Oleh May Wagiman
“AKU stres, Dokter.” Perempuan muda itu mengeluh sambil terisak. Butiran air mata meninggalkan jejak hitam di sepanjang pipi tirusnya. Lembar demi lembar tisu ditarik dari kotak kecil di atas meja. Gumpalan tisu, bagaikan spons cuci piring–menyerap cepat campuran air mata dan maskara.
Psikolog wanita itu mengangguk-angguk, tetapi dalam hati gemas sendiri, jangan diucek-ucek. Sekitar mata jadi hitam, tuh. Ia berusaha keras menghilangkan bayangan seekor panda menangis dari dalam kepala. “Kali ini bagaimana, Mbak?” Keluar tanggapan dari dokter.
Sang pasien merebahkan tubuh dengan hati-hati di sofa panjang. Sandaran beludu lembut mengelus punggungnya. Kedua kaki tak beralas terjulur lepas. Tangan kanan perlahan memindahkan rambut panjangnya ke sisi bahu.
Dokter, dengan buku catatan di pangkuan duduk dengan santai. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia mendengarkan dengan saksama curahan hati pasiennya. Detail sangat penting, ia selalu mengingatkan diri sendiri. Hal-hal yang berada di bawah alam sadar dalam kondisi tenang dapat mengalir bebas.
Pasiennya menarik napas sejenak. Keseluruhan tubuhnya jauh lebih relaks sekarang. Meskipun, kedua tangan masih terus berkutat dengan lembaran tisu.
“Aku selalu jadi sasaran.”
“Sasaran bagaimana, Mbak?”
“Jadi objek kritik. Sedikit-sedikit disalahkan. Dibilang bodoh.”
Psikolog itu diam menunggu.
Sang pasien menghela napas penat. Matanya yang menatap langit-langit sekarang mengamati, entah untuk yang ke berapa kalinya ruangan berpulas warna lembut. Warna yang selalu mengingatkannya dengan rona langit cerah. Perabot di dalamnya sangat minimalis. Hanya sofa panjang, meja kecil, serta kursi dokter. Pot-pot tanaman dan dua lukisan berbingkai putih terlihat bercahaya tertimpa sinar matahari yang masuk. Berbaring di dalam ruang konsultasi itu membuat kekesalan hatinya sedikit terobati.
Sekilas ia menengok ke samping, memandang diam-diam psikolog cantik yang masih sibuk mencatat. Cara dokter berpakaian simpel, tapi menarik. Bajuku seabrek, tapi seperti orang enggak punya baju. Mau ke supermarket saja perlu waktu dua jam, komentarnya dalam hati.
Gaya rambut dokter yang sekarang lebih cocok, pujinya. Dokter ini punya empati. Cara bicara ramah. Pendengar yang baik pula. Beda banget dengan psikiater aneh itu.
Pikirannya melayang pada pertemuan pertama dengan dokter Surya. Nama itu sampai sekarang masih ter-tato di pojok ingatannya. Tanpa sadar ia mendengus sendiri, menyesal memulai terapi di klinik itu. Klinik elite yang sama sekali enggak elite. Murahan. Kekesalan muncul dalam hati.
Klinik mewah itu masih terbayang jelas. Seorang perawat menyambut ramah sebelum menyodorkan daftar pertanyaan untuk memulai konsultasi. Ia menjawab semua sejujurnya tanpa ada yang ditutupi.
Namun, nada suara sang psikiater tak hanya memicu keluarnya semua koleksi kosakata sumpah serapah yang ia tahu, namun juga membuat semangatnya bak bunga layu yang nyaris mati.
“Oh, karena ini, toh,” komentar dokter Surya sambil melihat catatan di mejanya. Wajahnya seakan berkata, masa begini saja jadi trauma, Mbak. Raut wajah menyebalkan yang langsung membuat perempuan muda itu panas dingin karena gengsi. Sepuluh menit pertama di sana malah menambah kenestapaan menjadi puluhan lipat.
“Masalah seperti ini biasa ada dalam keluarga. Bukan cuma Mbak saja, lho, yang mengalami hal seperti ini. Mbak mungkin terlalu mengambil hati. Betul, begitu?”
“Atau, mungkin Mbak yang gengsi? Terlalu tinggi hati untuk dimintai tolong. Banyak, lho, yang enggak punya keluarga lagi. Meskipun keluarga tiri, ada baiknya kalau kita bersyukur.”
Perempuan muda itu menunduk. Lah, kok, jadi disalah-salahkan begini, ia menjerit dalam hati.
