Oleh Muhammad Subhan

SAYA juga senang diongkosi kalau ada sebuah perhelatan literasi atau sastra yang mengundang, baik secara pribadi maupun terbuka. Sebagai penulis, mendapatkan apresiasi penuh atas jerih payah kreatif tentu merupakan sebuah bentuk kehormatan yang ideal.

Namun, saya juga sangat maklum kalau pada petunjuk teknis (juknis) acara secara tersurat disebutkan bahwa festival yang mereka helat hanya mampu menyediakan akomodasi dan penginapan, di luar transportasi kedatangan dan kepulangan. Bagi saya, dalam konteks keterbatasan anggaran yang sering dihadapi dunia literasi kita, komitmen menyediakan fasilitas tersebut sudah luar biasa.

Betapa tidak, misalnya selama sepekan kegiatan itu diselenggarakan, berapa besar biaya yang harus ditanggung panitia untuk konsumsi, penginapan, dan transportasi lokal. Jika sekiranya ada 300-an peserta yang diundang, plus narasumber, panitia, dan sukarelawan (volunteer) yang mereka gerakkan, anggaran penyelenggaraan yang dikeluarkan tentu tidak sedikit.

Saya tahu persis kerumitan itu karena pada 2018 dan 2022, di Kota Padang Panjang, saya turut menjadi panitia kegiatan Temu Penyair Asia Tenggara I dan II yang dihelat Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Perpustakaan setempat. Sebelumnya, saya juga terlibat sebagai panitia sejumlah festival lainnya di luar Padang Panjang.

Karena tidak mudah mencari dan mengelola anggaran—belum lagi mengurus peserta (penyair) dengan segala karakter, ego, dan latar belakangnya—saya berusaha selalu menaruh rasa maklum jika diundang atau mengikuti sebuah festival di kota lain. Sikap maklum ini bukan berarti menormalisasi minimnya penghargaan terhadap penulis, melainkan sebuah bentuk empati sesama pekerja kebudayaan yang tahu persis betapa “berdarah-darahnya” memperjuangkan dana untuk acara sastra.

Oleh sebab itu, sebelum memutuskan berangkat, saya membaca dengan teliti juknis acara seperti apa. Saya senang jika undangan melalui tahapan proses karya: mengirim naskah puisi, cerpen, esai, atau novel. Dari karya itu ada proses kurasi. Lolos kurasi menjadi tiket keberangkatan, meski terkadang harus merogoh isi saku sendiri untuk ongkos perjalanan. Namun walau begitu, entah bagaimana, ada-ada saja jalan rezekinya.

Kalau dicatat di atas kertas, kadang tidak masuk akal. Beberapa kawan saya heran. “Kok bisa?” tanya mereka. Mereka tahu, isi kantong penulis seberapalah.

BACA JUGA :  Sekolah, Jurnalistik, dan Generasi yang Kehilangan Nalar Kritis

Tapi ya, bisa-bisa saja, jika ada niat kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Selama jalannya lurus untuk menuntut ilmu, berbagi ilmu, dan menyambung silaturahmi, selalu saja ada pintu kemudahan yang terbuka. Sepanjang yang saya jalani, semua berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Ada beberapa pertemuan sastra yang mengongkosi seluruh biaya perjalanan selama saya ikuti. Misalnya, Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II di Ancol, Jakarta, pada 2017. Penyelenggaranya Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sekitar 180 sastrawan hadir dan undangan dilakukan melalui proses kurasi karya yang ketat.

Mulanya, kebijakan anggaran sempat tidak menanggung ongkos perjalanan peserta. Namun, setelah munculnya gelombang aspirasi dan diskusi kritis dari para sastrawan di ruang publik, pihak penyelenggara akhirnya melakukan penyesuaian anggaran sehingga seluruh ongkos transportasi dapat difasilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa ruang dialog antara penggerak sastra dan lembaga pemerintah sebenarnya bisa berjalan dinamis demi melahirkan solusi. Dari Munsi II saat itu, lahir sejumlah rekomendasi.

Festival lain yang mengongkosi saya adalah Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019. Kebetulan saat itu puisi saya terpilih sebagai tiga terbaik. Panitia menghubungi dan memfasilitasi tiket pesawat pergi-pulang, akomodasi, serta penginapan. Festival tersebut menjadi perhelatan yang sangat berkesan. Meski saya sudah menyiapkan payung, hujan tidak turun. Senangnya, saya dapat bersilaturahmi dengan kawan-kawan pegiat sastra dan literasi Kalimantan Selatan, salah seorangnya Hudan Nur, ngopi dan berdiskusi di bangku panjang kawasan Mingguraya, Banjarbaru.

Festival lain yang mengongkosi adalah ketika esai saya terpilih sebagai tiga terbaik pada Festival Sastra Bengkulu 2019. Festival ini digerakkan Mustafa Ismail, Willy Ana, dkk. Panitia memfasilitasi biaya keberangkatan pergi dan pulang, akomodasi, serta kebutuhan lainnya. Saya berangkat ke Bengkulu setelah menyelesaikan sebuah perjalanan jurnalistik ke Bali dan Jogja. Transit di Jakarta, lalu terbang ke Bengkulu. Dari Bengkulu, saya melakukan perjalanan darat menggunakan bus umum ke Padang Panjang.

