Oleh: Supriadi Buraerah

ADA banyak cara manusia mendefinisikan kekayaan. Sebagian mengukurnya dari luas tanah yang dimiliki, sebagian dari angka [financial], sebagian lagi dari jabatan, pengaruh, dan posisi sosial yang berhasil diraih sepanjang hidupnya.

Di kampung-kampung, hingga kota; misalnya di teras rumah selepas magrib, percakapan tentang kehidupan hampir selalu berputar pada urusan yang sama, ialah bagaimana mencari penghidupan yang lebih baik, bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga, bagaimana menghadapi kerasnya perubahan zaman. Semua itu tentu penting. Sebab hidup memang menuntut ikhtiar.

Namun di tengah kesibukan menghitung berbagai hal, ada satu kekayaan yang nyaris tidak pernah masuk dalam pembicaraan. Ia terlalu dekat untuk disadari, terlalu biasa untuk dihargai, padahal tanpanya seluruh ukuran kekayaan menjadi kehilangan makna.

Kekayaan itu adalah napas.

AG Syaiful Karim pernah menyampaikan sebuah pandangan yang menarik untuk direnungkan. Menurutnya, napas adalah kekayaan. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru kesederhanaannya membuat kita berhenti sejenak untuk memikirkan ulang cara kita memandang hidup.

Sebab memang benar adanya, selama napas masih mengalir, manusia masih memiliki peluang untuk memperbaiki kesalahan, memperluas ilmu, mempererat persaudaraan, menafkahi keluarga, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Selama napas masih ada, kehidupan masih membuka pintunya.

Sebaliknya, ketika napas berhenti, hampir semua yang selama ini diperebutkan manusia menjadi tidak relevan lagi.

Dalam kenyataannya, manusia sering kali baru menyadari nilai sesuatu ketika sesuatu itu mulai menjauh. Kesehatan baru terasa mahal ketika sakit datang. Waktu baru terasa berharga ketika usia mulai menua. Demikian pula napas. Ia bekerja dalam diam sehingga kehadirannya sering tidak diperhatikan.

Padahal setiap hari ia menjalankan tugas yang paling mendasar dalam menjaga kehidupan tetap berlangsung.

Menariknya, banyak tradisi kesadaran di berbagai belahan dunia menjadikan “napas” sebagai titik perhatian utama. Bukan tanpa alasan. Napas adalah satu-satunya aktivitas kehidupan yang berlangsung terus-menerus dan selalu hadir bersama manusia. Ia menjadi penghubung antara tubuh, pikiran, dan kesadaran.

Mungkin karena itu pula, sebagian orang memandang napas bukan sekadar proses biologis, melainkan juga sebagai pengingat akan adanya kekuatan yang lebih besar dari diri manusia sendiri.

Dalam tradisi keagamaan, kehidupan dipahami sebagai karunia. Sesuatu yang diberikan, bukan sesuatu yang diciptakan oleh manusia. Dari sudut pandang ini, napas dapat diketahui [dirasakan] sebagai tanda paling dekat dari karunia tersebut. Ia hadir tanpa harus diminta, bekerja tanpa harus diperintah, dan terus menyertai manusia bahkan ketika seluruh kesadarannya sedang terlelap dalam tidur.

Di tengah berbagai perenungan tentang napas itu, saya pernah bertemu dengan seseorang yang menyampaikan sebuah pandangan yang cukup menarik. Ia bertanya, “Bukankah ini juga bisa disebut zikir?” Bukan zikir yang diucapkan oleh lisan, melainkan zikir yang berlangsung tanpa henti dalam tubuh manusia.

Ia kemudian mengaitkannya dengan detak jantung. Menurutnya, setiap denyut yang terus berdetak sejak manusia lahir hingga akhir hayat dapat dipandang sebagai bentuk pengingat yang tidak pernah berhenti tentang kehidupan yang sedang berlangsung. Sebuah irama yang setia bekerja siang dan malam, tanpa jeda, tanpa libur, tanpa pernah meminta penghargaan.

Tentu pandangan ini lebih merupakan renungan spiritual daripada penjelasan teologis. Namun ada sisi menarik yang layak dipikirkan. Sebab ketika seseorang sedang berzikir, sesungguhnya ia sedang mengingat Tuhan. Sementara detak jantung dan napas adalah dua hal yang terus mengingatkan manusia bahwa dirinya hidup bukan karena kuasanya sendiri.

Maka bagi sebagian orang, denyut jantung menjadi semacam bahasa sunyi yang mengajak manusia kembali menyadari asal-usul kehidupannya. Bahwa di balik setiap detakan yang terdengar dan setiap napas yang keluar masuk, ada karunia yang terus bekerja tanpa pernah kita sadari sepenuhnya.

Tidak perlu perdebatan panjang untuk memahami hal itu. Cukup memperhatikan kenyataan sederhana bahwa saat seseorang tidur, hampir seluruh aktivitasnya berhenti. Mata terpejam. Pikiran beristirahat. Tubuh tidak lagi bekerja seperti siang hari. Namun napas tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Barangkali di situlah letak pelajaran yang paling menarik. Kehidupan sering kali bertumpu pada hal-hal yang tidak kita sadari. Sementara perhatian kita justru habis pada hal-hal yang tampak di permukaan.

Karena itu, gagasan bahwa napas adalah kekayaan sesungguhnya bukan semata-mata ajakan untuk melihat proses bernapas secara fisik. Lebih dari itu, ia mengajak kita meninjau kembali apa yang selama ini kita anggap bernilai dalam hidup.

Mungkin kekayaan tidak selalu identik dengan apa yang tersimpan di dalam lemari besi. Mungkin ia juga hadir dalam bentuk kesempatan untuk bangun pagi, menyapa keluarga, bekerja dengan sehat, berjalan dengan tenang, dan menghirup udara tanpa kesulitan.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengukur segala sesuatu dengan angka, pandangan semacam ini terasa relevan untuk direnungkan. Bukan untuk menolak pentingnya harta atau keberhasilan, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada hal-hal mendasar yang menjadi fondasi dari semua itu.

Dan salah satunya adalah napas.

Sesuatu yang setiap hari menemani manusia, tetapi justru paling sering luput dari perhitungan. Sebuah kekayaan yang tidak pernah dipamerkan, tidak pernah diperdagangkan, namun menjadi syarat bagi seluruh kekayaan yang lain untuk dapat dinikmati. Bahkan, mungkin sebagaimana renungan tentang detak jantung tadi, ia juga merupakan pengingat paling sunyi bahwa kehidupan adalah karunia yang terus berdetak dan terus bernapas dalam diri manusia.

Jakarta 10 Juni 2026, Editor :Muhammad Subhan, Founder Sekolah Menulis Elipsis.