Psikiater pelit senyum itu akhirnya mengakhiri dengan diagnosis. “Ya, sudah, Mbak. Saya kasih obat, ya. Supaya enggak terlalu stres.” Akhirnya, sebuah senyuman tersungging di bibirnya. “Datang lagi, ya, bulan depan.”
Nyebelin. Bisa-bisanya nyuruh balik.
“Mbak.” Suara ramah membawa pikirannya kembali.
Dokter memindahkan sehelai rambut ke belakang telinganya. Potongan rambut barunya masih terasa asing di wajah, meski penampilannya tak banyak berubah, tetap sama seperti biasa. Celana panjang palazzo hitam, kemeja lengan panjang putih digulung mencapai kedua siku. Giwang emas sederhana dan kalung berliontin memberikan sentuhan manis yang tak pernah berlebihan.
“Iya, intinya kelakuan mereka jadi makin brutal. Saudara tiriku terlalu dimanja sampai jadi orang pemalas. Akhirnya, aku yang disuruh-suruh seenaknya. Mereka seperti mau mengintimidasi dan mengontrol aku, Dokter.”
“Mbak pikir, kenapa ibu dan saudara tiri bersikap seperti itu?”
Pasiennya mendengus kesal. “Mereka hanya tertarik dengan harta Ayah, Dokter. Antipati dengan aku. Terutama saudara tiriku. Dia iri. Pasti karena itu!”
Masalah pasien ini bermula sejak ayah kandungnya meninggal. Ia yakin ibu dan saudara tirinya iri hati, membuat mereka merasa sah berlaku semena-mena. Bentakan jadi menu harian, salah menjawab langsung ditegur, tak menjawab pasti disemprot.
Tak hanya itu, meskipun ada pembantu di rumah, ia yang selalu disuruh mengurus semua pekerjaan membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, berbelanja. Pembantu mereka dilarang untuk menolong. Ini yang menjadikan awal stres yang berkepanjangan.
Kondisi mental itu berjalan cukup lama, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi ke klinik. Saat ayah kandungnya masih hidup, ibu dan saudara tiri selalu bersikap sangat baik. Tak pernah sekali pun mereka berkata kasar atau menyuruhnya mengerjakan ini-itu di rumah.
“Selain iri, mereka juga serakah. Waktu tetangga kami dengan baik hati membagi hasil panen buah labu—yang, omong-omong, Dokter, ukurannya bisa bikin iri petani buah. Ibu dan saudaraku bukannya berterima kasih, eh, malah minta lebih. Pernah suatu kali, mereka yang biasanya enggak mau menyentuh pisau dapur, mendadak antusias membelah labu besar. Tahu, enggak, Dokter. Ternyata labu itu jadi sarang ulat-ulat kecil.”
“Kebayang, ‘kan, reaksi mereka? Pelajaran untuk orang tamak.” Nada suaranya ketus. Pasiennya lalu kembali memandang langit-langit.
Setelah puas dengan catatannya, dokter kemudian melirik jam tangan yang sengaja selipkannya di dalam buku.
“Baik, Mbak Bawang Putih. Terapi hari ini selesai. Sampai ketemu lagi, kalau begitu.”
Diam sesaat, psikolog itu menambahkan, “Semoga di sesi berikutnya perilaku ibu dan saudara tiri sedikit berubah.”
Bawang Putih segera beranjak ke kamar kecil untuk merapikan dandanannya. Ia melewati lorong yang membawanya menuju pintu keluar yang terpisah dengan pintu masuk.
Dari dalam ruang terapi, dokter mendengar bunyi ketukan ketika ia selesai menyiapkan buku riwayat terapi pasien berikutnya.
“Mbak Bawang Merah, Ibu, apa kabarnya hari ini?” Keramahan seketika memenuhi ruangan. Perhatian dokter langsung terarah pada Bawang Merah. Apa mbak satu ini menangis semalaman?
“Kelakuan Bawang Putih masih enggak berubah, Dokter. Masih terus mem-bully Bawang Merah,” cetus Ibu begitu mereka duduk di sofa panjang. Bawang Merah terlihat menarik lembar demi lembar tisu dari kotak kecil di atas meja. Bunyi nyaring yang keluar saat pemilik mata sembab itu membuang ingusnya terdengar bagai protes ketakadilan yang diterimanya. []
May Wagiman. Penulis cerpen, cerita anak, serta artikel. Karya tulisannya dapat ditemukan di media daring serta media cetak.
Penulis: May Wagiman
Editor: Ayu K. Ardi
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.
























