BACA JUGA :  Membaca Ulang Tulisan Usang Sunlie Thomas Alexander

Saya juga mendapat fasilitas penuh ketika terpilih dan diundang sebagai salah satu penulis Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Dari Sumatra Barat, selain saya ada Mohammad Isa Gautama. Dalam proses kurasi dengan sekitar 913 karya masuk, saya mengirim novel, sementara Mohammad Isa Gautama mengirim puisi. Salah seorang kuratornya adalah Seno Gumira Ajidarma. Panitia UWRF memfasilitasi semuanya, dan saya mengikuti seluruh program festival internasional yang keren ini.

Pada tahun 2023, Perpusnas Press (Perpustakaan Nasional RI) menghelat festival literasi ILPN (Inkubator Literasi Pustaka Nasional) dan saya diundang menjadi narasumber dalam program Bicara Buku Perpusnas Press. Acara tersebut membahas proses kreatif kepenulisan bersama pegiat literasi lainnya, salah satunya Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Saya berangkat ke Jakarta, ke Gedung Perpusnas RI, dan selama penyelenggaraan kegiatan, seluruh akomodasi dan transportasi difasilitasi dengan sangat profesional.

Itu beberapa festival di antara sejumlah festival lain yang saya hadiri dengan dukungan penuh dari panitia.

Namun, tentu tidak sedikit pula festival yang saya ikuti secara mandiri tanpa sokongan ongkos perjalanan, karena sejak awal juknis acara memang sudah menyatakannya secara terbuka dan transparan.

Misalnya, beberapa perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau yang digerakkan penyair Kunni Masrohanti dkk. Festival Sastra Pasaman pada 2019 yang digerakkan Arbi Tanjung dkk. Saya juga hadir pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2019 yang diinisiasi sastrawan Datok Rida K. Liamsi. Saya hadir pada Pertemuan Penyair 8 Negara di Banda Aceh pada 2016 yang digerakkan penyair D. Kemalawati dkk.

Saya juga hadir di Pertemuan Penyair Pasie Karam atau Temu Penyair Nusantara di Aceh Barat pada 2016, serangkai dengan kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh Barat (PKAB) II yang digerakkan Teuku Ahmad Dadek dkk. Lalu Pertemuan Sastra Numera di Rumah Pena Kuala Lumpur pada 2012, serta Temu Sastra Indonesia–Malaysia 2015 di Bandung. Selain itu, saya juga menghadiri Kemah Seniman pada 2021 yang diinisiasi penyair (alm.) Iyut Fitra bersama Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Dan masih banyak festival lainnya yang saya datangi dengan biaya mandiri.

BACA JUGA :  Membaca Hikayat Bangun, dari Bui Menuju Cahaya Ilahi

Meski tidak diongkosi, saya tetap menaruh penghormatan setinggi-tingginya kepada panitia yang mengundang, juga kepada para kurator yang telah memilih karya saya. Bagi saya, kepastian bahwa karya lolos kurasi adalah sebuah bentuk penghargaan intelektual yang tidak bisa dinilai dengan uang. Fasilitas akomodasi dan penginapan layak yang disediakan panitia di lokasi pun sudah sangat meringankan beban perjalanan.

Ketika saya memilih berangkat secara mandiri, bukan berarti saya memiliki kelonggaran finansial yang berlebih. Sama sekali tidak. Namun, seperti yang saya katakan di atas, jika niat itu ada, selalu saja ada jalan yang membentang. Saya berulang kali merasakan “keajaiban” itu.

Bagi saya pribadi, sebuah pertemuan sastra bukan semata-mata urusan transaksional siapa membayar siapa. Yang jauh lebih esensial adalah kesempatan untuk bertemu, bertukar pikiran, memungut gagasan, mendengarkan pengalaman orang lain, dan melihat bentang dunia sastra dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak semua hal berharga dalam hidup ini dapat dikonversi ke dalam angka-angka biaya perjalanan.

Selama masih diberi kesempatan, kesehatan, dan kemampuan, baik diongkosi maupun tidak, saya akan tetap berusaha hadir pada pertemuan-pertemuan sastra atau literasi yang memberi ruang sehat bagi perkembangan karya dan gagasan.

Namun tentu saja, kita juga harus realistis dan bijak mengukur diri. Kalaupun sumber keuangan mandiri sedang tidak memungkinkan sementara niat ada, saya tidak akan memaksakan diri hingga membebani diri sendiri. Saya tidak akan sungkan menyampaikan permohonan maaf dan pesan jujur kepada panitia yang telah tulus mengundang, bahwa saya belum dapat berangkat karena keterbatasan situasi.

Dan, semua itu, saya kira dapat dikomunikasikan dengan baik. Bagaimanapun, sebuah festival dibangun atas dasar gotong royong kebudayaan, di mana rasa saling menghargai antara pengkarya dan penyelenggara adalah modal paling berharga yang tidak selalu harus diukur dengan kalkulasi untung rugi. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis