CILACAP, INSERTRAKYAT.com — Setiap pagi dan siang, puluhan anak Sekolah Dasar (SD) di Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, menempuh perjalanan berisiko saat tiba di Jembatan Cingkaring.

Anak  – anak melintasi Jembatan selebar telinga tikus berdasi (ibarat). Nyawa taruhannya, dibalik jembatan ada banyak bahaya yang mengitari. Air sungai nampak berwarna coklat susu identik dengan binatang buas.

Pemandangan menyayat hati ini memperlihatkan sejumlah anak  membungkuk, tangan menggenggam angin sambil menapaki kayu tua yang rapuh. Langkah anak dipandu dua helai kain berwarna merah putih senada dengan tagline Kabinet kebanggaan Presiden Prabowo Subianto.

BACA JUGA :  Hakim Indonesia Cermati Kebijakan Mendikdasmen soal Akses Pendidikan Anak

Untungnya, hingga saat ini tidak ada anak yang terpeleset dan jatuh.

Perjalanan ekstrem yang dilakukan sejumlah anak ternyata demi mengikuti program Makanan Gizi Gratis, ( MBG ), inisiatif pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan asupan nutrisi siswa.

Program ini acap kali menuai sorotan publik karena distribusi dan pengawasannya dimonopoli oleh afiliasi penguasa, yang menolak adanya suara atau keluhan masyarakat.

BACA JUGA :  Pemdes Tanoh Anou Salur BLT Tahap II Kepada 49 KPM, Terima Rp900 Ribu

Dan di Cilacap, khususnya, anak-anak Panikel tetap rela menempuh jalur berisiko demi mendapatkan makanan sehat [MBG] dan menimba ilmu di bangku sekolah.

Video yang memperlihatkan anak-anak menyeberangi jembatan itu dikirim oleh Masyarakat kepada Romi, jurnalis InsertRakyat.com, pada Kamis, 8 Januari 2026, dan kini mulai viral di media sosial.

Sejak Indonesia merdeka pada 1945, negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjamin hak pendidikan dan kesejahteraan anak, sebagaimana tercantum dalam UU 1945 Pasal 31. Demikian pula terkait dengan pembangunan Infrastruktur jalan dan jembatan terdapat aturan terkait.

BACA JUGA :  Menteri PU Tinjau Bendung Argoguruh, Pastikan Dukungan terhadap Swasembada Pangan

Kendati pun, program makanan gizi gratis merupakan salah satu upaya pemenuhan hak tersebut.

Namun, akses fisik ke fasilitas pendidikan dan nutrisi masih memaksa anak-anak menempuh jalur ekstrem demi memperoleh layanan dasar. (agy/rom)