Oleh Muhammad Subhan
UNGKAPAN bahwa masyarakat Indonesia “malas membaca” telah berulang kali diulang dalam berbagai ruang diskusi pendidikan dan kebudayaan. Bahkan, tidak sedikit yang tergesa-gesa menyimpulkan rendahnya budaya baca sebagai akar tunggal ketertinggalan ilmu pengetahuan bangsa. Stigma ini kian diperparah oleh simplifikasi angka seperti klaim minat baca 0,001 persen yang sesungguhnya kerap dipersoalkan secara metodologis. Ketika logika generalisasi ini terus dijadikan pijakan evaluasi, kesimpulan yang lahir tidak hanya keliru, tapi juga mengaburkan arah kebijakan literasi nasional.
Persoalan utama literasi di Indonesia sesungguhnya bukan semata pada kemauan membaca. Masalah utamanya pada ekosistem perbukuan dan pola aktivasi koleksi yang ada. Jika diperhatikan secara objektif, masyarakat era digital hari ini sejatinya tidak berhenti membaca. Setiap hari, jutaan orang membaca pesan singkat, artikel digital, novel populer berbasis aplikasi, hingga komik elektronik di gawai mereka. Praktik tersebut adalah bentuk nyata aktivitas membaca, kendati media dan formatnya telah bergeser dari lembaran kertas cetak.
Maka, pertanyaan mendasar yang patut diajukan bukanlah “mengapa masyarakat tidak membaca?”, tapi “apakah buku cetak yang disajikan di perpustakaan dan sekolah benar-benar relevan serta diaktivasi dengan tepat?”
Ya, kata kuncinya: “sudah benar-benar relevan dan sudahkah sepenuhnya diaktivasi”?
Selama dua dekade terakhir, arus anggaran negara telah banyak dialokasikan untuk pengadaan koleksi di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, taman bacaan masyarakat, hingga pojok baca. Namun, ketersediaan fisik ini sering kali berbanding terbalik dengan pemanfaatannya. Banyak perpustakaan yang memiliki koleksi melimpah, tapi sepi pengunjung. Mengapa hal itu terjadi? Sebab, buku pada dasarnya adalah benda mati. Buku tidak memiliki daya pikat mandiri sampai ada pemustaka yang menjadikannya bagian dari ruang interaksi sosial.
Tentu, pihak yang skeptis dapat berargumen bahwa ketiadaan minat baca berakar dari ketersediaan buku yang tidak sesuai dengan kebutuhan pembaca lokal. Argumen ini tidak sepenuhnya salah. Sebagian buku masih ditulis dengan gaya bahasa akademis yang kaku, tema yang jauh dari realitas keseharian, atau penyajian yang kurang komunikatif. Namun, menyalahkan relevansi konten belaka juga membentur fakta di lapangan: tidak sedikit perpustakaan yang telah menyediakan buku-buku populer, praktis, dan kontekstual, tapi ruangan tetap saja hening tanpa dinamika.
Artinya, faktor pemicu persoalan ini berdimensi ganda. Pertama, krisis relevansi dan aksesibilitas buku mutu. Kedua—dan yang sering terabaikan—krisis penggerak yang mampu mengaktivasi buku tersebut.
Di era attention economy, buku cetak tidak sekadar bersaing dengan judul buku lain di rak. Buku bertarung secara langsung menghadapi media sosial, gim daring, dan platform streaming digital yang dirancang secara agresif menggunakan algoritma notifikasi untuk menjemput perhatian pengguna. Sebaliknya, buku di perpustakaan berada pada posisi pasif: ia hanya menunggu untuk didatangi. Dalam situasi kompetisi yang tidak seimbang ini, mengandalkan kesadaran mandiri masyarakat untuk datang dan membaca jelas merupakan strategi yang tidak realistis.
Oleh karena itu, perpustakaan tidak boleh lagi diposisikan sebatas tempat penyimpanan buku (gudang teks), dan ukuran keberhasilan tidak boleh dihitung sekadar dari jumlah eksemplar atau luas gedung. Perpustakaan harus ditransformasi menjadi “ruang interaksi hidup”. Buku perlu dipertemukan dengan pembaca melalui kegiatan yang inklusif dan partisipatif, seperti membaca nyaring (read aloud), klub diskusi buku, kelas menulis, jumpa penulis, tantangan membaca, festival literasi yang berkelanjutan, hingga ulasan kreatif di media sosial. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan terus menerus ini menguraikan buku dari sekadar tumpukan kertas menjadi sebuah pengalaman emosional yang menggembirakan.
Studi psikologi belajar menunjukkan bahwa seseorang, terutama anak-anak, jatuh cinta pada buku bukan semata-mata karena kecanggihan isinya, sebaliknya karena pengalaman sosial yang menyertainya. Anak-anak menyukai cerita ketika dibacakan secara ekspresif oleh guru atau orang tua. Orang dewasa terdorong membaca sebuah judul berkat diskusi yang hangat atau rekomendasi dari jejaring yang mereka percayai. Tanpa jembatan pengalaman emosional ini, koleksi buku terbaik sekalipun hanya akan membisu di balik rak.
Memutus stigma “malas membaca” menuntut perubahan paradigma ekosistem literasi secara menyeluruh. Budaya membaca tidak tumbuh di ruang hampa, tapi dibentuk oleh integrasi lingkungan keluarga sejak dini, pemerataan akses terhadap buku yang terjangkau, ketersediaan bahan bacaan yang kontekstual, hingga kehadiran para penggerak literasi di ruang-ruang publik.
Tanggung jawab ini tidak sewajarnya dibebankan secara sepihak kepada pembaca sebagai pihak yang sering disalahkan. Penulis dan penerbit tertantang melahirkan karya yang hidup dan membumi; pemerintah dan lembaga perpustakaan bertanggung jawab memastikan keadilan akses serta pembenahan tata kelola; sementara pendidik dan komunitas literasi berperan sebagai fasilitator yang menghidupkan ruang-ruang baca.
Indonesia sejatinya tidak sedang mengalami krisis kemauan membaca. Yang terjadi adalah krisis pengelolaan ekosistem dan aktivasi literasi. Tumpukan buku di rak perpustakaan tidak akan membawa perubahan peradaban apabila dibiarkan tertidur. Pekerjaan besar gerakan literasi hari ini adalah membangunkan buku-buku itu, lalu menjembatankannya menjadi pengalaman membaca yang relevan, berkesan, dan berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah




































