Oleh Risen Dhawuh Abdullah

DI SELA-SELA kau menyisir rambut, kau mematikan radio. Baru saja salah satu pentolan Partai Merah mengumumkan pemerintahan baru lewat Radio Gelora Pemuda. Republik Soviet Indonesia telah diresmikan. Begitu katanya. Dadamu berkecamuk, ada gelombang yang begitu dahsyat menghantam di sana. Berkali-kali, hingga membuatmu bergetar. Kau ingin segera berada di lokasi rapat pleno dewan desa.

Kau tidak lagi berpikir bahwa di jalan ada kemungkinan bertemu dengan kerusuhan yang membabi buta. Kau langsung menaiki sepeda yang terparkir di depan rumahmu. Sengaja kau tidak menggunakan sepeda motor karena kau tidak mau ada acara memanasi mesin. Sementara mobil dinasmu sedang digunakan oleh Ismijadi, kawanmu. Sudah beberapa hari ini ia meminjamnya untuk urusan pekerjaannya sebagai Kepala Polisi Magetan.

Sepeda meluncur dengan kencang menuju lokasi, di mana para anggota dewan desa yang berasal dari berbagai partai politik berkumpul. Rapat itu juga akan dihadiri beberapa wakil rakyat, dalam hal ini termasuk kau sebagai bupati. Salah satu yang akan dibahas dalam rapat tersebut mengenai tanah bengkok. Tanah yang diberikan kepada para pamong desa sebagai upah.

Beberapa hari terakhir suara mengenai tanah bengkok yang digaungkan oleh orang-orang Partai Merah semakin keras terdengar. Mereka menghendaki tanah bengkok untuk dibagi-bagikan ke rakyat. Hal itu pula yang kemudian dijadikan alasan oleh orang-orang Partai Merah membuat kerusuhan. Selama kau belum memenuhi permintaan mereka, kerusuhan akan terus berlangsung. Dan kau bersiteguh tidak menuruti.

“Partai Merah menggunakan segala cara untuk mewujudkan tujuannya, mendirikan negara Republik Soviet Indonesia,” katamu, beberapa hari yang lalu.

Di hadapanmu duduk Soeharno, orang kepercayaanmu. Beberapa bulan terakhir ia tampak semakin sibuk membantumu dalam menjalankan urusan pemerintahan.

“Benar, Pak. Segala bentuk fitnah disebarkan, segala keadaan dimanfaatkan,” responnya.

“Mungkin ini sebagai respon atas ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah pusat yang lebih memilih membentuk kabinet baru, alih-alih mempertahankan kabinet yang dipimpin oleh orang dari Partai Merah.”

“Semacam dendam begitu, Pak. Itu semua di luar kendali mereka, cita-cita mereka dijauhkan dari kenyataan, Maka yang terjadi seperti sekarang ini. Tindakan-tindakan mereka dalam rangka mendekatkan kembali.”

“Mereka semakin menggila!”

Di tengah peluh keringat yang menguasaimu, kau ingat pengumuman yang disampaikan orang Partai Merah lewat radio tadi. Pengumuman itu menyiratkan kalau Madiun sudah dikuasai oleh orang-orang Partai Merah. Mungkin sebentar lagi beberapa wilayah Magetan juga akan berada di bawah pengaruh mereka. Kau terus mengayuh sepeda, tidak ada rasa takut di benakmu. Dalam rapat nanti, kau masih tunduk kepada Pemerintahan Soekarno.

Di titik wilayah tertentu, kau sempat melihat rumah-rumah yang dibakar, jalanan yang rusak, berbagai kata-kata perjuangan yang merujuk pada cita-cita Partai Merah, hingga senjata tajam. Beberapa hari terakhir kau kian sering mendengar suara tembakan. Melihat kenyataan itu, kau merasakan berpuluh benda tajam menusuk hatimu. Tak dapat kau lukiskan menggunakan kata-kata bagaimana sakitnya. Namun, apapun yang terjadi, kau akan mempertahankan sekuat tenaga Magetan dari pengaruh Partai Merah. Meski ada sisi hatimu yang mengatakan, kalau semuanya hanya menunggu waktu.

Dengan propaganda yang begitu masif, rakyat akan mudah dipengaruhi. Ditambah kenyataan yang mendukung mereka, bahwa penduduk masih banyak yang buta huruf. Sudah pasti, keadaan penduduk yang demikian, tidaklah mungkin mempunyai kepekaan terhadap informasi yang mereka terima. Penduduk mudah sekali untuk disetir. Dan hal yang seperti ini sudah terjadi berulangkali.

Lokasi rapat, sebuah pendopo besar sudah tampak di matamu. Kau memarkirkan sepeda. Seorang lelaki berpakaian polisi menghampirimu dan mencemaskanmu.

“Mengapa Pak Bupati tidak membawa beberapa orang untuk menemani?” tanya lelaki itu.

Lelaki itu adalah Soeparman, salah seorang polisi yang menjadi bawahan Ismijadi. Kau hanya mengatakan kalau begitu terburu-buru dan tidak sempat memikirkan apa yang ditanyakan olehnya. Ketika kau hendak melangkah, kau dicegah olehnya. Sepasang mata lelaki itu dipenuhi keraguan.

“Maaf saya hendak menyampaikan sebuah kabar, Pak.”

“Kabar apa?”

“Mungkin ini menjadi kabar buruk, Pak.”

“Kabar buruk?” Kau mengernyitkan dahi.

“Saya dapat laporan dari salah seorang saksi, mobil bapak melintas di Madiun, tetapi yang mengendarai bukan Pak Ismijadi,” kata Soeparman, begitu penuh kehati-hatian.

“Madiun?”

