kegiatan ini diikuti pelaku sastra yang mengangkat keberagaman bahasa ibu dari sejumlah wilayah di Indonesia.

Baca Juga :  Di Sana Gunung, Di Sini Gunung, di Tengah-Tengah Ada Kopdes: Kapolda Riau, Kejati, dan Pangdam Menyatukan Denyut Kekuatan Negeri

Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Octavianus Masheka, mengatakan peluncuran buku akan dibuka dengan sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono.

“Acara sastra ini akan dibuka dengan mendengar kata sambutan dari Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dispusip Provinsi DKI Jakarta,” kata Octavianus Masheka di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Menurut Octavianus, penerbitan antologi puisi dwi bahasa merupakan kegiatan TISI dalam menjaga keberadaan bahasa ibu melalui karya sastra. Program tersebut telah dilakukan secara rutin setiap tahun.

“TISI mengadakan kegiatan merawat bahasa ibu dari beberapa daerah di seluruh Indonesia setiap tahunnya dengan menghadirkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa tersebut,” ujarnya.

Baca Juga :  Sajak-Sajak Yanuar Abdillah Setiadi

Rangkaian kegiatan juga diisi diskusi sastra yang menghadirkan pembahasan tentang bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Diskusi akan dipandu Swary Utami Dewi dengan pembicara Octavianus Masheka, Saut Poltak Tambunan, dan Eva Yenita Syam.

Acara tersebut turut menghadirkan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair dan deklamator, yakni Kurnia Effendi, Nurhayati, Hana, Indar, Boyke Sulaiman, Jose Rizal Manua, Salman Yoga S, Imam Ma’arif, dan Rissa Churia.

Baca Juga :  Puisi-Puisi Hafis Azhari

Octavianus menyebut bahasa daerah memiliki catatan dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Batak, Sunda, dan masih banyak lagi bahasa daerah di seluruh Indonesia ikut berperan pada awal Kemerdekaan RI tahun 1945 khususnya lewat komunikasi perjuangan saat itu,” ucapnya.

Melalui peluncuran antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, TISI melanjutkan kegiatan sastra yang mengangkat bahasa daerah sebagai bagian dari karya kreatif. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

 

(Miftahul Jannah).