Oleh Muhammad Subhan

SEORANG perempuan pemilik akun Threads @jecelynchandra menulis sebuah utas di laman media sosialnya: “Mau ngumpulin lulusan S1 yang sekarang ga kerja kantoran tapi jualan makanan/nguli/lainnya. Spill tampilan kalian pas kerja dong.”

Awalnya mungkin ia hanya berseloroh. Namun, kolom komentar akunnya justru banjir oleh rekam jejak para pemilik usaha muda berijazah perguruan tinggi. Lapak mereka beragam, meski usaha kuliner paling dominan muncul di permukaan.

Dari utas itu, terpapar satu kenyataan bahwa tidak semua sarjana yang absen dari gedung perkantoran serta-merta berstatus pengangguran. Sebagian sengaja melangkah keluar dari jalur formal untuk mengelola warung, menjajakan kudapan, merintis kafe, atau membangun usaha mandiri.

Salah satunya @nadhiaprili97, lulusan S1 Psikologi Binus. Ia menempa diri lewat kerja paruh waktu sebagai SPG dan call center, lalu mengantongi pengalaman magang di pelbagai tempat. Selepas wisuda, ia sempat meniti karier lebih dari lima tahun di anak perusahaan BUMN, sebelum akhirnya memantapkan hati untuk mundur demi membuka usaha wedang dan kuliner khas Sulawesi.

Ada pula @stockholmsyndromebgr, sarjana yang pernah menempuh studi keuangan di Gothenburg, Swedia. Kini, ia justru tekun menjalankan kafe dan kedai olahan khas Swedia di Bogor. Sementara pemilik akun @Warung.tutitu, magister lulusan Universitas Negeri Semarang, memilih menggelar warung makan Jawa berskala kecil di Banda Aceh.

Cerita lain datang dari @ciellumi, sarjana Humas yang pernah bekerja di perusahaan orang lain pada 2014. Memasuki 2026, ia merayakan usia kesembilan bisnis yang dibangunnya sendiri. Ilmu kehumasan dari bangku kuliah tidak menguap begitu saja, ia memakainya untuk mengasah seni berkomunikasi dengan pembeli hingga bernegosiasi dengan pengelola mal. Pendidikan, dalam kenyataan ini, tidak berhenti pada lembar kertas perburu kerja.

Pengalaman serupa dibagikan @anggahd5, lulusan S1 Sastra Inggris yang pernah bertugas sebagai content manager di perusahaan Singapura dan Belanda, namun kini mantap menjajakan dimsum meski seharga seribuan. Dia bahagia melakoni pekerjaan itu. Ada juga @antoniusardhito, alumni Perikanan dan Kelautan IPB yang bertahun-tahun melintasi industri e-commerce dan startup, kini mengelola kedai mi ayam di Malang.

Ada pula @less.of.alfa, pemegang dua gelar S1 (Hubungan Internasional UGM dan Sistem Informasi UKDW) yang merintis bisnis rice bowl demi mewujudkan mimpi sang suami. Sementara @gandheswari, sarjana Teknik Pertanian Unpad, memilih meninggalkan hiruk-piruk kota besar untuk pulang kampung dan meracik usaha dari dapur rumahnya.

Kesaksian lainnya dari para sarjana muda banyak. Cukuplah beberapa itu saja sebagai contoh.

Ragam latar belakang tersebut merobohkan prasangka lama. Selama berpuluh tahun, ukuran keberhasilan pendidikan tinggi kerap disempitkan lewat satu tolok ukur tunggal, yaitu mengenakan seragam rapi, mengalungkan kartu identitas perusahaan, melintasi pintu kaca kantor, dan menerima gaji saban akhir bulan.

Padahal, kacamata semacam itu amat dangkal.

Seseorang yang menggelar dagangan, menggarap lahan, mengelola kedai, menjadi pekerja lepas, atau merintis usaha sendiri tidak bisa distempel sebagai pengangguran. Dalam tataran konsep ketenagakerjaan, pengangguran memiliki batasan yang tegas. Menyamakan “tidak bekerja kantoran” dengan “menganggur” jelas kekeliruan berpikir. Utas media sosial tersebut menjadi cermin penting bahwa sebagian sarjana tidak sedang berbaris menanti lowongan, sebaliknya mereka memeras keringat menciptakan lapangan kerja—minimal bagi dirinya sendiri, dan tak jarang bagi orang lain.