“Itulah, saksi yang menyampaikan kepada saya juga heran. Lalu Pak Ismijadi di mana? Kalau dilihat-lihat, katanya yang mengendarai itu orang Partai Merah.”

Kau terdiam sesaat. Berusaha mencerna keterangan dari Soeparman.

“Apa mungkin Ismijadi ditangkap? Bagaimana mungkin?” tanyamu di dalam hati.

Pikiranmu menjadi tidak tenang. Jika Ismijadi benar ditangkap, tentu ini menjadi malapetaka. Jabatan Kepala Polisi Magetan mengalami kekosongan, tidak ada yang mengendalikan. Hal ini tentu akan berimbas pada semakin mudahnya, orang-orang Partai Merah melebarkan daerah kekuasannya. Saat kau memasuki pendopo, langkahmu seperti tidak meyakinkan.

Soeparman kau perintahkan untuk mencari apa yang telah terjadi pada Ismijadi, juga sekaligus mengecek kantor polisi Magetan, tempat Ismijadi berdinas. Kau sedikit menekannya, diusahakan saat kau selesai rapat pleno, informasi sudah dikantongi. Kau tidak peduli, bahwa apa yang kau perintahkan itu sesuatu yang sulit sebab keadaan.

*

“Kami sudah berjanji kepada rakyat,” kata salah seorang perwakilan Partai Merah.

“Rakyat yang mana?” tanyamu dengan sedikit emosi.

“Rakyat, ya rakyat. Semuanya!”

Ucapan perwakilan Partai Merah itu terdengar gelagapan. Kau tentu tahu yang dimaksud rakyat olehnya, tidak lain para pengikut Partai Merah. Itu menjadi tambah tidak mungkin, kau merealisasikan keinginan dari Partai Merah, membagikan tanah bengkok kepada rakyat. Bagaimana mungkin, rakyat diberi tanah bengkok? Nalarmu tidak dapat mencerna pemikiran itu, bukankah potensi saling merasa memiliki akan ada?

Para hadirin, kecuali dari kubu Partai Merah menyetujui jika tanah bengkok hanya diberikan kepada pamong desa sebagai upah. Rakyat tidak boleh mengganggu, mengelolanya. Dengan keputusan yang baru saja ditetapkan, kau siap dengan segala risikonya. Dalam hal ini kau tidak bermaksud mengorbankan rakyat—kerusuhan akan terjadi. Hal itu justru kau yakini sebagai bentuk ketundukan pada pemerintah pusat. Tentunya dalam skala panjang, tidak lain sebagai usaha untuk menindas Partai Merah.

Kau memerintah segenap aparat untuk bersiap diri bila sewaktu-waktu terjadi kerusuhan. Rakyat pun tidak lupa kau perintahkan untuk siap siaga, bahkan kau beri semangat perlawanan melalui narasi-narasi yang kau produksi. Sebagai wilayah yang berdekatan dengan Madiun, potensi untuk dikuasai oleh Partai Merah akan selalu ada. Hari ini kau bertemu dengan Soeharno. Kau berencana meminta bantuan kepadanya untuk mengantarkan surat ke Madiun, ditujukan kepada resimen yang ada di sana.

“Saya akan mengajak rekan saya, Soewarno untuk menemani,” kata Soeharno.

“Saya juga berpikir begitu. Yang terpenting jangan banyak-banyak, jangan mengundang perhatian,” katamu.

“Sebaiknya kau berangkat besok, sebelum subuh,” perintahmu.

Kau sudah menjelaskan padanya, isi surat yang sekarang dibawanya. Soeharno menjanjikan padamu bahwa surat itu akan tiba di resimen. Keputusan ini sudah kau timbang matang-matang. Dengan beberapa orang penting berhasil ditangkap oleh Partai Merah, termasuk Kepala Polisi, kau menyadari kekuatan menjadi berkurang. Surat itu dalam rangka menambal kekurangan, kau meminta bantuan kepada resimen yang ada di Madiun.

Jika sampai dua hari lamanya tidak kabar—sembari berharap keadaan Magetan baik-baik saja—kau berencana untuk turun tangan, berangkat sendiri—bisa saja misalnya Soeharno dan rekannya ditangkap. Pikiran itu muncul beberapa jam setelah kepergian Soeharno. Sebagai pemimpin, kau pikir juga tidak ada salahnya terjun langsung ke lapangan. Meski sejatinya itu juga membahayakan. Tetapi, bukankah dalam keadaan seperti saat ini, berdiam diri pun tak membuat ancaman menjauh?

Kau merasa, saat ini segalanya berkejar-kejaran dengan waktu. Serba genting. Jiwa hampir tidak bisa dilepas dari rasa was-was. Siapa yang tahu dan bisa memastikan bahwa esok hari masih bernyawa? Segalanya suram. Penuh ketidakpastian.

Tetapi kau merasa, ketidakpastian itu kian lama kian terasa menjadi pasti. Apalagi kabar yang kau tunggu dari Soeharno dan rekannya tidak kunjung sampai padamu. Ya, kepastian yang terasa mencekam. Kematian.

Kau mungkin akan segera menjemputnya. []

Pleret, Oktober-November 2025

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Penulis: Risen Dhawuh Abdullah
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah Ruang Sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Terbaru

Magetan, 1948

Bilik Elipsis
15 detik yang lalu

Gedung Tua

Bilik Elipsis
24 menit yang lalu

Sajak-Sajak Ahmad Maliki Mashar

Bilik Elipsis
33 menit yang lalu

Puisi-Puisi Hafis Azhari

Bilik Elipsis
2 jam yang lalu

Puisi-Puisi Azmi ‘Ulya

Bilik Elipsis
3 jam yang lalu

News