Kendati demikian, kita tidak boleh terjebak pada romantisisme. Cerita-cerita manis wirausaha muda ini jangan sampai dipakai untuk memoles kenyataan pahit soal pengangguran terdidik yang nyata membentang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa perguruan tinggi masih tersengal-sengal menyalurkan lulusannya ke dunia kerja. Jumlah pengangguran berijazah Diploma hingga S2/S3 yang menembus angka jutaan orang menunjukkan adanya sumbatan serius pada rantai transisi dari kampus ke dunia kerja.

Bahkan, jika ditelisik lebih dalam, sebagian sarjana yang berjualan di lapangan sebenarnya berada dalam zona underemployment—bekerja di bawah kapasitas ilmu dan potensi pendapatan akibat tiadanya pilihan di sektor formal. Tidak semua orang melompat ke dunia usaha karena panggilan jiwa; banyak yang terpaksa berdagang demi menyambung hidup usai ratusan lamaran kerjanya mengendap tanpa jawaban.

Dua sudut pandang ini harus ditaruh secara jujur dan berimbang. Di satu sisi, sarjana yang merintis usaha bukanlah sosok yang gagal hanya karena tak memiliki meja kerja di perkantoran. Di sisi lain, keberhasilan sebagian sarjana berwirausaha tidak boleh dijadikan pembenaran oleh negara atau kampus untuk lepas tangan atas minimnya lapangan kerja formal.

Kewirausahaan membutuhkan modal, jejaring, daya tahan, dan rasa aman finansial keluarga. Tidak semua wisudawan berangkat dari garis start yang sama. Bagi mereka yang tak memiliki jaring pengaman ekonomi, keberanian berspekulasi membuat usaha sering kali menjadi pilihan yang teramat mahal.

Oleh sebab itu, perbaikan ekosistem harus bergerak dari dua arah. Kampus perlu merombak kurikulum agar tidak sekadar meluluskan pencari kerja bersertifikat, tapi juga membekali mahasiswa dengan kecakapan komunikasi, ketajaman finansial, daya analisis, dan pemanfaatan teknologi. Namun, di luar tembok kampus, pemerintah dan industri wajib membuka ruang kesempatan yang adil serta iklim usaha yang sehat.

Martabat seorang sarjana tidak ditentukan oleh emblem perusahaan yang tersemat di dadanya. Yang paling utama adalah apakah pengetahuan yang diserapnya mampu membentuk pribadi yang mandiri, berdaya tahan, berguna bagi sesama, serta sanggup menopang kehidupan yang layak.

Utas di Threads itu boleh jadi berawal dari kelakar media sosial. Namun, dari sana, kita diajak merenungkan kembali hakekat kerja. Ada yang berkarya di dalam gedung menjulang, ada yang mengabdi di instansi pemerintah, ada yang menekuni profesi mandiri, dan ada yang berkeringat di balik meja dagang. Semuanya adalah jalan penghidupan yang setara dan terhormat.

Yang mesti ditumbangkan bukan semangat berdikari, tapi gengsi sempit yang gemar menghakimi. Seorang sarjana yang menjual makanan tidak sedikit pun lebih rendah daripada mereka yang duduk di balik meja berkaca. Dan seorang sarjana yang masih berjuang mencari kerja membutuhkan uluran kesempatan, bukan pandangan sinis masyarakat.

Di tengah gelombang zaman yang terus bergeser, pertanyaan lama yang mulai usang ini masih sering terdengar mendengung: “Kerja di kantor mana sekarang?”

Pertanyaan yang jauh lebih bernas untuk kita ajukan hari ini adalah: “Karya apa yang sedang engkau bangun untuk memanusiakan dirimu dan orang-orang di sekitarmu?”

Dan, seorang bijak memberi jawaban lain: “Tidak terlalu penting kerja tetap, tapi yang jauh lebih penting adalah tetap bekerja, apa pun itu, sepanjang baik dan halal.” []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis